
Happy reading yess..
Maaf telat up, sedang tidak badan jadi mohon maaf ya semua.
Oke mari kita lanjutkan.
*****® Hari berganti, kini Devan dan Naya sedang menanti hadirnya malaikat kecil di tengah keluarga mereka. Malaikat yang sudah sangat di nanti oleh semuanya.
Sang buah hati, yang sejak di perut sang bunda sudah banyak maunya dan tergolong aneh aneh. Namun hal itu tidak membuat sang ayah marah ataupun enggan menuruti nya. Ayahnya dengan perasaan ikhlas selalu menghadirkan apa yang di inginkan oleh si calon anak mereka.
Betapa besarnya cinta seorang Devan untuk istri nya Naya. Tanpa kenal lelah ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istri dan calon anak mereka.
Kini penantian itu akan segera mereka lihat. Hanya tinggal menghitung setiap menit yang berganti. Melewati semua bersama seperti saat ini.
"Kamu sedang apa sayang? " tanya Devan saat melihat istri nya duduk dia di bangku taman belakang rumah mereka.
"Aku sedang menikmati waktu senja mas, sejuk dan juga hangat. " jawab Naya dengan seulas senyum di bibir nya.
"Apa kabar dia sayang? apa dia sudah ada tanda tanda mau bertemu dengan kita? " Devan bertanya dengan mengusap lembut perut Naya.
"Hem seperti nya iya mas, karena sebenarnya sejak tadi perut ku terasa mulas namun belum sering, " Naya menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak bilang sayang? apa ada yang sakit? bagian mana yang sakit? aku harus bagaimana? " Devan malah mulai panik dan mengajukan banyak pertanyaan yang bikin Naya gemas.
"Mas, kalem mas. Aku yang mau lahiran lho ini, kok malah mas yang panik gitu. Kata bunda kita gak boleh panik, lagi pula durasinya belum sering, masih jeda agak lama, jadi tidak usah panik gitu. " Naya menerangkan agar sang suami tidak heboh dan panik.
"Kenapa kamu bisa setenang ini sayang? kamu benar benar hebat. " puji Devan, dia teramat kagum dengan istrinya.
"Aku sudah sering di beri tahu oleh bunda dan ibu mas, jadi mas jangan panik ya. Kalo mas panik nanti siapa yang akan memenangkan aku? " Naya masih berusaha membuat suaminya lebih rileks.
Sejenak Devan tertegun dengan ucapan sang istri. Betapa malunya dirinya, karena dia malah lebih heboh dan panik, sedangkan istri nya terlihat lebih tenang dan santai. Devan sadar seharusnya dia lebih tenang dan kuat demi sang istri dan buah hati mereka.
"Kok malah melamun mas sekarang? " Naya menyadarkan sang suami yang terlihat diam saja dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Ah maaf sayang, aku hanya merasa jadi laki laki bodoh saja. Benar yang kamu bilang harus nya aku bisa lebih santai dan tenang, agar kamu juga lebih tenang, ini malah aku heboh dan panik, maaf ya sayang, " sesal Devan dengan sikapnya.
"Tak apa mas, ini kan pengalaman pertama kita. Aku maklum sama reaksi mas-, " belum sempat Naya melanjutkan kata katanya kini terdengar desisan pelan dari bibirnya. "Sssttt, uuhh, " Naya mendesis dan coba mengatur nafas.
"Apa terasa lagi sayang?, sudah mulai sering kah? " tanya Devan lebih hati hati dan sedikit mulai bisa menguasai diri, meski dalam hatinya dia sangat gugup.
"Lumayan mas, lebih baik sekarang mas telfon bunda saja. Oh iya kita ambil perlengkapan yang sudah aku kemas,bantu Naya ke kamar ya mas. " pinta Naya dengan masih menahan rasa sakit di perutnya akibat kontraksi.
"Iya sayang, mas gendong saja ya? " tawar Devan tidak tega melihat kesakitan istrinya.
"Tidak mas, dengan berjalan pelan pelan juga akan lebih cepat membuka jalan lahir, " jelas Naya yang sudah mendapatkan banyak ilmu dari bunda, ibu, dan juga Tia sang kakak.
"Baiklah, mas tutun dengan pelan, kalo tidak kuat bilang ya yank, " Devan dengan hati hati menuntun Naya, dan memeluk pinggang nya. Sejujurnya Devan sangat takut dan kasihan melihat itu semua.
