Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
52. Cicak Dan Tokek


__ADS_3

Happy reading yess.


*****®


Waktu berjalan begitu cepat, perjalan cinta yang berliku kini sudah berada pada arahnya. Kapal berlayar dengan baik baik saja, meski kadang di terjang ombak kecil, namun baik sang nahkoda maupun penumpang nya berhasil melaluinya dengan baik.


Si kecil yang tumbuh dengan sangat baik, perkembangan yang selalu di pantau oleh kedua orang tuanya. Dan kini ia telah berusia 1th . Bahagia sudah pasti. Sebagai orang tua baru, mereka selalu belajar dari keadaan sekitar dan juga orang tua.


Bagi mereka contoh nyata keharmonisan dalam rumah tangga ada pada keluarga sendiri. Memiliki orang tua yang selalu terlihat harmonis dan juga romantis meski usia mereka sudah tak lagi muda. Hal itu pun akan Devan dan Naya lakukan.


"Sedang apa sayang? " tanya Devan dengan memeluk Naya dari belakang.


"Hanya sedang menikmati indahnya sore hari mas, " Naya menjawab dengan mengusap tangan yang melingkar di perutnya.


"Oh iya apa besok kita jadi ke rumah bunda?bunda jadi bikin acara? " Devan mencoba memastikan lagi.


"Hem iya, mas tau sendiri kan bagaimana bunda. Jika ia sudah berkehendak maka tidak ada yang bisa menolak nya. Jika menolak sama saja akan ada mendung di rumah besar. " jawab Naya sambil terkekeh mengingat kebiasaan bundanya.


"Kamu benar, dan bukanlah kita harus senang mempunyai bunda yang luar biasa seperti beliau? tidak membeda bedakan kasih sayang nya. Semua di beri dengan porsi yang sama. Bahkan untuk si kembar juga, " Devan benar benar salut dengan kebaikan bunda Mila.


"Ya itulah bundaku, bunda yang sangat istimewa. Tak pernah merendahkan orang lain. Selalu bersikap baik kepada siapa saja dan selalu membantu orang lain, bahkan di saat dirinya di sakiti pun masih saja bunda mau bantu orang yang udah nyakitin dia. Aku benar benar kagum sama bunda. " kenang Naya saat dulu bundanya hampir di celakai orang.


"Kamu beruntung sayang, dan selanjutnya aku juga beruntung karena masuk di keluarga mu, apalagi mendapatkan wanita sebaik dirimu, emm rasanya masih tak percaya saja, " puji Devan kepada Naya.


"Bisa saja kamu mas, " elak Naya dengan pipi merona.


"Udah sekarang masuk yuk, udah mau maghrib lho ini, ah iya Langit mana sayang? " Devan baru sadar jika belum melihat anaknya.


"Langit tadi sudah di bawa sama bunda, sejak siang, makanya aku merasa sepi, " keluh Naya.


Sedangkan Devan yang mendengar anaknya berada di rumah mertuanya, malah membuat pikiran nya berhamburan kemana mana. Dan dengan sekali gerakan ia menggendong Naya.


"Mas..., " jerit Naya yang kaget dengan ulah Devan secara cepat itu.


"Iya sayang, kenapa? " jawab Devan usil dengan senyum penuh misteri.


"Kenapa aku di gendong segala sih, turunin lah, malu mas..., " rengek Naya, ia teramat malu sama para pekerja di rumahnya.


"Kenapa mesti malu, mereka juga tau kalo kita suami istri dan hem mumpung Langit lagi di rumah bunda maka..., " ucapan Devan sengaja tergantung dan dengan cepat membawa Naya ke kasur mereka.


Setelah memastikan pintu terkunci tanpa menunggu lama, Devan langsung melucuti pakaian Naya dan juga dirinya. Sedangkan Naya hanya bisa pasrah saja jika sudah begini. Mau nolak juga takut dosa. Lagipula apa yang di katan suaminya juga benar, mumpung ada kesempatan.


"Emm apa ah mas Devan tidak lelah, ah kan baru pulang kerja-" Naya bertanya dengan menahan desah*n nya.


"Kamu penawar nya sayang, " jawab Devan dengan cepat.


Kini hanya ada irama syahdu dalam kamar itu, desah*n dan gerakan saling bersahutan mencari kenikmatan yang sedang mereka lakukan. Dinginnya AC kamar nyatanya tak mampu membuat mereka merasa kedinginan, justru peluh membanjiri keduanya.


Lenguhan panjang serta nafas yang menderu menandakan jika mereka baru saja mencapai titik tertinggi dari surga dunia itu. Rasanya ingin terus terulang lagi lagi dan lagi.

__ADS_1


"Mas sudah ya, kita sebaiknya segera mandi. Ini sudah semakin sore, dan bukannya tadi bilang mau maghrib ya? " Naya malah seperti orang bodoh saja.


"Kamu itu ya sayang, asik melamun, jadi gak ingat waktu. Kan tadi aku pulang jam 3 sore, terus kita ngobrol sebentar saja, jadi dari mana mau maghrib. Kalo sekarang baru benar, jadi ayo kita mandi, " Seru Devan dengan gelak tawa.


"Hais aku di bodohin ini mah, " grutu Naya..


Sedangkan Devan masih saja tergelak dengan ke polosan istrinya. Sungguh Devan teramat mencintai wanita yang sedang berada di gendong nya.


Setelah selesai, mereka kemudian menuju ke rumah utama. Devan dan Naya bermaksud ingin menjemput anak mereka. Tapi siapa sangka, jika sang anak malah enggan di ajak pulang. Alhasil Devan dan Naya di sana lumayan lama.


