
Happy reading yes...
****®
Satu Minggu telah berlalu dari hasil pengumuman yang ada, kini semua siswa dan siswi kelas 3 SMA sudah bersiap untuk menghadiri acara perpisahan yang sudah di rencanakan.
Langit yang sebenarnya sangat enggan akhirnya harus tetap datang, mengingat dia adalah lulusan terbaik dan yang membuat dia malas, mungkin identitas nya akan di ketahui jika yang datang adalah sang bunda.
Langit benar benar frustasi di buatnya, dia benar benar tidak ingin ada yang tau siapa dirinya yang sebenarnya, tapi apa mau di kata jika sudah begini.
"Akh boleh gak sih gue langsung pergi ke keluar negeri saja buat kuliah," keluh Langit saat dia melihat dirinya sendiri di depan cermin.
"Hem, yang gak sabar mau bebas," sindir bunda Naya.
"Eh, gak gitu Bun, bener deh, Langit males banget Bun kalo harus ketahuan siapa aku sebenarnya," akhirnya Langit mengakui di depan ibunya.
"Memang kenapa sayang? kan gak ada yang salah?" tanya bunda Naya dengan hati hati.
"Memang tidak salah Bun, tapi pasti dengan begitu akan makin banyak yang ngejar ngejar Langit dan -" ucapan Langit di potong oleh bundanya.
"Dasar narsis, kamu," cibir bunda sekaligus mencubit lengan Langit.
"Aw," sakit Bun.
"Udah gak usah banyak alasan, toh kalo mereka tau juga kan kamu bentar lagi berangkat ke London buat kuliah, jadi gak masalah kan," kali ini bunda mengatakan dengan serius.
__ADS_1
"Huft, iya deh Bun. Yawes ayo berangkat," ajak Langit pada akhirnya.
"Nah gitu donk, kan sudah ganteng gini, masak gak jadi berangkat, kan sayang bajunya.", bukannya menghibur sang bunda malah menggoda dan mengejek nya.
"Bun," rengek Langit.
Begitulah Langit jika sudah bersama sang bunda, dia akan jadi sangat manja. Naya sampai di buat bingung oleh kelakuan anak laki lakinya itu. Jika di luar dia akan di kenal dengan sebutan kulkas lah, es balok lah, es serut lah, kutub es, beruang kutub dan masih banyak lagi, tapi giliran di rumah dan bersama dirinya, anak laki-lakinya itu akan menjadi jahil, manja, dan cerewet.
"Ngidam apa aku dulu," ucap Naya menerawang, namun setelahnya dia malah terkikik geli mengingat semua ngidamnya.
"Ngomong sendiri, geli sendiri, bahaya Bun bahaya," canda Langit yang melihat tingkah bundanya.
"Dasar kurang ajar, maksud mu bahaya apanya hah!" sembur bunda Naya.
"Lah bunda itu, ngomong sendiri, senyum sendiri, ketawa sendiri, kan Langit jadi takut, takut bunda kebablasan-,"
"Anak kurang asem, mau ngatain bunda gila gitu hah! oo awas kamu, tak sunat dua kali baru tau rasa!" sungut bunda Naya sambil terus saja memukuli Langit.
"Adu, ampun bunda, buka gitu maksud Langit, yakin deh bukan itu," langit mencoba mengelak.
"Bohong, dasar kulkas sableng," omel bunda yang masih belum mereda.
"Yah bantuin lah," Langit mencoba meminta bantuan.
"Ogah, salah siapa cari gara gara, ayah mah cari aman saja, rasain tuh," bukanya menolong sang ayah malah menjawab dengan gaya yang menyebalkan.
__ADS_1
Sedangkan Langit yang duduk di belakang bersama bunda masih saja kena pukul. Dan sang ayah hanya diam saja duduk anteng di samping sang supir.
Mereka memang memutuskan untuk memakai jasa pak supir karena sang ayah baru saja pulang dari luar kota.
"Hadeh punya ayah tega bener deh, ah elah remuk remuk nih badan, nasib oh nasib" keluh Langit lagi dan di sambut gelak tawa oleh Ayah Devan dan pak supir.
Sedangkan sang bunda diam diam mengulum senyumnya. Bagi Naya, melihat Langit yang seperti ini adalah hal yang menyenangkan, apalagi sebentar lagi mereka akan terpisah jarak dan waktu.
"Udah ya Bun, ini baju aku kusut lho, ntar aku gak ganteng lagi," di saat begini masih saja dia bisa narsis.
"Serah deh bang, serah," bunda masih saja mencubit lengannya, meskipun sebenarnya yang Langit rasakan bukan cubitan melainkan usapan biasa.
"Udah sayang, kasihan anak kita, nanti kalo dia nangis kan malu sama julukan kulkas berjalannya," ayah memang menenangkan sang bunda tapi di balik itu ada nada ejekan untuk Langit.
Sedangkan Langit hanya memutar bola matanya malas. Namun dalam hatinya dia sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti ayah dan bundanya. Mereka selalu akur dan tidak pernah bertengkar, kalaupun sedang berselisih paham pasti akan terlihat baik di depan anak anak nya.
"Terimakasih, karena telah menjadi orang tua yang baik untuk ku dan adik adik," batin Langit.
******®
Up up up terus.
Berarti like like like, komen komen komen terus.
Dan gift gift gif terus juga hihihi.
__ADS_1
Terimakasih, lope lope buat kalian sekebun toge.