Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
99. S. Part 29


__ADS_3

Happy reading yess....


*****®


Sesuai ucapan kemarin, Bintang benar benar menjemput Jingga di jam tujuh malam. Dengan berbekal nekat, Bintang datang ke rumah Jingga, yang sudah terkenal jarang ada tamu laki laki datang ke sana.


Bagi Bintang, yang penting adalah niatnya. Dia yakin, keluarga ini adalah keluarga yang baik dan tidak langsung menilai orang begitu saja.


"Assalamu'alaikum." sapa Bintang begitu dia sudah sampai di rumah Jingga.


"Waalaikumsalam, mau cari siapa nak?" Bunda yang membukakan pintu menjawab salam sekaligus bertanya.


Karena selama ini, dia tidak pernah mengenal laki laki yang kini berdiri dengan gagah di depannya. Naya juga bisa menilai jika laki laki di depannya ini, adalah laki laki yang punya keberanian yang lebih dan tentunya bertanggung jawab.


"Saya mau ketemu saja Jingga Tante," jawab Bintang sopan.


"Oh iya perkenalkan nama saya Bintang Tante, saya temannya Jingga saat SMP sampai SMA Tan,"l lanjut Bintang memperkenalkan diri.


"Oh iya, saya bundanya Jingga, masuk nak." Bunda Naya menyambut nya dengan baik.


"Duduk ya, buat senyaman mungkin, saya panggilkan Jingga nya dulu." bunda memerintahkan sang tamu dan langsung memanggil sang anak.


Belum sampai bunda di kamar Jingga, sudah terdengar kedua anaknya sedang berbicara, lebih tepatnya saling mengejek. Bunda hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang sedang di ucapkan anaknya.


"Cie yang mau jalan sama gebetan," goda Senja dengan jahilnya. Pasalnya, Senja tadi sempat lihat Bintang, saat dia akan mengambil air dan seolah lupa langsung saja dia berlari naik menerobos kamar sang kakak.


"Apaan sih, bisa diem gak! nanti bunda dan ayah bisa dengar!" Jingga berkata dengan geram.


"Hais, emang itu tujuanku, biar Bunda, Ayah, sama Abang denger, biar langsung di nikahkan," tawa Senja, menggema dengan kerasnya, setelah mengatakan itu.


"Oke, kalo mau Lo gitu, gue juga bakal bilang kalo Lo suka sama kak Awan sejak dulu!" ancam Jingga yang langsung membuat Senja kicep.


Tanpa mereka sadari, sang Bunda sudah sejak tadi mendengarkan semua percakapan saling ejek tersebut. Sebenarnya Bunda sedikit kaget, tapi dia cepat mengerti setelah mencerna semua ucapan suaminya tadi malam.


"Jadi ini maksud mas Devan. Hais ternyata aku udah tua ya,hihihi," Bunda malah terkikik geli dengan pikirannya barusan.

__ADS_1


"Hem!" Bunda berdehem dengan keras, membuat atensi kedua anak kembarnya langsung tertuju kepadanya.


"Bunda," ucap keduanya gugup.


"Apa?" tanya bunda santai, sambil berjalan masuk dan duduk menghadap kedua gadis nya.


"Sejak kapan Bunda di sana?" tanya Senja gugup.


"Sejak kalian ribut," sang Bunda malah menjawab dengan santai, tanpa memperdulikan raut pucat kedua anaknya.


"Jadi, Bunda dengar semuanya?" tanya Jingga dengan terbata bata.


"Dengar gak ya, kalo iya kenapa kalo gak kenapa?" sang Bunda malah kini yang iseng mengerjai anak anaknya.


"Bunda, kita-" ucapan Jingga di potong oleh Bunda.


"Bunda, dan Ayah merestui apapun pilihan kalian, asal itu baik dan bisa bikin kalian bahagia. Tapi ingat jaga diri, bukan karena bunda sudah kasih ijin, kalian terus se enaknya, mengerti?" Bunda kali ini berbicara dengan serius dan duduk di tengah tengah kedua gadis cantik nya itu.


