
Happy reading yes...
*****®
Perjalanan yang tak mudah telah di lewati oleh Naya dan juga Devan. Kini mereka tengah berbahagia dengan hadirnya malaikat kecil.
Lucu dan menggemaskan, sebagai orang tua baru. Meraka masih suka di bantu oleh sang bunda ataupun ibu. Karena pada kenyataannya mengurus bayi bukanlah hal mudah. Butuh tenaga ekstra, dan kecekatan. Tak jarang juga rasa lelah dan kurang tidur akan terasa. Namun itu semua akan terganti oleh kebahagiaan ketika melihat tumbuh kembang sang anak.
Tak beda jauh, waktu bersama pasangan juga pasti akan berkurang. Seperti saat ini Devan yang sangat manja kepada Naya.
"Yank, mas rindu, " ungkap Devan dengan memeluk manja Naya.
"Rindu rindu, orang kita ketemu juga tiap hari, aku gak kemana mana, ada ada saja kamu ini mas, " ucap Naya dengan terkekeh melihat sikap suaminya.
"Beneran yank, kamu sekarang mah terlalu asik sama dedek, akunya di abaikan, " masih saja mengeluh.
"Hay dia anak kita lho? ya ampun kamu cemburu sama dia? hadeh ada ada saja kamu ini mas. " Naya benar benar di buat takjub dengan kelakuan suaminya ini. Bisa bisanya cemburu sama anak sendiri.
" Ya kamu nya, main sama dia terus, main sama aku kapan? pegang ini saja sekarang gak boleh, apa lagi yang lain, " masih saja dan kini tangannya sudah merayap kemana mana.
" Sabar mas, ini baru sebulan loh, kamu itu masih harus puasa sampai dua bulan, dan itu artinya masih ada sebulan lagi, " Naya tergelak melihat wajah syok suaminya.
"Hah dua bulan? bukannya cuma 40 hari? kamu jangan ngada ngada deh yank, " Devan menjawab dengan wajah kesalnya.
"40 hari itu habis masa nifas nya mas, kan juga harus pemilihan bagian yang kamu suka, masak iya gak di kasih jeda dulu, pasti rasanya masih linu tuh jahitan. " ungkap Naya berusaha menjelaskan.
"Aish lamanya... alamat karatan dong yank kerisku, " Devan masih kekeh menawar.
"Dua bulan atau tiga bulan? " ancam Naya dan sukses membuat Devan kesal.
"Dek, lihat tuh bunda kamu, masak ayah di suruh puasa lama amat. Kamu tau gak kan rasanya gak enak, " bukannya diam Devan malah mengadu sama anaknya yang sedang asik tidur di box bayi nya.
Plak...
Naya memukul bahu suaminya, dia benar benar merasa gemas melihat kelakuan suaminya ini.
Sebenarnya Naya hanya bercanda saja. Dia benar benar ingin mengerjai suaminya. Dan lihatlah sekarang, dia bak anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Sakit yank..., " rengek Devan akibat pukulan Naya.
"Salah siapa, makanya jangan usil deh, udah sekarang tidur. Udah malam jangan ganggu anak kita, " perintah Naya.
"Iya ya, udah gak dapat jatah masih kena omel. Heran deh, wanita kalo udah punya anak galak nya keluar, " Devan berjalan ke arah kasur sambil menggerutu.
"Bilang apa mas? " Naya bertanya karena suara Devan terdengar samar samar.
"Gak, aku cuma lagi nyanyi, " elak Devan. Bisa bahaya kalo Naya mendengar nya.
Akhirnya mereka tidur setelah drama rengekan Devan yang tak mau kalah dari Langit anak mereka.
******®
Devan kini sedang bersiap untuk bekerja, tepat di saat dirinya tengah memanggil Naya untuk memasang kan dasi, sang anak menangis.
__ADS_1
Devan benar benar di buat gemas oleh tingkah Langit. Dia selalu saja menyela di saat dirinya ingin bermesraan dengan Naya.
"Hais anak kamu itu benar benar deh, kayak gak rela lihat ayah nya di perhatikan sama bundanya. " Devan mengatakan itu sambil berjalan melihat sang anak yang kini sudah berada di gendongan Naya.
"Kan kamu yang bikin juga, " jawab Naya sekenanya sambil mulai memberikan asi kepada Langit.
"Yank, itu kalo di minum Langit semua, aku gak dapat donk? " dengan usil malah membahas sumber asi Langit.
"Apaan, kamu itu ya mas..., " Naya merasa malu dengan ucapan vulgar suaminya.
"Hahahaha kenapa wajahmu memerah yank? kamu malu? oh atau kamu membayangkan kalo aku yang kayak gitu? " goda Devan dengan jahil nya.
"Mas..., " desis Naya semakin malu saja.
Sejujurnya Naya juga merindukan bisa berduaan dengan suaminya. Sudah dua bulan usia Langit tapi mereka masih belum saling menyapa.
Bukan karena tak mau, tapi karena ulah si kecil yang memang suka pas. Langit akan segera menangis saat ayah dan bundanya sedang bermesraan. Seakan-akan dia cemburu dan merasa terabaikan. Padahal sebelum nya dia tidur dengan tenang dan nyenyak.
"Hayo melamun, pasti lagi ngebayangin kan? " masih saja Devan membahas hal itu.
"Mas bisa diam gak?atau mau aku batalin jatah nanti malam, " ancam Naya yang sudah sangat malu dengan godaan suaminya.
"Jangan donk, kan ini udah boleh masak iya gak dapat lagi, bisa bisa karatan beneran lho ini," sanggah Devan cepat dengan iseng nya menarik tangan Naya dan menempelkan nya pada kerisnya.
