Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Masa lalu


__ADS_3

Sinar matahari pagi yang menyelinap masuk lewat celah menyilaukan mata indah dari gadis pemilik hati seorang David Guetta Carroll, Zahla.


Zahla turun dari tempat tidur yang di sana masih ada David yang masih tertidur pulas di balik selimut tanpa menggunakan pakaian atasan, tirai berwarna krem ia tarik sehingga membuat sinar dari matahari masuk dengan leluasanya. Tangannya ia renggangkan, hidung mungilnya menghirup dalam-dalam suasana pagi yang sejuk itu.


''Tubuh ku terasa pegal-pegal,'' gumamnya sembari memijat-mijat lengannya sendiri.


Suasana pagi yang sejuk membuat Zahla berdiam diri di balkon menikmati aroma embun yang ada di rerumputan juga mendengarkan suara burung yang bernyanyi merdu bagaikan musik klasik yang indah. ''Terima kasih tuhan, kau telah memberkati ku di pagi ini.'' Ucap syukur Zahla pada sang pencipta.


''Honey,'' panggil David dengan suara serak khas bangun tidur nya. Zahla menoleh dan memberikan senyum manisnya untuk suami tercinta nya.


Kedua tangan besar David melingkar indah di pinggang ramping Zahla, sungguh pemandangan yang indah antara keduanya jika ada yang dapat melihatnya. Seperti biasa David selalu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zahla yang belum tersentuh air ataupun wewangian apapun itu.


''Aku mau lagi,'' bisik David.


''Apa kurang untuk semalam?''


''He'um, bahkan aku tidak akan bisa merasa cukup, tubuh mu candu bagiku.'' Zahla tertawa kecil mendengar ucapan frontal suaminya itu, bahkan ia tidak menyangka kalau dirinya dan David akan bersatu dalam satu keringat dan satu selimut. Jika ini mimpi, aku harap aku tidak akan bangun, ucap Zahla dalam hati nya.


Sudah seperti rutinitas atau kewajiban yang di haruskan, Zahla memasak sebelum mandi sembari menunggu David selesai bersiap-siap. Teh leci yang belakangan ini selalu Zahla buatkan untuk David yang tentunya David selalu menyukainya apapun yang di buat oleh istri kecilnya. Aroma sabun mandi bercampur parfum yang melekat pada tubuh tegap David selalu membuat Zahla terkesima, begitu juga David yang selalu menciumi aroma tubuh Zahla walaupun aroma asam dari keringat Zahla jelas nyatanya.


''Sarapan dulu,'' ucap Zahla yang melepaskan diri nya dari pelukan David.


''Oh ya sayang, apa kau akan keluar?'' pertanyaan David membuat Zahla mengernyitkan alisnya.


''Keluar? kemana, kantor? tapi kamu sendiri yang melarang ku bekerja untuk sementara waktu kan?''


''Bukan, bukan ke kantor. Tapi ke salon.''


''Salon, buat apa?''


''Astaga, berarti kamu belum melihat pesan di ponsel mu ya. Maaf ya kemarin aku yang membukanya, tapi yang mengirimkan pesan tidak terdaftar di kontak mu.'' Ucapan David membuat Zahla baru teringat ponselnya yang ia simpan kemarin sore di laci dapur, Zahla membuka aplikasi pesan chatting nya, wajahnya menyiratkan bahwa dirinya sedang mengingat-ingat pemilik nomor yang telah mengirimkan pesan kepada nya.


''Kenapa?''


''Ooh ini yang kemarin aku ceritakan, aku bertemu dia di swalayan, kita berteman tapi aku lupa menyimpan kontak nya.'' David hanya mengangguk-angguk sembari melahap makanan nya.


''Tapi kau mengizinkan aku untuk ke salon kan?'' Ujar Zahla meminta izin pada David dan David hanya tersenyum dan mengangguk pelan menandakan kalau ia mengizinkannya.


''Tapi kau harus di kawal,''


''Kawal?''


