Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
117. Kenyataan


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


Sesaat mereka sudah sampai di restoran tempat melakukan meeting. Semua berjalan lancar seperti biasanya. Langit, memang sudah terlatih, darah Angkasa mengalir di dirinya, sehingga dia begitu mudah memenangkan setiap kerja sama yang ada.


Setelah meeting selesai, Langit dan Bulan, masih berada di sana untuk melanjutkan makan siang mereka. Keduanya makan dengan tenang, hingga suara yang Bulan dengar, membuat nya diam bak patung. Awalnya dia senang, mendengar suara sang kekasih, tapi setelah mendengar suara lain, maka ia enggan untuk berbalik badan.


Bulan, akhirnya memilih diam mendengarkan, bak di sambar petir di siang bolong, ucapan demi ucapan yang keluar dari orang yang ada di belakangnya, membuat dunianya hancur. Dalam diam, Bulan mengepal tangannya, begitu juga dengan Langit, meski dia sudah tau tapi rasanya tetap menyakitkan, mendengar gadis yang dia suka, di manfaatkan saja.


"Kamu kapan, putus dari dia sih mas," ucap sang wanita dengan manja.


"Sabar sayang, selangkah lagi, aku akan mendapatkan apa yang aku mau," jawab sang laki laki dengan tanpa dosa.


"Memang apa yang kamu mau sih mas, aku udah kasih semua nya lho, bahkan hubungan kita udah lebih dari sekedar bersama," ucap lagi sang wanita dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aku ingin mendapatkan sertifikat rumah nya sayang, kamu tau, ada klien yang begitu suka dengan daerah yang di tempati oleh dia, dan hanya tinggal rumah dia yang belum mau melepaskan," sang laki laki akhirnya menjelaskan.


"Janji, setelah kali dapatkan, kamu harus segera tinggalkan dia," masih dalam mode mengambek.


"Tenang saja sayang, aku hanya mencintai mu, hanya kamu yang bisa bikin aku bahagia dan puas," ucap sang laki laki dengan mengerling matanya.


"Apaan sih, malah bahas itu," sang wanita, tersipu malu.


"Habis ini, mau servis kan? aku udah rindu lho," goda sang laki laki.

__ADS_1


"Bukanya semalam udah, tadi pagi juga, dasar maniak," meski mengucapkan itu, tapi nyatanya sang wanita juga sangat menginginkannya.


"Oke kita-" belum sempat melanjutkan kata-katanya tiba tiba.


Buyut


Dua orang itu, seketika basah oleh dua gelas jus yang berwarna merah pekat dan hijau pekat.


"Kamu!" belum sempat laki laki itu marah karena sudah di siram, dia harus diam karena merasa sudah ketahuan.


"Bagus, syukur aku tahu busuk mu, sebelum semuanya terjadi, dasar pasangan laknat," Bulan, mengucapkan dengan tatapan penuh amarah, bahkan tak ada air mata di sana.


"Sayang, aku bisa jelaskan, itu semua tidak seperti yang kamu dengar," ucap Riyan dengan terbata bata.


Langit, bahkan dengan santainya bersandar di kursi tempat dia duduk, dan melipat kedua tangannya di dada. Baginya ini adalah tonton geratis, dan tak lupa secara live.


"Mau menjelaskan apa lagi, telingaku masih jelas untuk mendengarkan hal yang sangat menjijikkan!" masih dengan kilat amarah.


"Silahkan teruskan kegiatan kalian setelah ini, semoga kalian, tidak akan terkena karma setelah ini!" sarkas Bulan, yang memilih untuk segera menyambar tas nya dan berlalu pergi, tak lupa sebelum dia pergi, dia kembali berhenti dan.


Puk


"Aku kembali sampah itu lagi, mulai sekarang jangan pernah perlihatkan wajah menjijikkan mu, di depan ku!" setelah mengatakan itu, dia benar-benar pergi. Bulan, bahkan lupa berpamitan kepada Langit.


"Selamat menikmati apa yang sudah kamu tanam, dan ya setelah ini, akan ada kabar baik untuk anda," Langit, menghampiri ke dua manusia itu dengan santai dan penuh wibawa. Meski mengucapkan kata kata itu dengan santai, tapi nyatanya, mampu membuat Riyan, kalang kabut.

__ADS_1


"Sial!" umpat Riyan, setelah Bulan dan Langit pergi.


"Ini semua gara gara kamu! dasar jal**g bodoh!" Riyan, memaki wanita di depannya dengan kilat amarah.


"Maaf," cicit Celine ketakutan.


"Kamu harus menerima hukumannya!" bentak Riyan, dan dengan segera menyeret Celine untuk mengikuti langkahnya.


Sedangkan, Langit kini di buat kebingungan, karena Bulan, sudah tidak ada di sana. Dia dengan segera menelepon anak buahnya, yang bertugas menjaga Bulan dari jauh.


"Dimana dia?" tanya Langit, tanpa basa basi, jika sudah begini.


"Dia menuju rumah bos." jawab dari sebrang.


"Bagus, pastikan aman, sampai saya di sana!" titah yang sudah tidak dapat dibantah.


setelah menelfon seseorang, maka dengan segera dia memacu kuda besinya dengan kecepatan di atas rata-rata. Untung saja jalanan sepi, jadi Langit, bisa sampai tanpa harus mendengar umpatan dari pengendara lain.


*****®


Yang sabar ya mba Bulan.


Ada Abang Langit, yang siap melindungi kok.


Sesuai janji, up 3 hari ini, key aku tunggu sumbangan kalian 😂

__ADS_1


__ADS_2