Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
48.Mengenang Cerita Indah


__ADS_3

Happy reading yess


*****®


Hari berganti hari, bulan pun ikut berganti, kini kehamilan Naya sudah memasuki bulan ke delapan. Segala kisah ngidam sudah di lalui dengan sangat baik. Meski letih mendera tubuh Devan namun nyatanya laki laki itu dengan segenap jiwa mewujudkan keinginan sang istri tercinta meski harus dengan kepayahan yang luar biasa.


Devan, laki laki dengan cinta tulus tak bersyarat. Rela datang dengan tekad yang kuat untuk mempersunting sang pujaan hati. Meski harus melewati ujian kelayakan, ia Terima dengan senang hati. Ujian yang di berikan calon mertuanya bukan karena memandang ia rendah melainkan ujian itu di berikan agar dirinya mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri tanpa rasa insecure nantinya.


Laki laki sederhana yang secara diam diam dan dengan kurang ajarnya mencintai putri dari keluarga terkaya di negara ini. Namun pada akhirnya kegigihan lah yang membuktikan bahwa dirinya pantas dan layak untuk Naya.


Cinta memang indah terkadang juga rumit, namun jika kita yakin bahwa cinta itu milik kita maka percayalah tiada yang tidak mungkin untuk cinta itu bersambut dengan hati kita.


"Hay, " sapa Devan lembut dan memeluk Naya dari belakang.


"Mas sudah pulang? " tanya Naya sedikit kaget karena dia tidak mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah.


"Sudah sayang, kamu asik melamun sampai suami pulang tidak tau, melamun apa hem? " tanya Devan dengan mengusap perut Naya secara perlahan.


"Emm cuma mengenang perjuangan laki laki hebat yang sekarang berada di belakang ku, " Naya menjawab dengan menoleh kesamping dan tersenyum lembut.


"Hem jadi tersanjung aku, emang hal apa yang sudah mas lakuin sampai kamu bilang mas hebat, mas hanya laki laki biasa yang beruntung mendapatkan kamu, " sanggah Devan merasa Naya memujinya berlebihan.


"Mas adalah laki laki terbaik setelah ayah, kakak dan si gunung es. Mas yang selalu menjaga ku secara diam diam dan mas juga yang mau berusaha untuk bisa menjadi yang terbaik agar kita bisa bersama. Maaf jika selama kehamilan ini membuat mu merasa kelelahan, bingung, dan susah. Sungguh aku begitu beruntung mempunyai suami yang tak pernah mengeluh dengan semua tingkah manja dan kelewat ku, " Naya dengan mata berkaca kaca berbicara dengan suaminya.


Suami hebat yang selalu tersenyum meski sedang marah ataupun jengkel kepada nya saat dia salah. Tak pernah membentak nya, tak pernah berlaku kasar, tak pernah mengeluh dan selalu berkata lembut meski dirinya tengah salah sekalipun.


"Hay kenapa melamun lagi? sudah ya jangan sedih sedih gini, nanti dedek ikutan sedih. Bagi mas kamu itu harta ter baik yang Tuhan kasih untuk mas, jadi sudah sepatutnya mas jaga dengan penuh kasih sayang. Kamu dan dia adalah sumber kebahagiaan mas. Mas cinta dan sayang sama kalian. " Devan menimpali ucapan Naya dengan senyum bahagia dan mengusap lembut perut Naya.


"Eh yank, dia gerak. Ini nah pindah sini, eh, " Devan sampai tidak bisa berkata kata saking senang nya.


"Iya mas , dedek memang aktif. Apalagi kalo lagi di usap begini, mungkin juga dia kangen sama ayahnya. " Naya menceritakan jika calon anak mereka memang suka sekali bergerak gerak di dalam sana.


"Benarkah, kenapa mas baru tau ya? " tanya Devan sambil kepalanya mendongak melihat Naya.


"Coba saja sekarang ajak dia ngobrol mas, pasti nanti di respon lagi, " Naya coba memberi tahu hal hebat itu lagi.


Devan dengan segera melakukan apa yang Naya suruh, posisinya yang menekuk lutut membuat dia sejajar dengan perut Naya. Ia usap secara perlahan dan mulai mengajak calon anak mereka ngobrol.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum dek..., ini ayah. Adek lagi apa di sana? main bola ya hehehe atau lagi naik kuda? " tanya Devan dengan iseng sambil terkekeh pelan.


"Waalaikumsalam ayah, adek lagi naik kuda bareng kak Aby yah, " Naya menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


"Wah kalian ini, kecil kecil sudah pandai berkuda. Ayah di tinggal ini? " tanya Devan dengan iseng nya.


"Ayah nyusul saja hehehehe, " Naya masih menimpali ucapan suaminya. Sedangkan calon anak mereka memberikan respon dengan menendang perut Naya di sana sini.


