Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
124. Langit Murka


__ADS_3

Happy reading yess...


****®


Riyan dengan kasar menyeret Bulan memasuki sebuah kamar, yang entah rumah siapa. Bulan begitu ketakutan, dalam hatinya dia terus berdoa, semoga masih selamat. Sedangkan Riyan, dia sedang tertawa melihat wajah ketakutan Bulan.


"Kenapa sayang, kenapa harus takut? bukankah kita sudah lama kenal?" Riyan berkata dengan wajah dingin.


"Lepas, kamu kenapa bisa seperti ini!" Bulan berusaha, untuk menyadarkan Riyan.


"Hahaha, ini semua gara gara keluarga mu yang sok kayak itu!" murka Riyan, saat Bulan bertanya demikian.


"Bukan sok kaya, kami hanya mempertahankan apa yang kami punya!" jawab Bulan dengan lantang.


"Terserah, sekarang mending kamu segera tanda tangan saja,ah tapi tidak tidak, lebih baik kita main main dulu sayang," ucap Riyan, dengan seringai yang begitu menakutkan.


"Tidak, ku mohon, jangan," mohon Bulan, saat Riyan terus saja maju dan berusaha menyentuh dirinya.


"Aku mau lihat, seperti apa tubuh mu, ah pasti indah. Mari sayang, kita nikmati hari ini." Riyan, terus saja maju hingga Bulan tidak bisa Kana mana lagi karena sudah tersudut.


"Jangan, ku mohon," lirih Bulan, menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Hahaha, aku mau tau, apa kekasih mu yang sombong itu, masih bisa menerima mu yang sudah bekas ku," tawa jahat menggema di ruangan itu.


"Tidak, tidak," lagi lagi Bulan, semakin ketakutan.


"Diam! dasar cewek sialan!" maki Riyan, dan langsung menarik tangan Bulan, kemudian dia ikat kedua tangan Bulan di belakang, menggunakan dasinya.


"Nikmati hari ini sayang," Riyan mulai menggila.


Dia lempar tubuh Bulan di kasur, dengan tanpa perasaan, Riyan menarik kasar baju Bulan, sehingga kini tubuh bagian atas sudah terlihat, hanya menyisakan penutup gunung kembar nya saja.


"Wah, kamu begitu indah sayang," suara Riyan semakin berat, dengan tatapan penuh nafsu.


"Jangan, jangan," Bulan, hanya bisa menangis pilu, baru kali ini tubuhnya di lihat oleh orang lain.


"Diam, jika tidak ingin mulutmu aku tutup!" bentak Riyan.


Dengan wajah penuh emosi dan gairah, Riyan,mulai bersiap menjamah tubuh Bulan. Di mengungkung Bulan yang kini sudah basah akan air mata. Riyan dengan gila menciumi baju telanjang Bulan dan terus turun, hingga kini mulut kotor itu, mulai menjamah bagian dada yang masih berpenutup.


Sedangkan Bulan, hanya bisa menangis sambil terus berdoa, jika bisa memilih, dia lebih baik mati daripada di lecehkan seperti ini. Sedangkan Riyan, terus saja berusaha menikmati tubuh Bulan.


"Ah, kau memang indah, kenapa tidak dari dulu saja aku menikmati ini!" Riyan, kini berusaha untuk melepaskan penutup dadanya Bulan, tapi belum sempat melakukan tiba tiba.


Brak!


Dor


"Akh!" jerit Riyan, yang tangannya sudah tertembak.


Dengan kilat amarah, Langit, segera menyeret Riyan dan memukulnya dengan membabi buta. Bahkan tangan yang tadi tertembak juga tak luput dari amukan Langit, ya Langit, akhirnya bisa datang dan menemukan Bulan, meski sedikit terlambat. Di saat Langit masih di selimuti amarah, dia terus menghajar Riyan, tapi ucapan Awan, menyadarkan nya.

__ADS_1


"Lepas kan dia, biarkan aku yang mengurus nya, kau bawa Bulan pergi," Awan mengingatkan Langit.


Langit yang mendengar nya langsung melihat kearah Bulan, dia begitu hancur melihat sang kekasih dalam keadaan seperti itu, bahkan ada beberapa tanda merah di area leher dan dadanya.


Dengan segera, Langit melepaskan jas nya dan langsung membungkus badan Bulan. Dia rengkuh tubuh yang tak berdaya itu, tak lupa melepaskan ikatan di tangan Bulan.


"Abang," lirih Bulan, dengan tangisnya yang setelahnya dia tak sadarkan diri.


"Lan, hai, bangun sayang, bangun," Langit, berusaha menyadarkan Bulan.


"Segera bawa dia ke rumah sakit," perintah Awan, saat dia melihat Langit, yang seperti orang linglung.


"Bawa dia ketempat biasa, ingat jangan sentuh dia sampai aku datang!" peringat Langit, sebelum dia membopong tubuh sang kekasih.


"Ku mohon, bertahan lah," Langit, terus saja bergumam.


Di tengah kepanikan, Langit mengemudi kan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang dia pikirkan hanya kondisi Bulan saja. Setelah sampai, Langit langsung saja berteriak agar segera ditangani.


"Silahkan tunggu di luar pak," perintah dokter yang menangani Bulan.


Langit hanya bisa menurut, dan dia terduduk lemas dengan air mata yang mengalir deras. Ada rasa sesak di hatinya, jika saja dia bisa memaksa Bulan hari ini.


