Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
76. S. Part 6


__ADS_3

Happy reading yes...


*****®


Pagi yang cerah, meski tak secarah hati kedua bocah kembar itu. Sebenarnya mereka malas untuk berangkat, mengingat sudah tidak ada pelajaran, dan hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Tapi akhirnya mereka harus berangkat karena mendengar omelan dari sang ibu.


"Bun, kenapa mesti berangkat sih, di sekolah juga gak ada pelajaran lho ini, enakan rebahan," Jingga masih sempat sempat nya bernegosiasi lagi.


"Iya Bun, ah kan kalo kita di rumah bisa nemenin bunda," Senja tak mau kalah, dan berusaha merayu sang bunda.


"No bunda bilang berangkat ya berangkat, atau mau uang jajan kalian bunda stop selama satu bulan?" tanya bunda Naya namun bermaksud mengancam.


"No, no! oke kita berangkat!" putus Jingga dan Senja dengan cepat, dari pada harus kehilangan uang jajan selama sebulan, auto gak bisa beli tiket konser BTS yang mereka suka.


"Bagus!" bunda menanggapi dengan senyum kemenangan.


Bukan apa apa, bunda meminta mereka untuk berangkat sekolah, karena jika mereka di rumah, sudah di pastikan pekerjaan para mbak yang ada di rumah gak akan selesai selesai karena kelakuan ajaib mereka.


Naya hanya kasihan kepada para pekerjanya yang akan dikerjai habis habisan oleh si kembar. Mereka akan minta ini, dan itu secara random dan hal itu sangat sangat meresahkan.


Jika Jingga dan Senja, malas berangkat, tidak dengan Langit. Ia bahkan sudah ada di sekolah, ia dan Awan sedang berdiskusi untuk acara perpisahan yang akan di lakukan oleh dia, Awan dan beberapa anak laki laki lainnya.


Langit tidak ingin ada temen cewek yang hadir dalam pesta nantinya. Kini Awan dan yang lain sedang merencanakan sesuatu buat Langit agar bisa sedikit mencair.

__ADS_1


Disaat Langit dan Awan sedang asik berbicara, tiba tiba di kelasnya menjadi hening, kelas yang semula ramai mendadak diam, mereka ingin melihat hal besar apa yang akan terjadi dengan adanya anak perempuan yang mereka ketahui sebagai adik kelas masuk ke kelas mereka.


"Kak Lang, ini jaket nya, terimakasih dan oh ya sudah aku cuci bersih, meski mungkin tidak se harum sebelum nya," ucap cewek tersebut yang ternyata adalah Bulan.


"Oh ya, terimakasih karena sudah di cucikan," entah setan dari mana, mendadak Langit menanggapi dengan wajah lebih baik dan tentunya tidak ketus seperti pada umumnya.


"Sama sama kak, aku yang makasih, kalo gitu aku permisi kak," Bulan berbicara dengan santai dan langsung berpamitan tanpa ada hal lain.


"Ya silahkan," lagi lagi Langit seakan menjadi pribadi yang lain.


"Wau, baru kali ini ada cewek yang gak heboh ketemu Lo bro, lihat gak tadi, dia bahkan biasa saja sikap nya. Apa jangan jangan pesona Lo sudah luntur ya? atau memang dia yang aneh," komentar Awan yang merasa takjub dengan cewek yang bernama Bulan.


"Berisik Lo," Langit dengan enggan menanggapi nya.


"Diam gak, atau mau gue lempar keluar," geram Langit.


"Oke oke, santai bro, gak usah ngegas itu key, ngeri gue lama lama," Awan kini bergidik ngeri mendengar ucapan sahabat nya.


Langit hanya diam saja, enggan menanggapi ucapan Awan, meski dalam hati dia membenarkan ucapan sahabat gilanya itu. Namun secepat kilat dia tepis.


*Gadis yang menarik,* batin Langit.


*Eh apaan tadi, otak gue mulai gak waras kakak si Awan nih,* batin lagi dengan segera ia tepis.

__ADS_1


"Woi malah bengong, apa Lo ke ingat yang tadi ya," goda Awan dengan menarik turunkan kedua alisnya.


"Lo!" gertak Langit yang langsung di sambut gelak tawa oleh Awan sambil berlari keluar kelas.


"Gue cabut duluan, Selly udah nunggu, bye," Awan mengucapkan nya dengan berlari keluar dan masih dengan tawanya.


"Sialan si Awan." Langit benar benar di buat geram.


Akhirnya ia putuskan untuk keluar kelas dan berjalan ke taman yang ada di belakang sekolah mereka. Tak lupa ia kenakan jaket yang tadi di berikan oleh Bulan, karena entah kebetulan atau bagaimana ia lupa tidak membawa jaket.


Jaket adalah pakaian yang tidak bisa jauh dari sosok Langit, ia begitu menyukai semua hal berbau dengan jaket.


"Harum juga baunya, kayaknya di kasih parfum deh ini, parfum londry kalo gak salah," Langit berbicara sendiri.


"Ah bodo, ngapain gue pusingin sih, penting gue pake jaket hari ini," lagi lagi ia tepis dengan cepat.


*****®


Hem Hem kayaknya ada yang mulai terkena virus asmara.


Ayo Abang Langit jangan di tepis tepis terus, ntar malah jauh lho, kan kalo ngejar capek bang, hehehehe.


Key saatnya dukungan kalian, xixixi.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2