
Happy reading yess...
*****®
Hari berganti dengan cepat, tanpa terasa kini Bulan dan Langit semakin dekat sejak pesta hari itu. Enam bulan bekerja di Angkasa, membuat Bulan, semakin paham akan sikap Langit, yang memang berubah ubah, semaunya. Hal itu, sudah menjadi bisa bagi Bulan, bahkan dia tidak lagi merasa canggung untuk menggoda dan membantah ucapan Langit, jika memang tidak dia sukai.
"Pak, sudah waktunya kita meeting di restoran Z," Bulan mengingatkan agenda hari ini.
"Oh baiklah, ku sudah menyiapkan semuanya?" tanya Langit, dengan nada yang lebih baik kali ini.
"Sudah pak, sesuai yang bapak minta," jawab Bulan dengan mantab.
"Kerja bagus," puji Langit tulus.
"Sudah pasti," dan Bulan tak kalah narsisnya.
Hal itu hanya di tanggapi dengan acuh oleh Langit, baginya, kedekatan mereka saat ini adalah hal yang terbaik yang ada di hidup Langit. Meski tak bisa memiliki gadis di depannya ini, setidaknya dia tidak jauh dari jangkauan Langit. Seolah hari ini adalah hari yang bersejarah, Langit terlihat begitu bahagia, entah atas hal apa, yang jelas hanya dia yang tau.
"Sepertinya, ada yang habis menang lotre," sindir Bulan, yang sejak tadi melihat wajah cerah sang bos.
__ADS_1
"Bukankah bagus?" Langit, menanggapi nya dengan senang.
"Hem, dan ya jauh lebih baik, setidaknya tidak seram aura mobil ini," canda Bulan, yang memang akan bersikap santai saat di luar kantor.
"Dan kamu, mulai melunjak sepertinya," jawab Langit, dengan tatapan mengintimidasi.
Bukanya takut, Bulan malah tergelak dengan keras, dia benar-benar sudah tidak akan merasa takut lagi dengan sikap Langit, sejak di pesta waktu itu. Jika Bulan, sedang tertawa keras, berbeda dengan Langit, yang diam diam menikmati pemandangan itu. Pemandangan yang ingin dia lihat setiap hari.
"Semoga tawamu, akan selalu menghiasi wajah itu, ku mohon jangan ada air mata setelah hari ini, karena mungkin hari ini akan menghancurkan mu, tapi yakinlah ini yang terbaik untuk mu, aku hanya bisa menyelamatkan mu dengan cara seperti ini, Bulan, tatap lah menghiasi Langit di setiap malam gelap ku." batin Langit, saat dia melihat tawa tanpa beban itu, tawa riang yang mungkin sebentar lagi akan surut.
Tanpa sadar, tangan Langit, mencengkram erat setir yang tak bersalah itu. Hatinya terasa sakit, saat dia tau kenyataan demi kenyataan yang ada di belakang gadis baik di depannya. Bulan, yang merasa di tatap akhirnya menyadari, dia menjadi kikuk sendiri.
"Hem," dehem Bulan, mengurangi kegugupan nya.
"Hehehehe, maaf pak, bukan maksud saya," Bulan, benar benar mati kutu, dia bahkan mengusap tengkuknya yang seketika merasa merinding.
"Kamu saya hukum, lembur selama dua jam nanti," ucap Langit tanpa dosa.
"Yach pak, jangan donk. Janji gak ulangi lagi," rengek Bulan, bahkan tanpa sadar dia memegang lengan Langit.
__ADS_1
Langit yang mendapat perlakuan seperti itu, malah menjadi gugup sendiri. Dia bahkan berusaha untuk tetap waras dengan keadaan. Apalagi posisi nya yang menyetir, dia tidak mau terjadi apa apa dengan mereka.
"Hem,Hem," Langit, mencoba berdehem dan melirik tangan Bulan.
"Eh," Bulan, yang menyadari lirikan sang bos, langsung menjadi semakin gugup. Dia benar-benar tidak sadar akan tindakan sembrono nya kali ini.
"Mati gue, ini tangan kenapa sih, lancang banget sih, duh malunya," batin Bulan, dengan menunduk dan memainkan jari jarinya.
"Lihatlah, wajah itu, kenapa harus dia, dia harus menerima semua penghianatan itu, apa yang sebenarnya bajingan itu inginkan,gue pastikan, tidak ada ampun untuk nya." Langit, sejujurnya merasa sakit, saat melihat wajah lugu itu harus menerima rasa sakit setelah ini.
"Maaf pak," cicit Bulan, masih dengan menunduk.
"Ya," hanya itu yang dapat Langit ucapakan, dia hanya sedang mengatur emosi nya agar tidak keluar saat ini.
******®
Neh Bulan, yang sabar ya setelah ini.
Ada Abang, yang bakal menggantikan nya kok.
__ADS_1
Percayalah, akan ada mentari setelah mendung.
Siapkan hujatan setelah bab ini 😅😂.