Setelah dilakukan perawatan, Bulan sudah di pindahkan ke kamar inapnya. Di sana, Langit, hanya bisa menggenggam tangan Bulan. Dia terus pandangi wajah pucat di depannya itu. Beribu maaf, terus terlontar dari bibir Langit, seakan tak ada lelahnya.


"Maaf sayang, maaf, aku memang bodoh, aku tidak bisa menjaga mu, tolong maafkan aku, kamu boleh menghukum ku setelah ini, tapi aku mohon, jadilah Bulan ku lagi seperti sedia kala." Langit, membisikkan kata kata itu di telinga Bulan.


"Bangun sayang, ku mohon bangun, aku sangat mencintaimu, bangun ya," Langit terus saja membujuk Bulan.


"Bang," panggil Bunda dengan lembut, saat melihat betapa kacaunya anak laki-lakinya.


"Bunda," dengan segera, Langit memeluk bunda Naya dan menangis pilu di pelukan sang bunda.


"Sudah, kamu tidak boleh cengeng, ingat, Bulan lebih membutuhkan kamu sekarang, ayo semangati dia, agar segera bangun." nasehat sang bunda.


"Jagoan ayah, masak cengeng, mana Langit nya Angkasa!" ayah berusaha memberikan semangat.


"Ya, aku seorang Langit Angkasa, tidak boleh seperti ini!" Langit, kini bersiap pamit sebentar saja.


"Jangan lama lama, ingat, jangan sampai dia meninggal!" peringat sang ayah, yang paham Langit akan kemana.


"Hem!" jawab Langit, dengan tatapan yang mengerikan.


Langit, bergegas pergi ketempat dimana dia meluapkan segala amarah nya. Di sana, semua tidak akan ada yang berani mencegah Langit. Bahkan Awan, sekalipun,tidak akan bisa menghentikan kemurkaan Langit.


"Dimana dia!" tanya Langit yang sudah menggila.


"Di ruangan biasanya bos!" jawab salah satu dari mereka.


Brak!


Langit, menendang pintu yang di dalamnya ada Riyan. Dia bahkan tanpa basa basi langsung maju ke depan Riyan dan

__ADS_1


Bug, Langit, memukul Riyan tanpa ampun, tangan yang tadi tertembak dan sudah dia pukul, kini dia injak dengan keras.


"Sakit!" jerit Riyan.


"Apa kamu bilang? sakit? apakah tadi sebelum tangan kotor mu menyentuh Bulan, berpikir akan seperti ini?" Langit, berusaha menambah sakit itu dengan menyiram air panas.


"Akh, ampun!" teriak Riyan.


"Apa kamu bilang? ampun? apa tadi saat Bulan minta ampun, kau berhenti?" tanya Langit lagi.


"Sakit," ringis Riyan, dia sudah tidak sanggup berkata-kata.


"Ini masih belum seberapa, lihatlah neraka mu setelah ini!" bentak Langit dengan tatapan membunuh.


"Sam!" teriak Langit.


Sam, yang paham langsung saja maju, dan memberikan sebuah alat yang di yakini adalah setrum berdaya kecil. Langit, dengan segera mendekatkan alat tersebut, hingga Riyan hanya bisa berteriak kencang memohon ampun. Langit masih saja melakukan hal itu, hingga lagi lagi ucapan Awan menghentikan nya.


"Berhenti Lang, Bulan sedang histeris sekarang!" Awan harus sedikit membentak Langit, untuk menyadarkan nya.


Mendengar ucapan Awan, seketika Langit terdiam. Dia dengan segera pergi kerumah sakit, Langit, takut Bulan, akan melakukan hal lain.


"Ingat, jangan berhenti sampai jam berikutnya di mana jam yang sama dia berbuat itu kepada Bulan!" perintah Langit kepada anak buahnya.


"Baik bos!" jawab mereka kompak.


"Setelah itu, bawa dia buang dia ke pelosok dan pastikan dia tidak bisa pergi kemana mana!" lanjut Langit.


"Siap bos!" jawab Sam, tegas.


Akhirnya, Langit segera melaju ke rumah sakit, dengan Awan yang menyetir. Selama perjalanan Langit, berusaha menurunkan emosinya, dia juga telah berganti baju agar lebih fresh. Setelah sampai, Langit, segera berlari menuju ruang Bulan.


"Bulan, sayang, hai," ucap Langit, begitu dia masuk ke kamar rawat Bulan. Dia begitu terluka saat melihat sang kekasih begitu ketakutan dan histeris.


"Pergi aku mohon, pergi, aku kotor, pergi!" teriak Bulan.


"Tidak, dengar, kamu masih Bulan ku," Langit, berusaha pelan untuk maju dan grep. Langit, langsung memeluk Bulan erat, meski Bulan terus saja memberontak, bahkan Langit bisa merasakan tubuh Bulan bergetar.


"Ini aku sayang, kamu aman, tenanglah," ucap Langit dengan nada bergetar menahan tangis.


"Abang, aku aku," Bulan hanya bisa berucap itu saja karena setelahnya dia kembali pingsan akibat obat yang di suntikan oleh dokter.


"Maaf sayang, maaf," lagi lagi hanya itu yang bisa Langit ucapkan di sela sela Isak tangisnya.


*****®


Ah, ini khilaf kayaknya,, hahahaha sampai 1000k lebih 😂😂.


Mba Bulan, yang sabar ya .


Ah, malas sedih gini lihat mba Bulan.

__ADS_1


__ADS_2