Cinta Devan Untuk Naya

Cinta Devan Untuk Naya
126. Tanpa Judul


__ADS_3

Happy reading yess...


*****®


Pagi menjelang, Bulan dengan perlahan mulai mengerjap matanya, cahaya yang begitu terang sedikit membuat nya silau. Setelah sesuai, dia tersentak kaget saat melihat ruangan yang berbeda dengan ruang yang terakhir dia lihat. Ada perasaan takut merajai hati nya, apalagi saat ia mendengar suara dengkuran halus pertanda ada orang lain di sampingnya. Hampir saja Bulan, berteriak, namun dia tahan, dan dengan perlahan dia berbalik badan.


"Abang," batin Bulan, saat melihat siapa yang tengah tidur di sampingnya dan memeluk nya begitu posesif.


Bukanya membangun kan sang suami, Bulan malah asik melihat setiap inci wajah suaminya, ya Bulan akhirnya ingat, jika dia sekarang sudah bersuami. Wajah tampan di depannya, begitu menyita perhatiannya, alis yang tebal dan hitam, mata yang begitu teduh saat melihatnya, hidung yang mancung, dan bibir yang kadang mengeluarkan kata kata pedas, tanpa sadar Bulan tersenyum, ia bahkan menyentuh nya dengan perlahan, hingga.


"Apa aku begitu tampan?" ucap Langit, dengan suara serak nya, bahkan kini tangannya sudah menggenggam tangan Bulan.


Deg, Deg, Deg.


Bulan, mematung di buat nya, ia tidak sadar, jika yang di lakukan sudah membuat tidur sang raja hatinya terusik. Dan lihat lah sekarang, tatapan itu seakan menghipnotis dirinya. Kecupan lembut di kening menyadarkan akan kejadian manis pagi ini.


"Selamat pagi sayang, bagaimana tidur mu? nyenyak?" tanya Langit, yang masih menggenggam tangannya.


"I iya bang," gugup? ya itu yang di rasakan Bulan saat ini.


"Syukurlah kalo tidurmu nyenyak," Langit, begitu lega mendengarnya, dia dekap erat kembali tubuh di depannya, seakan takut hilang.


"Bang," panggil Bulan dengan pelan dan berusaha melihat Langit.


"Ya, kenapa?" tanya Langit, dengan heran.


"Kenapa aku bisa di sini? terus ini kamar siapa?" tanya Bulan, yang memang sejak tadi dia sangat kaget.

__ADS_1


"Ya karena aku yang pindahin lah, dan ini kamar ku yang sekarang jadi kamar kita," jawab Langit, dengan kedua alisnya naik turun tanda menggoda Bulan.


"Hah,kol bisa!" kaget, dan berusaha untuk bangun.


"Kamu lupa siapa suami kamu? ya pasti bisa lah, dan sekarang diam, jangan banyak gerak, kalo tidak mau Abang gerakin kamu," jawab Langit dengan seringai yang mengerikan dan tak lupa ucapan yang tak di mengerti Bulan.


"Maksudnya apa? aku bisa gerak sendiri bang," dengan polosnya Bulan malah berkata demikian.


"Benarkah? apa Abang boleh lihat?" lagi lagi pertanyaan ambigu, tapi di tanggapi lain oleh Bulan.


"Ya bisalah, kan aku gak sakit bang, udah sembuh juga, jadi bisa bergerak kesana kemari sendiri," masih dengan kepolosan yang hakiki.


"Kalo bergerak di atas Abang bisa?" bisik Langit, dengan mengecup telinga Bulan.


Seketika otak pintar nya bekerja, Bulan seperti kepiting rebus mendengar ucapan Langit, dia dengan cepat menyembunyikan wajahnya di dada Langit. Sedangkan Langit, dia malah tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah sang istri yang berhasil dia kerjai.


"Mandi sendiri, aku bisa!" Bulan, dengan cekatan langsung turun dari ranjang, tak lupa dia melempar bantal ke wajah suaminya, untuk menutupi rasa malunya.


Tawa Langit, kembali pecah, dia bahkan sampai duduk dan memegangi perutnya yang kaku karena kebanyakan tertawa, setelah berhasil menguasai keadaan, barulah dia beranjak turun untuk membereskan tempat tidur nya.


"Melihat mu seperti saat ini, adalah hal terindah untuk hidup ku, teruslah bahagia, agar aku dapat hidup dengan baik bersama tawa bahagia mu, karena kamu, bagian terpenting dalam hidupku," batin Langit.


Langit, masih duduk diam di balkon kamarnya, dia sedang menikmati pagi yang indah, seindah nama yang kini tersemat di hidupnya. Bulan yang akan selalu menghiasi Langit. Itulah yang selalu Langit tulis pada setiap akun pribadinya. Menandakan sebesar apa dia mencintai Bulan.


"Abang, ngapain? segera mandi bang," Bulan, dengan perlahan mendekat dan duduk di samping suaminya.


"Sebentar," hanya itu yang Langit ucapkan, setelah nya, dia membawa Bulan kedalam pelukannya, menghirup aroma blossom yang begitu lembut.

__ADS_1


"Terimakasih bang, sudah menerima ku untuk berada di samping mu, maaf jika aku pernah di jamah laki laki lain, dan ak-" ucapan Bulan, langsung di bungkam dengan ciuman oleh Langit.


Langit, tidak pernah suka, jika Bulan, selalu menyebut dirinya kotor, menyebut dirinya kurang, karena demi apapun, Bulan tidak akan pernah ada kurang nya di mata Langit.


"Stop berkata seperti itu, bagiku kamu mutiara paling berharga di dunia ini, kamu bahkan lebih dari berlian termahal di dunia, dan jika ada yang bisa menggambarkan lainnya, maka kamu adalah perhiasan paling istimewa di hidupku, jadi aku mohon, jangan buat dirimu rendah lagi karena aku tidak akan sanggup mendengar nya," ucap Langit, saat dirinya melepas tautan bibir keduanya.


Sedangkan Bulan, hanya bisa diam mematung, dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan serangan dadakan seperti ini, dan ciuman pertamanya, berhasil dia berikan kepada sang suami.


Gup


"Jangan melamun, Abang mandi dulu," dengan usil nya, dia kecup kembali bibir itu dan langsung berlari ke kamar mandi.


"Dasar, gunung es," Bulan tersenyum sendiri.


"Jangan mengatakan itu sayang," teriak Langit, dari dalam kamar mandi.


"Eh, dia denger," Bulan, terkikik mendengar peringatan dari Langit.


Akhirnya, End.


******®


Tapi bohong 😂😂🤭


Yuk vote nya donk kakak semua.


Xixixixi, terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2