Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
91. S. Part 21


__ADS_3

Happy reading yess.


****®


Jika Awan di bawah sedang diam dengan pikiran kemana mana, berbeda dengan apa yang terjadi di kamar atas. Hal yang memang sudah sering di dengar tapi tetap saja membuat heboh seisi rumah jika tidak ada peredam suara.


"Aaaaaa, kak Jinggaaaa bangu!" teriak Senja dengan heboh dan sangat berisik.


"Apaan sih Lo dek, berisik banget, ganggu orang tidur saja!" gerutu Jingga yang malah menarik selimut sampai kepala.


"CK, bangun woi, anak gadis jam segini masih molor, ntar jodoh Lo, di patok ayam baru tau rasa!" omel Senja yang masih berusaha membangun kan sang kembaran.


"Dodol, yang ada itu rejeki di patok bebek," Jingga menanggapi pada akhirnya.


"Sama salahnya markonah," Senja tidak mau kalah.


"Serah, malah bahas binatang piaraan, Lo kesini, pagi pagi, terus berisik ngapain coba? bawa berita apa?" kini Jingga sudah dengan posisi duduk meski mata masih terpejam.


"Jiah di kata pagi pagi, ini tuh udah jam tujuh jenang, di bilang pagi!" Senja mulai merasa jengah.


"Serah, bagi gue pagi, lagian juga libur, dan Lo tumben sok sok an udah bangun jam segini, biasanya masih ngelukis di bantal," ejek Jingga dengan senyum miringnya.

__ADS_1


"Enak saja, gue sekarang udah rajin ya, gue tadi bangun jam enam, terus olahraga di taman, dan Lo tau apa? gue tadi ketemu sama kak Awan. Dia ada di bawah, mana gue masih bau asem lagi, kan malu. Hua Jingga." Senja mulai histeris dengan tingkat lebay yang luar biasa.


"Berisik Dodol asem, keluar Lo, berita gak penting!" omel Jingga dan dengan sadisnya dia melempar bantal ke wajah Senja, setelahnya dia berlari ke kamar mandi.


"Jingga!" jerit Senja dengan suara keras dan bahkan jika kamar mereka tidak ada peredam suara, sudah sampai di bawah.


Sedangkan sang pelaku malah tertawa ngakak di dalam kamar mandi tanpa dosa. Dia sangat senang melihat kembaran nya marah marah, baginya itu seperti vitamin mata dan pikiran.


Lah


Setelah selesai dengan ritual mandi nya, Jingga bersiap untuk turun dan melihat apa yang bikin si dodol heboh pagi pagi begini, benarkah ada kak Awan seperti yang tadi dia bilang, atau hanya halusinasi dia saja. Tak lupa keisengan itu masih berlanjut.


"Dek," panggil Jingga dengan melongok ke dalam kar sang kembaran.


"Eits, gak boleh ngegas sama yang lebih tua, dosa." dengan santainya Jingga menjawab perkataan Senja.


"Ah elah, cuma beda lima menit doang," sanggah Senja dengan memutar bola matanya jengah.


"Yang penting gue duluan, dan gue juga udah selesai bersiap. Jadi gue duluan yang mau ketemu sama cogan di bawah dan mau gue ajak jalan. Bey dodol." dengan setengah berlari Jingga menggoda sang kembaran dan tak lupa tawa keras dia berikan sebagai bentuk ejekan.


"Jenang!" kesal, ya itu yang sedang Senja rasakan sama kembaran nya.

__ADS_1


Sedangkan di bawah, ada Ayah, Bunda, dan Awan yang hanya bisa menggelengkan kepala tanda benar benar tak habis pikir. Si kembar memang pembuat suasana rumah jadi rame dan hidup.


Meski kadang kebisingan mereka mengganggu beberapa orang yang sedang bekerja di rumah tersebut, tapi mereka semua tidak pernah marah, hanya saja butuh kesabaran ekstra panjang untuk kedua bocah usil itu.


Bahkan sang ibu terkadang sampai bingung, mereka udah pada besar dan bahkan sebentar lagi akan berusia tujuh belas tahun, tapi sikap mereka masih seperti anak berusia lima tahun. Meski begitu, baik Devan ataupun Naya bersyukur karena di berikan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.


"Kapan mereka akan dewasa!" keluh Bunda Naya yang di tanggapi dengan tawa oleh suami dan tamunya.


"Biarlah sayang, dengan begitu rumah kita rame, kita pasti akan kangen momen seperti ini saat mereka udah nikah nanti," sang suami berusaha menenangkan.


"Kamu benar mas, saat nanti mereka nikah, pasti rumah ini bakalan sepi, ah jadi mellow kan aku," jawab Naya yang mulai berwajah sendu.


"Hay, itu masih lama sayang, dan lagipun misal mereka udah nikah, ya kita tinggal minta salah satu dari mereka tetap di sini," hibur sang suami.


"Ya boleh itu mas, kamu harus ya buat mereka di sini salah satu." pinta Naya dengan serius.


Sedangkan Awan, sejak tadi hanya menyimak interaksi itu dengan tatapan hangat, dia begitu merindukan sosok sang ibu yang telah lama tiada.


*****®


Habis di bikin heboh, eh malah mellow kan.

__ADS_1


Yang kangen bang Langit dan mba Bulan, sabar ya kayaknya mereka bakal ketemu delapa tahun lagi 😅😅 duh siap siap kena timpuk ini.


Kabur, eh tapi jangan lupa hadiah nya dan vote nya biar segera bertemu dengan idola kalian.


__ADS_2