
Happy reading yess
*****®
Jam seakan berjalan begitu lambat, ingin sekali Langit, beranjak dari kantor dan pulang kerumahnya. Pikiran dan hatinya benar-benar tidak singkrong saat ini. Butuh tenaga ekstra untuk bisa berdamai dengan keadaan yang ada. Lagi lagi, dia mengutuk perbuatan Awan, yang sudah berbuat seenaknya.
"Awas kau, dasar adik ipar laknat," ucap Langit, saat dia menelfon Awan.
Langit sadar, bahwa ini semua ulah dari Awan, saat ia tak sengaja mendengar Awan, yang sedang menelfon Senja sang adik. Di situ Langit, yakin, jika adiknya ikut andil dalam rencana ini.
"Santai bro, bukankah itu bagus, Lo bisa dekat dengan dia?" jawab Awan di sebrang telfon, padahal mereka berada di kantor yang sama.
"Santai santai, kepala mu. Dia itu udah ada laki, lah Lo, mau jadiin gue perusak hubungan orang!" maki Langit, dengan sangat geram.
"Hahahaha, nikmati saja alurnya kakak ipar tersayang," Awan, menanggapi dengan tawa yang keras, bahkan ia menekan kaya kakak ipar tersayang dalam ucapannya.
"Gue pastikan, gaji bulan depan lo, hanya setengah!" ancam Langit, yang langsung mematikan telfonnya.
"Yach, Yach, alamat, anggaran bulan madu gue berkurang, nasib nasib, niat hati mau bantuin, eh malah apes," desah Awan, yang hanya bisa pasrah waktu, Langit, mengancamnya.
Dengan, setengah hati, Langit bekerja hari ini, ini sungguh di luarnya kebiasaannya. Berulang kali dia buang nafasnya secara kasat, merasa sangat frustasi, dengan keadaan yang ada.
"Oke, gue harus bisa, ingat, gue ini Langit, seorang anak laki laki keturunan Angkasa, gue gak boleh kalah sama keadaan, gue pasti bisa, dan harus bisa!" Langit, berusaha memberikan semangat bagi dirinya sendiri.
__ADS_1
Akhirnya, dengan segala perasaan, Langit, mulai lagi mengerjakan pekerjaannya. Hari ini ia ingat, akan ada dua pertemuan dengan klien di luar kantor, dan sialnya, dia harus datang bersama sekertaris nya.
Tok, tok.
"Masuk," jawab Langit dari dalam.
"Permisi pak, saya mau mengingatkan, jika satu jam lagi, anda akan menghadiri rapat di restoran Z," Bulan, mengingatkan jadwal Langit.
"Hem, saya sudah ingat," Langit, menjawab tanpa melihat kearah Bulan, dia masih saja pura pura membaca, berkas yang ada di depannya.
"Baik, kalo begitu saya, permisi pak," Bulan, bermaksud pamit, tapi langkahnya tertahan oleh ucapan Langit.
"Apa, kamu yang akan pergi bersama saya, pada pertemuan ini?" Langit, hanya berusaha mencari bahan obrolan.
"Ya pak, saya yang akan ikut bersama anda, karena, pak Awan, ada pertemuan lain," Bulan, menerangkan.
"Baik, pak. Ada yang mau di tanyakan lagi?" tanya Bulan, dengan sikap yang profesional.
"Hem, tidak ada. Silahkan kembali ke ruangan mu," jawab Langit, yang lagi lagi berusaha dengan wajah datarnya.
"Baik pak, permisi," pamit Bulan, dengan sopan, yang hanya di tanggapi dengan deheman saja.
"Dasar muka tembok, kutub selatan, balik kotak, huh, sabar sabar dapat bos kayak box es berjalan," gerutu Bulan, saat dia sudah sampai di ruangannya.
__ADS_1
Bulan benar benar heran, kenapa dulu, banyak banget yang suka sama tuh manusia langka macam bosnya. Bahkan ada, yang sampai rela nungguin dari pagi, cuma mau bilang suka. Tiba tiba Bulan, bergidik ngeri.
"Eh, tuh orang, udah dapat pawang belum ya, hehehehe apa jangan jangan, dia masuk sendiri, makanya datar kayak tembok, ruangan ini," ucap Bulan, dengan terkikik geli sendiri.
"Masa bodo ah, yang penting, gue kerja, dapat uang, senang deh." lanjut, Bulan masih saja berbicara sendiri, dia masih saja merutuki sikap sang bos.
"Semoga, dia gak bikin ulah, semoga gue bisa awet kerja di sini, duh meski kudu banyak bersabar," lanjut lagi, masih saja membicarakan bos nya.
"Kamu, kenapa ngomong sendiri? dan siapa yang muka datar?" tanya seseorang, di belakang Bulan.
Deg
"Mati aku," batin, Bulan.
******®
Wkwkwkwkw
Hayo no, siap siap dapat SP.
Masak iya bosnya, di gerituin gitu 😂😂🤣.
Mba Bulan, hayo mau bilang apa?🙈😂.
__ADS_1
Key, seikhlasnya ya semua like, komen, gift dan vote nya.
🥰🥰🥰😘