''Ya, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu lagi. Aku pamit ya, ada pertemuan pagi ini,'' ucapnya lalu mengecup dahi, kedua pipi serta bibir mungil Zahla dengan singkat ''kau hati-hati ya, dan sebentar lagi pengawal mu akan datang, aku berangkat, see you.'' Ujar David yang setelah itu berlalu dengan tas laptop juga jasnya yang di sampirkan di bahu lebarnya.


Zahla menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar menatap langkah David yang menghilang di balik pintu lalu membersihkan bekas sarapan David untuk segera ia cuci dan taru di tempat yang semestinya.


Selang beberapa menit bel pintu berbunyi, Zahla berlari kecil melihat layar interkom yang menempel di dinding, dahinya mengernyit heran, merasa tidak mengenali siapa yang telah membunyikan bel apartemen nya. Sebelum ia benar-benar membukakan pintu, besi yang di buat khusu untuk mengganjal pintu agar tidak terbuka semua ia pasang.


''Siapa?'' tanya Zahla dengan mode waspada.


''Astaga, kakak ipar, aku bukan penjahat. Aku Emily, kak David yang meminta ku untuk datang.'' Sahut gadis yang mungkin saja usianya tidaklah terpaut jauh dari Zahla.

__ADS_1


Zahla yang mendengar jawaban gadis berambut pirang itu segera membukakan pintu lebar-lebar dan tersenyum dengan pipi yang memerah karena malu telah mencurigainya.


''Maaf aku tidak tahu, lagi pula aku juga baru kali pertama melihat mu.'' Ucap Zahla dengan perasaan yang sukar.


''Tentu saja, karena waktu pernikahan kalian aku tidak hadir karena sedang berada di Belgia.''


Zahla terpaku melihat wajah serta penampilan gadis bernama Emily itu, wajah yang cantik campuran wanita Asia yang khas, dengan penampilan feminim sangat terlihat manis di usianya saat ini. Emily pun berdehem karena Zahla yang hanya diam sejak tadi. ''Apa kau tidak meminta ku untuk masuk?''


''Oh astaga, maaf. Silahkan masuk,'' sahut Zahla yang tidak enak karena terpergok melamun memperhatikan penampilannya.


Emily duduk di sofa ruang tamu dan Zahla yang segera menyuguhkan minuman serta cemilan kecil untuk gadis yang memanggil kakak ipar itu. ''Oh my God, tidak perlu sungkan begitu, jika kak David melihat kau melayani ku, maka aku yang akan susah.'' Ucap Emily yang langsung menarik Zahla agar duduk di dekatnya.


''Jadi, aku akan menemanimu kemana?'' tanya Emily.


''Hah? berarti dia yang di maksud David untuk mengawal ku?'' gumam Zahla dengan suara yang di buat sekecil mungkin namun karena jaraknya yang dekat tentu Emily dapat mendengar nya walaupun hanya samar-samar.


''Kak David memanggil ku sebagai pengawal? astaga, manusia es itu tidak pernah berubah, sesuka hatinya saja memangil siapapun dengan julukannya sendiri.'' Keluh Emily dengan wajah cemberutnya.


''Maaf ya,''


''No, no. Jangan meminta maaf karena David serta istri tidak pernah salah, kalaupun salah kembali lagi ke pasal pertama.'' Gurau Emily yang mengundang tawa Zahla.


Sudah sepuluh menit berlalu, Emily duduk menunggu Zahla selesai bersiap, merasa jenuh iapun berjalan-jalan sebentar melihat-lihat isi apartemen kakak sepupu dan istri nya itu. Lemari kaca yang terdapat beberapa figura menjadi objek yang membuat Emily tertarik.


Satu persatu ia lihat figura yang terpajang itu, dan saat ia melihat satu wajah yang tersenyum tipis melihat tepat ke kamera, senyum manis dari Emily terlukis, jemari tangan lentiknya mengusap lembut kaca figura tersebut.