"Mas Devan..., " jerit Naya tertahan dan sangat malu dengan kelakuan suaminya.
Sedangkan Devan malah dengan santainya tertawa lepas, hingga membangun kan Langit.
"Nah kan nangis, kamu sih mas, " keluh Naya.
Sedangkan Naya, setelah Langit di bawa suaminya, dia segera menuju meja makan untuk menyiapkan bekal sang suami.
Selama ini memang Devan selalu ingin makan makanan dari rumah. Jika dulu sebelum ada Langit, Naya yang akan ke kantor pada jam makan siang. Kali ini setelah ada Langit, maka Devan akan membawa bekal nya.
Ia hanya akan sesekali makan di luar, saat ada klien yang meminta pertemuan nya sekalian makan siang.
Bahkan kadang, Devan memilih untuk pulang dan makan siang di rumah bersama sang istri.
"Mas..., " panggil Naya.
"Iya yank, " jawab Devan yang masih anteng di ayunan.
"Sini biar Langit sama mbak yang jaga, kita sarapan dulu, bekal mas juga udah siap, " ajak Naya dan segera memberikan Langit kepada babysitter nya.
"Nitip jaga Langit bentar ya mbak, " ucap Naya dengan sopan, meski pun dengan babysitter sekalipun.
"Iya nyonya, " jawab sang babysitter tak kalah sopan.
Akhirnya Devan dan Naya makan dengan dengan tenang. Sesekali mereka saling menyuapi. Hal biasa yang sudah mereka lakukan sejak mereka menikah dan pindah ke rumah baru.
Devan akan dengan senang hati menyuapi Naya makan, tak jarang Naya juga akan bergantian menyuapi Devan.
"Sayang, kayak nanti bunda atau ibu gak bisa kesini, buat bantuin kamu. Apa kamu bisa ngurus Langit sama mbak Ina saja? " tanya Devan dengan cemas, ia kasihan melihat Naya yang harus kerepotan. Apalagi asisten rumah tangga mereka ada yang ijin satu.
__ADS_1
"Tidak apa apa mas, aku sekarang sudah lebih lancar ngurus Langit, apalagi mbak Ina juga sudah berpengalaman kok," Naya menjawab dengan senyuman agar suaminya tidak perlu cemas.
" Baiklah, jika kamu kerepotan, jangan sungkan telfon mas ya. " Devan masih saja merasa cemas.
"Hahahaha oke oke sayank, udah gak usah cemas gitu, aku udah bisa mas, percaya deh, lagian ini udah dua bulan dan aku udah benar benar pulih dan kuat. " Naya menenangkan suaminya.
"Baiklah, kalo gitu mas berangkat ya. " pamit Devan dan "Cup" Devan mengecup kening dan bibir Naya sekilas, dan tak lupa pamit kepada anak nya.
*****®
Malam menjelang, setelah sibuk dengan rutinitas kerja yang luar biasa, kini Devan bisa bersantai bersama sang istri.
Devan merasa tempat paling nyaman adalah pelukan istri nya. Seperti saat ini, ia tengah menyerukan wajahnya di ceruk leher Naya. Rasa rindu untuk memadu kasih bersama sang istri menguasai dirinya.
"Mas geli, berhenti donk. " Naya berusaha menjauhkan kepala Devan dari lehernya.
"Bentar saja yank, aku benar-benar rindu ini, " bukannya menjauh Devan semakin mengendus leher Naya, sesekali dia gigit karena saking gemasnya.
"Bentar saja, aku mau pipis mas, ini udah gak tahan, " akhirnya Naya mengatakan keinginan nya.
Dengan berat hati Devan menjauh, sedangkan Naya langsung masuk ke kamar mandi. Devan masih belum bisa tidur, ia masih menunggu Naya. Namun yang di tunggu belum keluar juga.
"Kata nya pipis kok lama banget sih, " dumel Devan dan tepat saat itu pintu di buka.
Ceklek.
Devan tertegun dengan penampilan Naya. Jakunnya naik turun, melihat pemandangan indah di depan mata nya. Pandangan lapar langsung Devan berikan, dan tanpa menunggu lama dia raup tubuh indah itu ke dalam dekapannya.
"Kamu sengaja kan yank? " tanya Devan dengan suara beratnya menahan hasrat.
"Engh... " tak ada jawaban hanya lenguhan pelan dari Naya.
"Langit dimana? " kini Devan baru sadar jika Langit tidak ada di kamar mereka.
"Dia bersama mbak Ina, ah, " jawaban Naya terhalang oleh bibir Devan.
"Kamu ah.... aku rindu, " hanya itu yang akhirnya bisa Devan ucapkan.
Dan selanjutnya kegiatan yang sudah sangat mereka rindukan terjadi. Devan benar benar mengerjai Naya hingga hampir dini hari.
Bahkan rasanya ia masih belum puas, jika dia tidak melihat sang istri yang telah terlelap karena kelelahan.
"Terimakasih sayang, dan maaf sudah membuat mu lelah. I love you, " ucap dengan di akhir permainan mereka, dan memberikan kecupan di kening Naya.
"Hemm too, " Naya menjawab dengan gumaman dan sudah mulai terbang ke alam mimpi yang segera di susul Devan.
******®
Cie yang habis buka puasa.
Sampai gak kenal waktu. Gak kasian apa sama mbak Naya.
Oke jangan lupa, like, komen, hadiah, vote dan rate 5 bintang ya kakak semua serta bagikan ke yang lain.
__ADS_1
Terimakasih, salam sayang 😘😘.
Nb. Mbak Ina adalah nama babysitter nya Langit.