
Happy reading yess...
****®
Setelah bulan madu yang begitu membahagiakan, kini usia pernikahan Langit dan Bukan sudah memasuki bulan ke dua. Pasangan yang masih dalam nuansa pengantin baru itu terlihat sangat bahagia, bahkan sekarang Langit, terlihat sangat manja dan lengket kepada Bulan.
"Udah donk bang, ini udah siang lho, kamu gak kerja emang?" Bulan, dia sedikit risih dengan kelakuan suaminya itu.
"Rasanya males yang, pengen gini aja. Kepalaku rada pusing soalnya," jawab Langit, yang memang apa adanya.
"Lho, kenapa?" Bulan, langsung saja cemas dan panik.
"Hanya pusing sedikit yang, buat tiduran juga nanti sembuh," Langit, berusaha menghindar sang istri yang memang terlihat khawatir.
"Aku buatkan teh jahe mau? nanti biar rada hangat ya," bujuk Bulan.
"Kamu di sini saja, temani aku," bukanya mengiyakan, Langit malah semakin manja.
Bulan, hanya bisa menghembuskan nafasnya, akhirnya dia memilih untuk menuruti permintaan sang suami,meski begitu Bulan, tetap saja meminta tolong kepada bibi untuk membuat kan teh jahe hangat dan sup ayam kesukaan Langit.
Setelah menunggu beberapa menit, teh jahe nya sudah siap, dengan telaten Bulan, membujuk Langit agar mau meminum teh itu. Dan akhirnya teh jahe berhasil di minum Langit hingga habis setengah.
Dengan sayang, Bulan usap rambut sang suami yang sedang tidur dengan memeluk dirinya. Pelan tapi pasti, Bulan mendengar deru nafas yang teratur dari Langit, pertanda jika suaminya sudah tidur. Pelan pelan, Bulan turun dari kasur dan berniat ke kamar mandi. Sejujurnya sudah sejak tadi dia ingin buang air kecil.
Saat tak sengaja pandangannya melihat kalender yang berada di nakas, Bulan terpaku dengan pikirannya. Perasaannya tiba tiba saja bahagia tanpa di komando.
"Benarkah kamu sudah ada di dalam sana nak?jika benar maka, kita beri kejutan untuk ayahmu ya," batin Bulan dengan harapan yang besar.
Dengan semangat, Bulan segera ke kamar mandi, untung saja, sejak pulang dari bulan madu, Bulan, sudah membeli beberapa produk tespek dan sudah dia simpan di tempat yang begitu aman.
__ADS_1
Bulan, masuk kamar mandi, pelan tapi pasti dia mulai mengecek akan pemikiran dia beberapa saat yang lalu, setelah menunggu dengan harap harap cemas, bahkan hingga Bulan menutup matanya sebentar, guna menetralkan degup jantung dan hasilnya, hampir saja membuat dirinya menjerit histeris.
Dua garis, di dua tespek yang dia gunakan, benar benar akurat, jika begini. Setelah berhasil menguasai rasa yang membumbung karena saking bahagianya, kini Bulan sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memberi tahu sang suami agar menjadi kejutan yang luar biasa.
Berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi, Bulan masih saja belum menemukan cara, yang ada dia hanya mengelus elus perutnya yang masih rata.
"Baiklah, saatnya kita beri kejutan buat ayahmu ya nak, semoga dia sama antusiasnya dengan bunda, saat mengetahui kehadiran mu." ucap Bulan, dengan senyuman mengembang, tak ketinggalan tangannya masih setia mengelus perutnya yang masih rata.
Saat jam sarapan yang terlewat karena Langit yang berkata sedikit pusing, kini bibi sudah mengantarkan sup ayam dan sambal terasi pesanan Bulan ke kamar.
Dengan perlahan, Bulan membangunkan sang suami. Dia bahkan menghadiahi Langit dengan kecupan bertubi tubi.
"Bangun sayang, ada hadis buat kamu kalo mau segera bangun dan sarapan," bujuk Bulan dengan menciumi pipi Langit.
Langit yang merasa terganggu, akhirnya menggeliat dengan pelan, dan dia malah menarik sang istri untuk dia peluk.
"Maaf sayang," dengan segera Langit, membuka mata, saat mendengar sang istri terlambat sarapan karena dirinya.
"Makanya ayo segera sarapan," Bulan yang langsung berjalan ke arah sofa yang ada di kamar mereka. Sedangkan Langit, langsung ngacir ke kamar mandi untuk membasuh wajah.
Mereka makan dengan hening, karena memang sudah menjadi ketentuan keluarga Angkasa. Setelah selesai, kini giliran Bulan yang ber manja dengan sang suami. Bulan bahkan tidak malu lagi saat dia berpindah duduk di pangkuan Langit.
"Sudah tidak pusing lagi kan?" tanya Bulan dengan raut yang cemas.
"Sudah gak sayang," jawab Langit dengan senyuman tampannya.
"Lalu, ini kenapa tumben istri ku seperti ini, ada apa hem?" tanya Langit yang sedikit heran dengan tingkah sang istri.
"Apa gak boleh? manja sama suami?" Bulan malah kini sudah manyun.
__ADS_1
"Boleh sayang, boleh banget, seneng malahan," jawab Langit, yang kini sudah memeluk erat Bulan.
"Jangan erat erat, kasihan dia ayah," bisik Bulan sambil melonggarkan lilitan tangan sang suami yang ada di perutnya.
Sedangkan Langit, dia membeku mendengar ucapan Bulan barusan, dia masih berusaha mencerna arti dari ucapan sang istri.Dan Bulan, dia malah cekikikan melihat ekspresi bingung suaminya.
"Maksudnya apa sih yang?" akhirnya Langit memilih bertanya.
"Lihatlah," Bulan, mengambil benda pipih yang sejak tadi dia simpan di saku bajunya.
Lagi lagi, Langit, terpaku. Dia benar-benar tidak menyangka akan apa yang dia lihat di depan matanya. Hingga Langit, berkedip berulang kali guna menyadarkan dirinya.
"Ini, ini beneran yang?" tanya Langit tergagap. Sedangkan Bulan, hanya menjawab dengan anggukan kepala yang mantap.
Dan
Langit langsung menangis haru, dia bahkan langsung mencium seluruh wajah dari Bulan, begitu juga beralih kepada perut sang istri. Dia usap,dan cium berulang kali
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah hadir dalam hidup kami, terimakasih telah menyempurnakan keluarga kecil kami, terimakasih sayang terimakasih, baik baik di sana ya nak," ucap Langit di sela sela Isak tangisnya.
Dan pagi itu menjadi kabar gembira untuk seluruh keluarga besar Angkasa dan orang tua Bulan juga. Mereka langsung saja berbondong-bondong untuk datang ke rumah Langit dan Bulan. Tak ketinggalan kedua adik kembar dari Langit.
*****®
Hay semua maaf lama,, puasa otak ngeleg 😅 gak mau di ajak ngehalu.
Marhaban ya Ramadhan,
Untuk semua teman teman online terbaik ku, pembaca setia ku, kalian luar biasa 🥰😘
__ADS_1