''Entahlah, perasaan apa yang ku punya ini, setiap melihat mu pasti jantung ku berdebar sangat kencang, dan tidak terasa sudah beberapa tahun aku tidak melihat mu secara langsung, aku selalu berusaha untuk menghilangkan perasaan itu namun terasa sangat sulit.'' Gumam Emily, tanpa di sadari Zahla yang sudah selesai bersiap-siap ada di sampingnya.


''Hey, Nona,'' panggil Zahla dengan menepuk pundak Emily karena sedari tadi panggilannya tidak di idahkan oleh nya.


''Astaga kakak ipar, maaf figura mu jadi jatuh, jangan adukan aku pada Kaka ya.'' Rengek Emily.


''Tidak apa-apa, ayo.'' Jawab Zahla dengan lembut nya.


Dua wanita sebaya itu pun pergi dengan Emily yang membawa mobilnya sendiri, Emily yang memang periang terus saja berceloteh berbeda dengan Zahla yang sedikit pendiam karena masih belum merasa akrab dengan gadis yang ada di sampingnya itu.


''Emmm Nona, kau ini-''


''No, jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil aku Emily saja, aku tidak mau seperti orang asing bagi kakak ipar ku sendiri,'' potong Emily.


''Baiklah, Emily.''


''Nah, itukan lebih enak di dengar. Tadi kakak mau bicara apa?''


''Iya kamu panggil aku kakak ipar dan panggil David kakak, tapi yang aku tahu David hanyalah anak tunggal.'' Emily tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Zahla yang ternyata belum juga mengerti siapa dia sebenarnya.


''Kakak ipar, aku memanggil kalian berdua kakak, bukan berarti aku adik kandung kak David kan, jadi aku ini sepupu dari kak David, Papa ku itu adik dari Dady Daniel.'' Jelas Emily yang baru saja di pahami oleh Zahla.


''Paman Zen kah?''


''Bukan, tapi papa Kemal dan mama Puspa.'' Zahla mengangguk mengerti, dia baru paham dengan penjelasan Emily yang jelas itu.

__ADS_1


Tibalah mereka di sebuah salon atau klinik kecantikan yang sudah di buat janji oleh Zahla serta pengirim pesan itu. ''Kakak duluan saja, aku akan memarkirkan mobil,'' ucap Emily.


''Bareng saja.''


''Tidak, tidak. Aku tidak mau di berikan pinalti dari kak David karena membuat istrinya lelah berjalan.''


''Hahahha, kau ini ada-ada saja.'' Zahla pun turun tepat di depan pintu klinik tersebut, Zahla berdiri menunggu Emily kembali namun tiba-tiba seseorang dapat dari belakang dan menepuk pundaknya serta memanggil nama nya.


''Zahla.''


'' Nona Marissa, kau sudah sampai?''


''Iya baru saja sampai, apa kau sedang menunggu seseorang?'' Zahla pun mengangguk.


''Siapa?''


Baru saja Zahla akan menjawabnya, Emily pun datang, matanya tertuju pada wanita yang bernama Marissa yang tersenyum kearahnya, matanya mengecil, alisa matanya ikut mengernyit merasa tidak asing dengan wanita yang sedang bersama kakak iparnya itu. ''Apa kita saling kenal?'' tanya Emily memastikan.


''Hah? Emmm, mungkin hanya perasaan mu saja.'' Sahut Marissa dengan gugup juga raut wajah nya pun ikut berubah namun seketika kembali lagi seperti semula, riang dengan senyumnya.


Ketiga wanita berbeda usia saat ini sedang menikmati harinya di klinik kecantikan bergengsi itu, berbagai macam perawatan jga treatment mereka lakukan Emily dan Marissa sangat menikmatinya karena sudah terbiasa namun tidak dengan Zahla yang tidak terbiasa dengan perawatan macam seperti itu.


''Ayolah kakak ipar, kapan lagi kita punya waktu memanjakan diri seharian penuh seperti ini tanpa gangguan siapapun kan,''


''Benar apa yang Emily katakan,'' sambar Marissa.


Emily tersentak sesaat tapi kemudian ia tidak hiraukan lagi.


