
Happy reading yes
******®
Pagi yang indah di kota yang indah pula... Sepasang kekasih yang di landa rindu sekian purnama sedang duduk bersisian, kedua sedang menikmati waktu pagi dengan rasa bahagia yang tak terkira.
"Jadi kamu setuju kan kita balik minggu depan" Devan bertanya tentang apa yang sudah mereka bicarakan semalam.
"Aku kali ini ikut saja kak" Naya menjawab dengan menundukkan kepala karena malu.
"Hay lihat aku... " Devan mengatakan dengan sangat lembut dan perlahan mengangkat dagu Naya agar tatapan kedua nya dapat bertemu.
"Kenapa harus menunduk... kan jadinya aku gak bisa lihat wajah yang cantik ini" dengan isengnya Devan malah menggoda Naya.
"Kak Dev.... " rengek Naya malu yang malah menambah semburat merah di pipinya sehingga menambah kecantikan alaminya.
"Hahahaha kau tau sayang.... aku suka warna pipi ini ketika kamu sedang malu, sungguh kau terlihat sangat cantik meski tanpa riasan apapun" puji Devan di sela sela tawanya.
"Ish gombal banget sih, belajar dari mana ya... " Naya berusaha untuk membalas gombalan sang kekasih dengan candaan.
__ADS_1
"Hay bukan gombal ya tapi beneran,, aku seperti telah jatuh terperosok ke hatimu terlalu dalam, hingga sulit untuk ku menemukan caranya untuk tidak mencintaimu" Devan semakin menjadi.
"Dasar.. " hanya itu yang dapat Naya katakan namun jauh di dalam hatinya dia sungguh bahagia.
"Naya tetaplah seperti ini, jadilah Naya yang kuat, jadilah Naya yang selalu menjerat ku dalam pesona mu, jangan pernah merasa rendah lagi ataupun merasa kurang pantas, bagiku kamu tetap Naya ku yang dulu, jangan hanya karena keadaan mu menjadi kan mu berubah, berjanjilah sayang untuk tetap menjadi Naya ku seperti biasanya " Devan meminta dengan tulus, terlihat jelas binar cinta dan ketulusan terpancar dari matanya.
"Kak... " lirih Naya dengan anggukan kepala.
"Terimakasih telah menerima ku apa adanya, menerima ku dalam keadaan apapun, memberi kan ku cinta yang tulus, menghujani dengan kasih sayang yang berlimpah, maafkan aku jika pernah berusaha meninggalkan mu karena keadaanku, sungguh aku sangat beruntung di cintai oleh laki laki sebaik dirimu"ungkap Naya dengan derai air mata di pipi.
"Sssttt jangan menangis lagi sayang, aku sedih jika aku menjadi alasanmu menangis lagi, biarlah yang lalu jadi pelajaran untuk kedepan nya agar kita bisa lebih dewasa menyikapi masalah, jangan pernah lari dari keadaan dan kita harus terbiasa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, berjanjilah sayang untuk tetap di samping ku apapun ujiannya nanti" lagi lagi Devan berkata dengan ketulusan.
"Tersenyumlah,, mulai saat ini tak akan aku biarkan ada air mata kesedihan lagi, hanya ada air mata bahagia nantinya" Devan berkata dengan mengusap air mata Naya dengan usapan lembut.
Akhirnya keduanya kembali berpelukan dengan perasaan yang lebih bahagia tentunya. Larut dengan indahnya pagi di kota itu hingga tanpa sadar jika ayah dan bundanya mendengar dan melihat semua itu.
"Hem Hem " pagi pagi udah main peluk peluk anak orang saja"ayah malah mengacaukan suasana pagi itu.
"Eh a ayah bunda" ucap Devan dan Naya secara bersamaan dengan gugup.
__ADS_1
"Masuk sudah waktunya kita sarapan, jangan pelukan terus nan-" ucapan ayah terhenti terganti ringisan
"Auw.. ssst" kok mas di cubit sih yank salah mas apa coba"ringis Ivan sambil mengusap usap perutnya yang di cubit sang istri.
"Ini perut sudah waktunya di buat olah raga, nih lemak udah pada nongol" jawab Mila acuh padahal perut sang suami masih sama rata dan tetap kencang.
"Mana ada, kamu jangan ngada ngada deh yank" grutu ayah Ivan.
"Ya udah yuk nak mari kita sarapan, jangan terlalu lama di luar udara nya masih dingin" ajak bunda kepada anak anaknya dan mengacuhkan sang suami.
"Yank aku gak diajak, masak aku di cuekin yank,,, yank hay" ayah malah merengek seperti anak kecil, sedangkan sang istri hanya menggeleng geli melihat sang suami namun tak urung juga merangkul di pinggang sang suami dang memeluknya dari samping.
********®
Hay hay jangan lupa dukungan nya ya.
Salam. sehat semua dan salam sayang.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1