
Happy reading yess....
*****®
Tepat pukul sembilan pagi waktu Indonesia, Langit dan Awan, sampai di rumah Langit. Awan yang tadinya ingin langsung pulang kerumahnya, mau tidak mau harus ikut Langit, karena permintaan sang nyonya rumah, siapa lagi kalo bukan Bunda Naya.
Bunda berkata, bahwa semua keluarga Angkasa sedang berkumpul di rumah Langit bermaksud menyambut kedatangan mereka.
"Bunda benar benar deh, selalu bikin heboh, padahal hanya kita pulang kan," gerutu Langit, yang sebenarnya risih dengan penyambutan itu.
"Itulah bunda mu," ucap Awan santai.
"Awas Lo, kalo sampai ngomong macem macem nanti!" Langit kembali mengancam Awan.
Pasalnya dia masih ingat, sebelum mereka mendarat, Awan sempat bilang jika dia akan memberitahukan jika Langit sedang mengintai anak gadis orang sejak lama, dan hal itu sukses bikin Langit ngeri, jika sampai orang tuanya tau, bisa di pastikan akan sangat heboh.
"Iya ya, ah elah, Lo sekarang demen banget ngancam kalo lagi kepepet." gerutu Awan dengan menahan jengkelnya.
"Serah gue." jawab Langit dengan acuhnya.
Mereka sampai di kediaman Langit saat semua orang sudah menunggu di depan rumah, dalam hati Langit sangat kesal, dia benar benar tidak habis pikir dengan kehebohan yang terjadi saat ini.
"CK, benar benar heboh, kayak nyambut pejabat aja." Langit berdecak kesal, melihat pemandangan di depan rumahnya.
"Hahaha, nikmati saja napa sih," Awan menanggapi dengan santai dan mulai turun dari mobil jemputan mereka.
Keduanya melangkah dengan ringan di iringi senyum bahagia, meski sempat kesal tapi hal itu kalah akan rasa bahagia ketika sudah berkumpul dengan keluarga seperti ini.
"Selamat pulang sayang, eh selamat datang maksudnya." bunda menyambut dengan candaannya dan merentangkan kedua tangannya untuk segera memeluk sang anak.
__ADS_1
Langit yang paham, segera saja menghambur ke dalam dekapan ternyaman yang pernah ada. Dekapan seorang ibu, ibu yang mempunyai kasih sayang yang luas tiada tara.
Setelah melepas pelukan dari sang bunda, kini beralih kepada sang ayah, kemudian kepada keluarga yang lainnya. Sedangkan Awan, ia juga tak kalah sama, dia juga mendapatkan perhatian yang sama.
Kini mereka semua sudah berada di dalam ruang, banyak hal yang mereka bicarakan, karena memang sejak Langit memutuskan untuk mengambil S2 nya di sana sekalian, dia berpesan agar tidak sering sering di jenguk. Di tengah rasa bahagianya, tiba-tiba ia merasa ada yang kurang.
"Eh Bun, si onar kemana, kok gak kelihatan semua?" Langit sangat heran, karena sejak tadi dia tidak melihat si biang onar.
"Mereka belum pulang sayang, padahal tadi pagi mereka bilang sangat tidak sabar tapi lihat lah kalo sudah di kelas mereka masing masing sampai lupa waktu." jelas sang bunda, yang sebenarnya ikut gemas dengan tingkah anak kembar nya.
"Kelas? maksudnya?" tanya Langit lagi, karena memang dia tidak banyak tau saat ini apa yang adiknya lakukan.
"Jingga hari ini ada kelas mengajar seni musik, dan kalo si Senja ada kelas melukis di galeri nya. Mereka sudah punya kesibukan sendiri sendiri bang." bunda menjelaskan lagi.
"Wau, ternyata adek ku ada baiknya juga, aku kira-" ucapan Langit terpotong saat suara yang sudah di cari memenuhi ruang itu.