Mereka berkumpul di rumah keluarga, dan ternyata ada si kembar juga. Suasana menjadi ramai dan riuh, saat Anin kecil berulah. Dia dengan santainya duduk di tengah tengah Aby dan juga Langit yang sedang asik bermain. Anin malah dengan iseng nya duduk di atas lego yang baru saja di mainkan ala anak laki laki itu.


Akhirnya kedua bocah laki laki itu pun menangis dan ajaibnya Anin juga ikut menangis saat melihat kembaran nya menangis. Semua yang melihat tingkah mereka jadi tertawa di sertai gelengan kepala.


"Anakku ini kenapa jahil sekali sih nak, cup ya," ucap Zian dengan terkekeh dan menenangkan si baby Anin.


"Iya jahilnya sama kayak tantenya, " keluh Tia sang ibu.


"Kenapa aku di bawa bawa, makanya dulu jangan membatin aku, " sungut Naya.


"Siapa yang membatin kamu. " Tia menyanggah karena memang dia tidak pernah membatin Naya waktu dia hamil.


"Hahahaha Anin itu sama kayak pada (opa muda) nya sayang, dulu daddy mu juga orang nya jahil lho, " cerita mommy Vina.


"Ah ternyata, dari daddy, baru tahu aku mom, " Tia baru tau jika ayahnya ternyata jahil.


"Siapa?" tanya Al acuh tak acuh.


"Hem itu cowok dingin yang super dingin, sok sok an gak ngerasa, " Naya masih saja menyindir sang adik.


"Kata siapa? " Al mulai merespon.


"Tuh tadi ada cicak lewat, " Naya menjawab dengan acuh pula.


"Sejak kapan cicak punya suara? aku kira tokek yang punya suara, " Al malah menanggapi ucapan kakaknya.


"Lah emang cicak ada suaranya kan? kenapa jadi tokek? " kedua kakak beradik itu malah semakin absurd saja, sedangkan yang lain hanya ingin jadi pendengar.


"Lah aku kan benar, cuma tokek yang punya suara, narsis pula. Yang lain apa ada, " Al semakin gila.


"Ya adalah Al, kamu ini mulai gak paham apa gimana?" tanya Naya yang mulai geram.


"Ya kali ada hewan yang suaranya nyebutin diri sendiri selain tokek. Gak ada kan? cuma tokek yang buka suara dan nyebutin dianya sendiri.


" Lah ni anak, malah ngajak bahas tokek sama cicak, " grutu Naya.


"Lah tadi siapa yang duluan? kan aku cuma benerin saja. Kan bener kan, coba saja lihat harimau kalo buka suara pasti mengaum, kali burung pasti beragam, kalo ayam juga pasti itu, nah kan cuma tokek yang suara nya juga tokek bukan suara lain, " Al masih saja.


"Hais dasar jomblo ngenes ya gitu. " Naya yang mulai kalah berdebat.

__ADS_1


"Kata siapa? aku gak ngerasa tuh, " jawab Al masih saja nyebelin.


"Kata cicak, " kembali Naya membawa bawa cicak.


"Mana ada, cicak itu gak bisa buka suara, hanya ekornya saja yang goyang goyang. Gak percaya? aku carikan deh, " Al semakin absurd saja.


"Au ah Al... ngomong sama kamu emang bikin gemes, terbiasa diam, eh sekali ngobrol malah gak karuan. " keluh Naya.


"Serah, " Al menjawab dengan mengangkat bahunya acuh.


" Kau-" ucapan Naya terhenti saat bunda buka suara.


"Masih mau lanjut bahas cicak sama tokek nya? kalo iya kalian lanjut di belakang saja, kami mau makan malam, " akhirnya bunda angkat bicara setelah sejak tadi hanya diam mendengarkan ke dua anaknya yang memang jarang akur, namun itulah cara mereka saling menyayangi.


"Udah bun, kesel juga ngobrol sama beruang kutub, " keluh Naya.


"Salah siapa, " Al menjawab dengan santai dan berlalu ke arah ruang makan.


Sedangkan yang lain hanya bisa tertawa melihat Naya yang memang selalu kalah jika sudah berurusan dengan Al.


"Dek dek, masih saja suka ngusik dia, " Zian menanggapi dengan gelengan kepala. Sedangkan Naya dengan manja nya malah memeluk Zian sang kakak.


"Kakak sih kenapa gak bantuin tadi, " rengek Naya.


"Ogah, salah siapa ngajak dia perang duluan, " Zian terkekeh dengan sikap Naya yang menurutnya masih saja manja.


"Yank malu sama anak, masak peluk peluk kak Zian sih, " Devan cemburu melihat Naya memeluk kakak nya.


"Hey ini adikku lho, mask gitu aja cemburu, " cibir Zian.


"Abang..., " panggil Tia dengan nada rendah.


Glek. Zian susah payah menelan salivanya mendengar istrinya sudah memanggilnya dengan nada rendah.


*Alamat ini mak, panjang cerita nya* batin Zian.


Dan akhirnya mereka tergelak bersama melihat Zian yang diam tak berkutik dengan panggilan sang istrinya.


*****®


Ya ampun Al... kalo udah mau ngobrol kok ya malah jadi gak karuan gitu.


Segala cicak dan tokek di bahas lagi 🙄 hadeh emak jadi bingung ini.


Ya wes lah, kasih Al hadiah biar dia anteng lagi. 😅😅😅


Makasih semuanya yang udah selalu setia di sini.


Love love sekebun singkong.

__ADS_1


__ADS_2