"Terimakasih Bun," ucap keduanya bersama sama sang langsung memeluk sang bunda yang berada di tengah mereka.


"Cie, yang mau di lamar," iseng, benar ucapan Senja memang hanya iseng saja, dia mana tau akan ada apa.


"CK, Bunda." rengek Jingga yang merasa malu.


"Kalian ini mau sampai kapan malah ngobrol disini, kasihan lho tamunya." saat para wanita masih ingin menggoda, tiba tiba suara ayah mengagetkan mereka semua.


"Nah kan, ayah kalian sampai naik kesini, sudah sana segera berangkat." akhirnya bunda pun mengajak sang putri keluar, agar si tamu tidak terlalu lama nunggu.


"Maaf ya nak lama tadi, biasalah anak gadis Tante lagi gugup," bukanya berhenti, kini sang bunda malah membuatnya semakin malu.


"Bun," bisik Jingga lirih dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Sudah nak, ini Tante titip Jingga ya, jaga dia baik baik, jangan sampai kurang satu apapun, dan ingat sebelum jam sepuluh sudah harus sampai lagi di sini." kali ini bunda berkata dengan tegas.


Sedangkan sang Ayah, memilih diam saja, baginya segala ucapan sang istri sudah mewakili apa yang akan dia sampaikan.

__ADS_1


"Baik Tante, saya akan jaga Jingga dengan baik, terimakasih sudah memberikan ijin nya." Bintang berkata dengan sopan dan penuh wibawa.


"Bagus, kamu harus tau, istri saya lebih mengerikan di banding saya jika sudah marah, jadi saya harap kamu benar benar memenuhi semua ucapan nya." dengan usil ayah Devan malah menakuti calon menantunya itu.


"Saya pastikan, saya akan menepati segala janji saya dengan baik om," jawab Bintang Masih dengan tenang.


Setelah melalui drama yang sedikit membuat nya tegang, akhirnya dia bisa membawa sang pujaan hati keluar. Sepanjang jalan, Bintang hanya diam saja, dia sengaja ingin membuat Jingga merasa canggung.


"Turunlah, kita sudah sampai." ucap Bintang dengan nada datar. Dia bahkan tidak membuka kan pintu untuk Jingga.


Dengan sedikit perasaan jengkel, Jingga akhirnya turun. Dia merasa sedikit aneh, melihat restoran tempat dia akan malam sangat sepi. Sejenak, hati Jingga jadi resah, bahkan dia serasa sulit untuk bergerak.


Di saat Jingga, masih tenggelam dengan lamunannya, dia tersentak kaget saat ada kain hitam yang menutupi matanya. Perasaan was-was semakin menjalar di hati Jingga. Dia tidak tau, Bintang akan melakukan apa, apalagi selama ini, mereka sudah tidak pernah bertemu, sehingga Jingga tidak tau seperti apa Bintang yang sekarang.


"Kamu, mau apa?" tanya Jingga gugup saat dia menyadari jika matanya di tutup. Dia bahkan berusaha untuk melepaskan tutup itu tapi di tahan oleh Bintang.


"Jangan dibuka sayang, kali ini jadilah gadis yang baik oke, jika ingin selamat!" ucap Bintang dengan nada rendahnya.


"Kamu jangan macam-macam, atau kamu akan tahu rasa!" kali ini Jingga berkata dengan nada mengancam meski perasaan takut masih merajai hatinya.


"Diam dan nikmati malah ini sayang," desis Bintang di samping Jingga.


Dengan sedikit tertatih karena Bintang menuntun nya sedikit cepat, Jingga berusaha melepaskan dirinya. Tapi tetap tidak bisa, sialnya tangan Bintang menggenggam nya dengan erat.


"Selamat datang di pesta yang sesungguhnya sayang!" ucap Bintang tepat di telinga Jingga, dan tanpa permisi, lagi lagi Bintang mencium pipinya.


"Kamu, ack!" dengan tersentak Jingga berteriak.


******®


Apa ya?


Kok malah aku merinding ya.


Masih semangat kan?

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, seikhlasnya saja 😁🤭


__ADS_2