"Apa sakit sayang? " tanya Devan khawatir saat bibir Naya mendesis perlahan.


"Gak kok mas, hanya rasanya geli saja, ini sungguh nikmat yang tidak akan bisa di rasakan oleh makhluk ciptaan Tuhan selain wanita.


" Kamu benar sayang, kalian para wanita sungguh istimewa. Kalian adalah sosok yang paling kuat sebenarnya. Kalian mampu menghadapi rasa sakit yang luar bisa pada saat akan melahirkan, belum lagi perjuangan kalian setelah itu, sungguh jika ada laki laki yang tidak menghormati wanita maka dia benar benar tidak tau bersyukur. " Devan mengatakan dengan binar haru yang luar biasa.


"Duh manisnya, suami siapa sih ini, " goda Naya sambil mengecup sekilas bibir Devan.


"Jangan mulai yank, " erang Devan yang mulai terpancing.


"Kan aku gak ngapa ngapain mas, " jawab Naya tanpa dosa.


"Haish, pengen banget deh makan kamu, " keluh Devan.


"Yank tanggung jawab lah, kasihan ini tongkat mas, " rengek Devan.


"Ogah, mandi dulu sana, " usir Naya dengan cuwek.


"Nanti berarti habis mandi dapat kan? " Devan bertanya dengan antusias.


"Dapat apa? makan? ya dapat lah kita kan emang mau makan malam Mas, " Naya malah mengalihkan pembicaraan.


"Nay, ah masak malam ini aku gak dapat lagi, " duel Devan dengan wajah yang di tekuk.


"Mandi mas, cepetan. Ini dedek udah lapar mau makan lho, " Naya malah semakin menggoda Devan.


" Huft iya ya, " dengan lemas Devan berjalan ke kamar mandi.


"Sabar ya, berdo'a saja semoga gawangmu berubah pikiran, jadi kamu bisa masuk kesana, oke? sekarang ku tidur dulu saja, " grutu Devan di dalam kamar mandi yang merasa di kerjai oleh istri nya.

__ADS_1


Sedangkan Naya, setelah Devan masuk ke kamar mandi, ia malah cekikikan melihat suami nya yang lemas seakan kalah perang saja.


"Duh lucunya kalo lihat wajah melas nya. Hehehehehe biarin ah sampai nanti malam, mau lihat usahanya gimana, " Naya berbicara sendiri dengan masih menahan tawanya agar tidak meledak.


Makan malam terlewati dengan hening, Naya yang masih berusaha menahan tawa melihat wajah masam suaminya. Sedangkan Devan memilih diam karena menahan gejolak rindu yang sudah dua hari ini tidak dia dapat kan karena Naya yang mengeluh capek pada pinggang nya.


Hingga keduanya memasuki kamar dan mulai merebahkan diri di kasur, Devan masih saja diam dan berusaha menjaga jarak dengan Naya.


Dia hanya takut jika tidak bisa mengontrol hasrat nya.


"Mas, " panggil Naya dengan nada rendah dan sedikit mendes*ah di telinga Devan.


"Apa yank? tidur gih jangan gini, nanti mas gak bisa berhenti lho, " peringat Devan dengan suara serak nya.


"Gak mau hadap sini? Naya rindu lho mas, " Naya semakin menggoda Devan dari belakang dan tangannya yang tak tinggalkan diam.


"Yank... tidur, " Devan mengeram tertahan dengan tingkah Naya.


Akhirnya dengan sekali gerakan Devan berbalik dan betapa terkejut nya dia melihat istri nya dengan pakaian haram itu. Dalam hati Devan mengeluh, ujian apalagi yang akan dia dapatkan malam ini.


Sedangkan Naya tersenyum menyeringai melihat suaminya hanya bisa mematung tanpa berkedip melihat dirinya malam ini.


"Katanya lapar? gak mau makan malam yang lezat ini, " goda Naya di telinga Devan yang masih saja anteng di tempat, sedangkan Naya sudah dalam posisi duduk di atas paha Devan dengan usil nya memberi sentuhan pada tongkat Devan.


"Emm yank..., " erang Devan dengan tertahan dan dengan suara serak nya.


"Hem, " jawab Naya dengan wajah yang menggoda.


Akhirnya makan malam ala Devan pun terjadi, dengan lembut tapi nikmat mereka melewati malam yang dingin karena hujan di luar sana seakan mendukung nya.


*****®


Hohoho no protes oke.


Masih pagi kasihan kalo di terusin, nanti ada yang auto salto gegara paksu gak ada di rumah kan bahaya 😅🤭.


Key lah karena ini senin, aku minta dengan kerelaan hati Vote dan hadiah nya yang buanyak ya. Jangan lupa Like dan komentar kalian sangat berarti.

__ADS_1


Terimakasih semua, love you seluas samudera.


__ADS_2