"Abang..." teriak si kembar dari luar dan langsung berlari masuk. Tanpa menunggu lama, keduanya langsung saja menubruk Langit yang masih saja bengong melihat mereka.
"Iya kangen, tapi jangan gini, Abang sesak ini dek." Langit sedikit menggerutu, dia benar benar tidak bisa bergerak.
"Biarin, kita kangen bang." masih belum mau melepaskan pelukan itu.
"Kalian gak malu sama kak Awan?" sela bunda yang merasa kasihan dengan anak laki-lakinya itu.
Sejenak tubuh Senja menegang, dia tadi tidak memperhatikan jika di sana ada sosok yang nyatanya sangat sangat dia rindukan setelah sang Abang. Sedangkan Jingga, dia tersenyum miring melihat sang adik yang seakan mati kutu.
"Eh ada kak Awan, wah kangen juga ini, boleh peluk gak sih kak," dengan isengnya Jingga berkata demikian dan bersiap untuk memeluk Awan.
"Hai cerewet, boleh kok sini sini, kakak juga rindu sama kalian," Awan menanggapi dengan santai dan merentangkan kedua tangannya, tanpa dia tau ada segumpal rasa bahagia di hati seseorang.
__ADS_1
"Yes, kangen," seolah ingin memanasi sang adik, Jingga mengatakan kangen dengan nada manja di saat dia sudah memeluk Awan.
Jika yang lain, menanggapi dengan tawa, berbeda dengan Senja. Dia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, apakah harus seperti Jingga sang kakak, atau tidak sama sekali. Di saat dia masih dengan lamunannya, tiba tiba dia terkesiap oleh dekapan hangat yang membuat kinerja jantung sangat cepat.
Entah bagaimana ceritanya, kini dirinya sudah berada di dekapan sang pujaan hati, laki laki yang berhasil memenuhi ruang hati nya sejak dulu, bahkan tak dapat bergeser oleh apapun.
"Kamu gak kangen? kok malah melamun?" tanya Awan lembut saat dia sudah memeluk Senja.
Otak yang biasanya cerdas mendadak kosong, dia bahkan susah untuk sekedar berbicara. Bibirnya seakan tertutup rapat tanpa bisa di buka.
"Hai kok bengong lagi," kali ini Awan, sudah melepas pelukannya, dia lihat wajah yang masih saja diam tanpa sepatah kata pun.
"Gak usah sok diam gitu." dengan jahilnya Jingga menepuk keras pundak sang adik.
Hal itu berhasil membuat kesadaran yang semula berhamburan kemana mana kini berbalik dengan cepat. Dia teramat malu, dengan refleks dia menggeleng dan berlari ke kamarnya.
"Lah dia kenapa?" tanya Awan, yang merasa aneh dengan adik sahabatnya itu.
Sedangkan yang lain kini malah tertawa, melihat kelakuanku absurd Senja. Mereka sebenarnya sudah tau akan perasaan yang di miliki Senja, mereka juga tidak keberatan jika akhirnya Senja dan Awan bersama. Mereka senang dengan informasi yang ada, siapa lagi yang udah nyebarin kalo bukan si onar satunya.
"Gue malu, juga senang, aaa." teriak Senja, saat dia udah sampai di kamar.
"Maaf dek, sampai saat ini aku belum bisa membalas perasaan mu, aku takut kamu hanya jadi pelarian ku saja." batin Awan, yang sebenarnya dia tau apa yang di rasakan Senja, sejak beberapa tahun terakhir.
******®
Hayo siapa yang mau timpuk bang Awan, yang belum bisa move on juga,😅😅🤭
Sabar ya, ada masanya kok mereka jadi bucin gila, tenang paling tujuh PURNAMA lagi 😅😅
__ADS_1
Keylah yang penting jangan lupa Gift nya, like, vote, komen yang buanyakkkk yaaaaa, biar bang Langit dan bang Awan jadi bucin. Eh jangan di lupain habis ini giliran bang Bintang yang mau tampil.