
Happy reading yess..
****®
Hoek hoek hoek
Pagi ini seperti biasa, sudah terhitung lima hari lamanya Devan selalu muntah di pagi hari dan hal itu membuat Naya semakin khawatir.
"Mas sebaiknya segera ke dokter ya, aku benar benar gak tega lihat mas begini, " lagi lagi Naya menyarankan namun Devan tetap menolak.
"Mas gak apa apa sayang, nanti juga akan enakan sendiri dan akan baik baik saja, mungkin mas cuma kelelahan. " jawab Devan masih masih dengan ngeyelnya.
"Mas tolong kali ini saja, turutin Naya ya, kalo tidak kita panggil dokter kesini ya, mas ya? " pinta Naya dengan sangat.
"Huft, baiklah yank, " akhirnya Devan mengalah, ia sungguh tidak tega lihat wajah cemas sang istri.
"Baiklah sekarang mas tiduran dulu, Nay mau buat bubur seperti biasa dan telfon dokter ya mas, " pamit Naya setelah membantu Devan berjalan ke kasur mereka.
Melihat Devan yang lemas tak bertenaga Naya semakin merasa iba. Di usap kening suaminya dan menyelimutinya.
Lekas ia ke dapur dan memasak bubur untuk suaminya. Naya kini semakin pandai memasak berkat gigihnya ia belajar dengan bunda nya atau ibu mertuanya.
"Mas bangun sarapan dulu yuk, " Naya mengusap lembut pipi suaminya.
"Makasih sayang, maaf merepotkan mu, harusnya kamu tidak perlu se repot ini. " Devan merasa kasihan melihat sang istri yang harus merawat nya setiap pagi.
"Itu sudah menjadi kewajiban ku mas, merawat suami adalah ibadah, dan aku melakukannya dengan ikhlas, " jawab Naya memberikan secangkir teh hangat yang sudah dia campur dengan jahe.
"Bahagianya aku mendapat cinta mu yank" ungkap Devan dengan tatapan penuh cinta.
"Aku pun mas, " Naya menimpali.
Setelah selesai sarapan, dokter yang tadi di hubungi Naya sidah datang. Ia langsung memeriksa tubuh Devan dan menanyakan keluhannya apa saja.
__ADS_1
Devan menceritakan semuanya, tentang dirinya yang muntah muntah di pagi hari namun akan segar setelah lewat jam delapan pagi. Dokter diam mendengarkan dengan seksama. Kemudian dokter menjelaskan jika Devan baik baik saja, namun jika dugaannya tidak salah maka Devan memang sedang mengalami morning sickness yang biasa di alami oleh ibu hamil pada umumnya namun Devan yang mengalami nya.
"Maaf tuan, sebenarnya anda baik baik saja, kondisi tubuh anda juga baik, hanya saja saya ingin bertanya kepada anda nona, apa nona bulan ini sudah mengalami fase menstruasi? " tanya sang dokter hati hati.
Naya diam sejenak untuk berfikir, dia lupa jika memang benar bulan ini belum dapat tamu bulan nya. Dengan perasaan berkecamuk Naya mengangguk samar.
"Hem jika benar dugaan saya, maka tuan Devan sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik, ini biasa di alami oleh beberapa orang. Saran saya coba nona lakukan tes dengan alat ini, " tutur dokter yang memang selalu membawa benda pipih itu di setiap dia melakukan pemeriksaan di keluarga pasien yang memanggilnya ke rumah, untuk sekedar berjaga jaga jika di butuhkan seperti sekarang ini.
Dengan sedikit ragu Naya meraih benda tersebut dan berjalan ke kamar mandi. Sedangkan Devan menunggu nya dengan perasaan tak menentu, harap harap cemas yang Devan rasakan.
Naya keluar dengan perasaan membuncah, ia memberikan benda pipih itu kepada sang dokter. Dokter menerima nya dan langsung melihat hasilnya, dugaan nya benar, saat ia melihat dia garis merah pada benda itu.
"Selamat pak, apa yang saya katakan ternyata benar, anda sedang mengalami morning sickness menggantikan bu Naya. Sepertinya sang jabang bayi ingin ayahnya yang sedikit kesusahan, bukan ibunya. " goda sang dokter.