Enam jam lamanya mereka berada di dalam klinik kecantikan itu akhirnya ketiga wanita itu pun keluar dengan penampilan juga wajah yang lebih segar dan terlihat semakin elok dipandang. '' Terima kasih ya Zahla, Emily. kalian sudah memberikan waktu kalian untuk menemaniku perawatan di sini. Aku harap lain kali kita bisa melakukannya lagi.'' Ucap Marissa.


''Tidak masalah Marissa, berkat kau juga aku bisa meluangkan waktuku untuk merawat dan memanjakan diri ku.'' Sahut Zahla.


suara deringan yang berasal dari ponsel milik Emily yang ada di tas kecilnya terdengar jelas, dan Emily pun segera memeriksanya, ''iya kakak, aku dan kakak ipar sudah keluar dari salon, ada apa?'' ujar Emily setelah menjawab panggilan dari David.


Zahla dan Marissa menoleh berbarengan ke arah Emily yang sedang menjawab panggilan, wajah Zahla berseri-seri mendengar email berbicara dengan suaminya di telepon.


''Apa? kau merindukan istrimu ini, kalau begitu, aku akan membawa istrimu mu ke Mansion untuk beberapa hari,'' goda Emily dan membuat Zahla tersipu malu namun berbeda dengan Marissa yang ekspresinya tidak bisa dijelaskan, karena hanya dirinya yang tahu maksud dari ekspresinya sendiri.


Marissa pun berpamitan lebih dulu untuk pergi dari sana dan meninggalkan Zahla dan Emily yang masih berbincang riang dengan David melalui via telepon video.


''Kemana temanmu yang mengirimkan pesan padamu?'' tanya David yang kebetulan Marissa telah pergi beberapa menit lalu,''oh dia sudah berpamitan untuk pulang,'' sahut Zahla.


''Kalau begitu kalian juga segera pergi dari sana, dan oh ya, tidak perlu mampir ke manapun, kalian mengerti?'' Zahla dan Emily pun mengangguk berbarengan, Mereka pun memutus panggilan itu dan segera pergi dari sana untuk langsung ke apartemen tanpa mampir kemanapun itu seperti apa yang sudah di titahkan oleh David.


Di sebuah mobil berwarna merah metalik, seorang wanita menangis dalam diam, ia menekan dadanya dalam-dalam menutup mulutnya menggunakan tangannya rapat-rapat, entah mengapa ucapan yang baru saja didengarnya sangat menyakitkan hatinya,'' apa kau benar-benar melupakanku, Dev,'' gumam nya dalam tangisnya.


''Bahkan orang yang dulu benar-benar dekat denganku pun melupakan aku, dia bertanya seolah-olah merasa asing dengan diriku.'' Lanjutnya.


''Aku akan memastikannya sekali lagi, namun dengan cara lain, jika dia benar-benar melupakanku, aku akan menyerah, dan benar-benar pergi dari hidup nya untuk selamanya.''


''Aku akan berusaha ikhlas, walau pada kenyataannya itu sangat menyakitkan.''

__ADS_1


Orang itu yang tak lain adalah Marisa sendiri, dia yang memanggil David dengan nama panggilan khusus yaitu Dev. dia wanita masa lalu David, yang beberapa hari lalu David bermimpi tentang nya, bermimpi pada saat cinta mereka merekah di bangku sekolah menengah. Wanita yang dulu meminta David menunggunya walaupun dia pergi meninggalkan nya, namun berbeda dengan kenyataannya, David telah bahagia bersama kehidupan barunya bersama Zahla Putri istri yang sangat di cintainya.


Masa lalu, yang kerap sekali turut campur ke dalam kehidupan yang saat ini kita jalani, kita mungkin tidak hidup di masa lalu, tapi masa lalu hidup di dalam diri kita. Jika kamu ingin bahagia, jangan biarkan masa lalu mengusikmu. Kamu boleh melihat ke belakang, namun jangan membawanya kembali.


__ADS_2