"Iya mas. " Naya hanya bisa menjawab sekenanya.
Setelah semua siap, Devan sudah bersiap akan membawa Naya ke rumah sakit. Tapi di depan rumah ternyata sang ayah dan bunda sudah bersiap terlebih dahulu.
"Baik yah, " jawab Devan dan Naya secara bersama sama.
Sedangkan bunda hanya tersenyum menenangkan. Mengusap pelan perut Naya sembari membacakan doa agar di beri kemudahan dan keselamatan saat proses persalinan anaknya.
Tanpa banyak ucap, bunda memberikan dukungan lewat usapan lembut di perut dan di kepala Naya. Dan Naya merasa sangat nyaman dengan semua perlakuan bunda. Sedangkan Devan memilih untuk mengusap tangan Naya. Sesekali Devan merasakan remasan kuat dari Naya saat kontraksi itu datang lagi.
"Bersabarlah sayang, kita sudah sampai, " Devan berusaha tenang dan memenangkan Naya.
"I I ya mas, " jawab Naya dengan terbata karena kini kontraksi itu sudah sangat sering.
Begitu sampai Naya langsung di bawa masuk ke ruang persalinan yang memang sudah di persiapkan sejak tadi , setelah ayah menelfon pihak rumah sakit.
Dokter yang memeriksa kondisi Naya mengatakan jika pembukaan sudah hampir sempurna, hanya menunggu sebentar lagi.
"Kamu pasti bisa sayang, bunda dan ayah ada di sini bersama kalian. Ingat untuk terus berdoa dan menyebut nama Allah dalam hati mu, berdo'a agar semua berjalan lancar dan pasrahkan semua kepada sang pemberi kehidupan. Doa bunda dan ayah selalu bersamamu. " nasehat sang bunda sebelum dia keluar dari ruang persalinan.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa, anak ayah pasti hebat. " sang ayah memberi semangat.
Dan kini hanya tinggal Devan, Naya, dokter dan perawat yang bertugas. Setelah pembukaan sempurna dokter mulai mengarahkan.
Naya mengikuti semua arahan dari dokter dan dalam waktu tiga puluh menit seorang bayi laki laki tampan telah lahir ke dunia tanpa kurang suatu apapun.
Bayi dengan hidung mancung, alis tebal, bibir tipis dan mata yang indah itu kini sudah berada dalam dekapan sang bunda. Merasakan detak jantung seirama dari wanita yang telah melahirkan nya. Devan memandang haru itu semua, air mata bahagia tak henti hentinya mengalir deras dari matanya.
Kini giliran dirinya yang akan berkenalan dengan sang putra. Dengan suara merdunya Devan memberikan adzan dan juga iqomah bagi bagi putranya. Melafalkan doa agar kelak sang putra dapat menjadi putra yang sholeh dan baik hati.
Setelah proses yang luar biasa itu, kini Naya sudah berada di kamar super mewah. Kamar yang sudah di siapkan oleh sang ayah. Semua keluarga menyambut penuh suka cita
Bayi tampan dengan berat 3,5 kg itu menjadi piala bergilir bagi seluruh anggota keluarga.
"Namanya siapa kak? " tanya Al yang biasanya diam saja kini terlihat sangat senang. Ia bahkan berani menggendong sang keponakan.
"Ah iya kita malah asik berebut tanpa tau namanya dulu, " jawab opa yusuf ayah dari Tia.
"Namanya * LANGIT WIGUNA ANGKASA* bagaimana? " tanya Devan dengan senyum berkembang.
"Bagus, nama yang sangat bagus. Perpaduan nama ayah yang ada di tengah dan nama besar keluarga yang ada di belakang. Semoga kelak kau akan menjadi orang hebat dan mempunyai cita cita yang tinggi dan luas seperti langit. " pujian dan doa dari opa Ivan.
" Benar nama yang sangat bagus dan indah, " oma Mila menyetujui.
Dan akhirnya di sambut antusias oleh semuanya. Mereka masih saja berebut tak ingin mengalah.
******®
Eits bukan end lho ya. Masih ada banyak kok hehehehe.
Oke semangat selalu dan jaga kesehatan ya.
Salam sehat dan salam sayang semua. ☺🙏
__ADS_1