"Be be benarkah itu dok? istriku sedang hamil? apa benar sayang? " tanya Devan dengan mata berkaca kaca.
"Iya mas, " jawab Naya tak kalah haru, dia bahkan sudah menangis dalam senyum harunya, dan langsung memeluk suaminya.
"Sekali lagi selamat untuk anda pak Devan dan bu Naya. Sebaiknya lekas di periksakan ke dokter kandung agar lebih jelas berapa usia janin nya. " saran dari dokter sebelum pamit.
"Terimakasih sayang... karena sudah memberiku hadiah terindah, " ucap Devan dengan nada bergetar.
"Aku juga berterima kasih karena mas mau menggantikan aku untuk mual mual, " canda Naya dalam tangis haru nya.
"Itu tandanya aku sangat mencintaimu dan juga anak kita sayang, anak kita tau dia ingin ayahnya ikut merasakan susah ibu hamil di awal kehamilan, " jawab Devan dengan senyum merekah dan rasa syukur tak terhitung.
Setelah memastikan semuanya, kini mereka sedang menuju ke rumah utama
Devan Naya sudah berpesan bahwa mereka punya kejutan dan meminta untuk semua berkumpul, termasuk kedua orang tuanya yang juga hadir di rumah keluarga Angkasa.
"Assalamu'alaikum " ucap Devan dan Naya secara bersama sama kepada seluruh anggota keluarga yang sudah berkumpul. Bahkan mereka semua sampai tidak kekantor karena ingin tahu kejutan apa.
"Waalaikumsalam , " jawab semuanya dengan kompak.
__ADS_1
Naya dan Devan di minta untuk segera duduk dan memberitahu kejutan apa yang mereka bawa. Semua orang sudah tidak sabar dengan kejutan itu.
"Bismillah, maaf sebelumnya membuat kalian semua bolos kerja dan heboh begini, kami ingin memberi tahukan jika saat ini Naya tengah mengandung -" belum sempat Devan meneruskan ucapannya, bunda dan yang lain sudah memotong nya dengan suara heboh.
"Benarkah nak? sejak kapan? lalu kamu bagaimana? apa mual mual? ingin makan apa? sudah berapa bulan? kamu -" ucapan heboh bunda di tutup ayah dengan tangannya.
"Ssstt kamu itu yank, lihatlah putrimu sampai bingung mau jawab yang mana dulu, dengan mereka penjelasan mereka oke, " dengan sikap lembut nya ayah mengingat kan bunda.
"Ah iya ayah benar, bunda terlalu heboh sampai gak kontrol, maaf sayang, " ucap bunda dan malah mengecup pipi suaminya. Sedangkan yang lain memutar bola matanya jengah melihat kelakuan ayah dan bunda nya itu.
Akhirnya Devan menjawab semua pertanyaan bunda. Naya yang usia kehamilan baru memasuki lima minggu dan dirinya yang mengalami gejala muntah muntah nya.
"Wah selamat ya sayang, selamat menikmati ke sengsara an di pagi hari, " tidak ibunya Devan.
"Lah ibu ngasih selamat kok sambil ngeledek, " dengus Devan.
"Hahahaha biar kamu tau rasanya jadi perempuan hamil itu kayak apa, " kini bunda mertua ikutan meledek.
"Santai son, dulu ayah juga gitu waktu bunda hamil di gunung es, " ayah menenangkan Devan.
"Benarkah yah? wah apa nanti anak pertama kita berjenis kelamin laki laki ya, " jawab Devan dengan antusias.
"Bisa jadi, tapi yang jelas mau laki laki atau perempuan yang penting sehat dan lancar semuanya, " doa ayah yang di amiini oleh semuanya.
"Iya yang yang terpenting itu. " jawab Devan dengan bahagia nya.
******®
Mau minta cowok apa cewek nih?
Jangan minta kembar lagi lho ya, kan udah ada kembar anaknya dari kakak Zian dan kak Tia.
Hem sambil mikirin, yuk jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah nya ya, serta rate lima bintang nya dan tap tanda love serta bagikan ke teman teman.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏😊🤗🤗