
Happy reading yes....
*****®
Hari berganti hari, begitu seterusnya, bergulir begitu cepat, kini Devan dan Naya sudah kembali ke tanah air, semua sudah di persiapkan dengan matang.
Perusahaan juga telah berpindah pusat nya, Devan dan Naya sangat bersyukur untuk semua itu. Begitu pula dengan yang lainnya.
Anak anak tumbuh dengan sehat, baik dan jangan di lupakan menguji kesabaran, terutama si kembar, namun tidak bagi Langit.
Sosok anak laki laki yang kini sudah berusia 10 tahun itu begitu mempesona, dia terlihat tampan dan jangan lupakan sikap dingin namun bisa ramah dalam keadaan tertentu.
Langit bahkan sering mengikuti berbagai lomba dan hasilnya tentu saja gelar juara yang selalu dia dapat.
Jika Langit membuat orang tuanya bangga dengan prestasi, lain cerita nya dengan si kembar, mereka memberikan kesabaran yang bertingkat tingkat untuk menghadapi kelakuan mereka yang semakin menjadi.
Bahkan terkadang sang kakak yang berada satu sekolah dengan nya di buat pusing. Seperti saat ini misalnya.
"Jingga, Senja!" panggil Langit dengan nada geramnya.
"Kalian bikin ulah apa lagi huh!" tanya Langit saat dia sudah berat di depan sang adik yang kini berada di ruangan guru kelas mereka.
"Kami tidak berbuat apa apa kok bang," Jingga menyanggah nya.
__ADS_1
"Dia aja yang lemah, tapi sombong," kini Senja yang menjawab.
"Memang kalian ngapain sih? Abang sampai malu lho ini," kini suara Langit berubah lebih halus.
"Kami hanya bikin bajunya basah, hihihi," jawab Jingga malah dengan tertawa geli.
"Astaga, kalian ini, bisa tidak untuk jangan berbuat ulah," pinta Langit dengan suara lemah menahan marahnya.
"Habisnya dia itu suka sekali berbuat curang, suka nyontek Abang," rengek Senja jurus andalannya.
"Ya kalian kan bisa bilang sama guru kalian, tidak usah begitu kenapa?" masih dengan kesabaran nya.
"Ah kalo bilang Bu guru gak asik," bukanya menyesal malah kini keduanya terkikik dengan menutup mulutnya.
"Huh, ada ada saja, ampun deh, bunda dulu ngidam apa sih pas hamil adik adik," grutu Langit sepanjang jalan menuju kelasnya.
"Aku jadi malu, bener bener deh, punya adek satu bikin pusing, eh ralat dua tapi satu," desah nya lagi dan kini dia sudah duduk anteng di kelasnya.
"Napa Lang? adik kembar mu bikin ulah lagi ya?" tanya teman sebangku Langit yang bernama Adam.
"Iya Dan, aku sampai bingung, kesel, malu juga," curhat Langit dengan kepala yang dia tundukkan di meja.
"Sabar Lang, mungkin nanti ketika mereka tambah besar gak lagi," Adam dengan penghiburan nya.
__ADS_1
"Ah semoga saja," Langit mengamini.
Pelajaran dimulai dan Langit langsung saja memperhatikan dengan serius, bahkan terkadang Sakin seriusnya ketika Adam bertanya hanya akan di jawab dengan deheman saja.
"Lang, aku nanti ajari yang nomor lima ya," pinta Adam di sela sela pelajaran sedang berlangsung.
"Hem," hanya di jawab itu saja.
"Lah, kamu dengar gak sih Lang?" Adam memastikan lagi.
"Ya," sesingkat itu Langit akan menjawab ketika dia sedang serius.
"Et dah, begini nih kalo punya teman setengah kutub, aih udah lah," grutu Adam yang akhirnya ikutan diam dan mencoba memperhatikan.
Dan seperti itulah seorang Langit yang sebenarnya, Langit yang hanya akan bersikap hangat di waktu tertentu dan di keadaan tertentu.
Jika sang Abang sedang serius belajar, berbeda dengan nasib sang adik kembar yang kini di hukum untuk hormat bendera yang ada di depan ruang kepala sekolah.
*****®
Nah kan kena hukuman, jahil sih hehehe.
Jangan lupa dukungan kalian sangat berarti, terimakasih.
__ADS_1