Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
103. Perjuangan Di Mulai


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


Hari berganti dengan begitu cepat, tanpa sadar saat ini adalah hari di mana pernikahan sang kembaran. Pesta di gelar dengan sangat meriah, ada dua ribu lebih tamu yang di undang oleh kedua pihak keluarga.


Jingga terlihat begitu memukau, cantik, anggun, dan tentunya mempesona semua tamu yang hadir. Begitu juga sang suami, tak kalah bersinar nya. Sejujurnya dalam hati Jingga dia merasa was was akan kehadiran makhluk tak kasat mata yang bernama Jesika.


"Jangan tegang sayang, tersenyum lah, banyak yang melihat kita saat ini," ucap Bintang halus, suaminya itu seakan paham akan kegelisahan dirinya. Eh suami, Jingga malah terkikik dalam hati.


"Iya A', maaf maaf. Aku hanya takut tuh angry bird semakin angry tau kamu nikah sama aku," jawab Jingga dengan seulas senyum yang begitu menawan.


"Tenang lah, ayah dan Abang sudah membereskan semuanya." jawab Bintang santai.


"Hah!" kaget Jingga.


"Kok bisa?" Jingga seakan belum percaya.


"Kamu lupa mereka siapa?" tanya Bintang yang geli dengan sikap istri. Gadis yang baru beberapa jam dia nikahi. Kekasih halalnya.


"Ah iya ya," jawab Jingga dengan terkekeh, dia menertawakan ke konyolnya sendiri.


Acara berlangsung dengan lancar tanpa hambatan, semua berkat kesigapan sang Ayah dan sang Abang. Ternyata semua sudah di perkirakan dan di persiapkan dengan seksama.


Jika di pelaminan sana sepasang anak pengantin yang sedang berbahagia, tak berhenti mengulas senyum bahagia, berbeda dengan sang kembaran. Dia duduk sedikit lebih jauh, pandangan sendu menatap ke depan. Bukan bermaksud untuk tidak bahagia melihat kembaran nya sudah menemukan belahan jiwanya, hanya saja dia merasa kehilangan partner onarnya.


"Kenapa di sini sendiri?" tanya Awan yang tiba tiba sudah ada di sebelahnya.


Sejenak Senja membeku, dia benar benar belum siap untuk bertemu dengan laki laki yang dia cintai, Senja sadar jika cintanya bertepuk sebelah tangan, amka dari itu, dia putuskan untuk menjauh sementara waktu, hingga dia bisa menguasai perasaan nya.

__ADS_1


"Hay, kok malah diam," tegur Awan, saat Senja hanya diam saja.


"Eh kak Awan, ada apa kak?" Senja malah gugup, dia bahkan tidak sadar jika jarak di antara mereka sudah sangat dekat.


"Kamu kenapa? kok disini sendiri?" Awan, mengulang pertanyaan nya lagi.


"Ah, hanya ingin di sini saja, kak Awan, kenapa di sini juga?" Senja berusaha menetralkan rasa canggung nya, dia juga berusaha bersikap biasa saja.


"Hanya ingin menemani cewek cantik yang lagi sendirian." Awan, mencoba mencair kan obrolan dan dengan santainya dia duduk di samping Senja.


Senja yang mendengar ucapan Awan, menjadi semakin salah tingkah. Dia bahkan duduk dengan tidak nyaman. Apalagi sekarang dengan santai nya laki laki itu duduk di sampingnya.


(Auto meloncat loncat itu hati 😀)


"Udah makan kak," Senja berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Belum, habis gak ada yang nemenin," Awan berusaha memancing Senja, agar di ajak untuk makan bersama.


"Gak tau, tuh kulkas cari gandengan kali." jawab Awan, dengan mengangkat bahunya acuh.


"Oh mungkin saja, kak Awan gak ikutan? eh." Senja langsung menutup mulutnya saat menyadari ucapannya sendiri.


Awan yang mendengar ucapan Senja tersenyum miring, tanpa Senja sadari tentunya. Dan ini lah saatnya untuk berjuang, pikir Awan. Jika dulu dia yang tidak peka, maka saat ini dia sangat sangat tau. Dia bahkan hampir tiap malam gak bisa tidur karena terus teringat perkataan Langit sebulan yang lalu.


Perkataan Langit, seperti kaset kusut yang terus berputar putar menari di pikirannya. Hingga kini, disinilah dia berada. Dengan tekad ingin mempertahankan yang memang seharusnya dia perjuangan sejak dia tau ada hati yang tulus mencintai nya.


"Kamu, kan udah ada kamu." jawab Awan, dengan senyum serta tatapan yang tak berpaling dari Senja.


"Hah!" kaget Senja.

__ADS_1


Otaknya sejenak menjadi kosong, dia tidak bisa mencerna ucapan singkat dari laki laki disampingnya itu. Bagi Senja ucapan tadi terdengar ambigu dan seperti mimpi.


"Gue gak mimpi kan ini." batin Senja yang masih bergelut dengan pikirannya.


"Senja, hai." dengan lembut Awan, mengusap bahu Senja.


Hal itu sukses menghadirkan getaran halus pada keduanya. Hati yang semula berdegup kini semakin terasa menggila.


"Kamu hobi banget deh melamun," ucap Awan, saat dia sudah bisa menguasai debaran di hatinya.


"Ah, maaf kak, aku mau ambil minum dulu." jawab Senja dengan segera berjalan cepat untuk menghindar, dia bahkan tidak sadar, jika di sebelahnya sudah ada minuman yang dia ambil sebelum nya.


"CK, kok malah menghindar, tapi bikin gemes saja melihatnya yang gugup." kekeh Awan dengan gumaman nya.


"Jangan ngomong sendiri, ntar dikira gila, gue gak mau punya asisten dan calon adik yang gila." sambar Langit yang entah sejak kapan ada di belakang Awan.


"Woy, bisa gak sih gak usah ngagetin, kek jailangkung saja!" gerutu Awan yang benar-benar kaget.


"Serah gue lah," Langit dengan cuwek dan setelah itu dia memilih pergi begitu saja.


"Dasar kulkas, gak punya kaca! dia sendiri juga suka ngomong sendiri kek orang gila!" dumel Awan, yang akhirnya memilih menyusul Senja.


"Saatnya berjuang, semangat!" teriak Awan dalam hati.


*****®


Cie yang mau berjuang.


Bang Langit sadar bang, sadar. Ngatain orang, lah kamu juga sama 😂.

__ADS_1


Oke selamat berjuang eh selamat membaca 🤭


__ADS_2