Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
122. Gelisah


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


Manisnya hubungan sedang Bulan dan Langit rasakan, bahkan hubungan itu sudah di ketahui oleh keluarga besar Angkasa. Mereka semua menyambut antusias dengan hubungan itu. Harapan indah sudah terangkai oleh semuanya.


"Dek," panggil Langit, saat mereka tengah menikmati waktu bersama di sela sela kesibukan mereka.


"Ya bang, ada apa?" tanya Bulan sedikit heran.


"Kamu tau kan jadwal Abang besok kemana?" Langit, memastikan.


"Iya, aku ingat, lalu kenapa bang?" Bulan masih belum mengerti.


"Kamu ikut Abang saja bagaimana?" ajak Langit yang entah kenapa ada perasaan resah sejak kemarin.


"Gak bisa bang, kalo aku ikut bagaimana di kantor bang?" Bulan memang tidak bisa ikut, karena ini akhir bulan, dan seperti biasanya kerjaan pasti akan sangat banyak.


"Entah kenapa, aku merasa cemas dek, sayangnya kerjaan ini juga gak bisa di wakilkan," desah Langit, sedikit frustasi.


"Semoga itu hanya perasaan saja bang, yakinlah tidak akan ada apa apa," Bulan mencoba meyakinkan.


"Semoga ya dek," harap Langit.


"Aamiin, bang," Bulan mengamini.


Setelah nya, mereka kembali hening. Sejujurnya sudah beberapa hari ini Langit, merasa resah dan tidak tau apa penyebabnya. Hanya saja pikirannya tertuju pada Bulan terus. Langit, berharap ini semua hanya sebatas perasaan saja.


Jika Langit merasakan resah, tak beda jauh dengan Bulan, dia merasa sedang di awasi. Tetapi, Bulan tidak mau bercerita kepada Langit, dia takut, sang kekasih akan semakin cemas setelah mendengar nya.

__ADS_1


"Oh iya bang, apa semua sudah di siapkan?" tanya Bulan, untuk mengalihkan pikiran resah itu.


"Sudah, kemarin di bantuin bunda." jawab Langit dengan memandang lekat Bulan.


"Dasar anak kecil," cibir Bulan, mengajak bercanda.


"Habisnya, gak ada yang nyiapin sih. Yang di ajak halal masih belum mau," sindir Langit, dengan terkekeh.


"Kan, kan mulai lagi," sungut Bulan dengan bibir mengerucut.


"Jangan manyun, nanti kalo aku khilaf gimana?" canda Langit, dengan seringai misterius.


"Hais, kok sekarang jadi suka bahas nya kesana sih," elak Bulan dengan pipi bersemu merah.


"Yah, kan aku pengen nyoba," masih saja menggoda Bulan.


"Noh, ada bantal, coba Sono," balas Bulan.


"Enak saja," balas Bulan.


"Dikit ya," Langit, masih mencoba pura pura meminta.


"Gak!" Bulan menjawab dengan wajah garang.


Sedangkan Langit, langsung tergelak kencang melihat kekesalan sang kekasih. Bagi Langit, melihat Bulan yang sedang marah marah seperti ini menjadi hiburan tersendiri. Bahkan sejenak, dia melupakan rasa resah di hati dan pikirannya.


Setelah makan malam, romantis ala mereka, saatnya untuk mengantarkan sang pujaan hati pulang. Meski terkesan sudah biasa saja, tapi Langit, masih terus berusaha meredam nya.


"Langsung istirahat ya, ingat jangan kebanyakan nonton Drakor gitu," peringat Langit.

__ADS_1


"Siap bos," dengan candaan Bulan menjawabnya.


"Awas, kalo besok kesiangan, aku hukum," bisik Langit, yang sukses membuat Bulan merinding.


"Ae ae kapten," jawab Bulan, dengan tangan yang di buat hormat.


Setelah memastikan sang kekasih memasuki rumah dengan selamat, Langit, langsung mengambil ponselnya. Dia menelfon seseorang yang memang sudah di tugas kan khusus untuk menjaga Bulan.


"Sudah kamu pastikan semua berjalan sesuai rencana?" tanya Langit, langsung begitu telfon diangkat.


"Sudah bos," jawab orang di sebrang.


"Bagus, kerjakan dengan baik, saya tidak ingin ada kesalahan," lanjut lagi.


"Siap!" jawab dengan tegas.


"Bagus, karena besok saya harus keluar kota sebentar!" Langit masih sedikit merasa resah.


"Baik bos, mereka masih dalam pantauan kami," orang di sebrang masih meyakinkan.


"Saya percayakan semuanya, ingat jika ada kesalahan kalian semua tahu bagaimana saya!" sorot mata itu terlihat sangat tajam. Setelah mengatakan itu, Langit segera menutup panggilan nya. Dia melihat di sebrang ada beberapa orang yang memang orang suruhannya untuk menjaga Bulan dan keluarganya.


"Semoga ini hanya perasaan saja, semoga semua segera beres," Doa Langit dalam hati.


*******®


Ah menuju konflik kecil apa besar ya.


Besok lagi ya, selamat istirahat semua 🥰🥰

__ADS_1


Terimakasih semua.


__ADS_2