Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Mengertilah


__ADS_3

Sebuah area pemakaman yang luasnya puluhan hektar, segerombolan orang mengumpul pada satu titik, satu persatu mereka meninggalkan area tersebut dan tinggallah hanya ada beberapa saja.


Dengan berpakaian serba hitam orang-orang yang tersisah melainkan salasatu dari mereka yang memakai pakaian berbeda warna dari semuanya, ya dia adalah Kevin, memakai serba putih, Kevin berjongkok di depan pusara. Kean, Rey, Davin bahkan Daniel serta Devita juga Emily pun ada di sana ikut mengantarkan Tiara ke peristirahatan terakhirnya.


'' Vin, aku dan Kean tidak bisa berlama-lama, karena harus menghadiri hari peringatan kematian orang tua ku, apa tidak apa-apa, jika kamu kami pergi?'' tanya Rey, Kevin menoleh dan hanya mengangguk pelan.


'' Baik, kalau begitu kami pamit. Tuan dan nyonya Carroll, kami pamit undur diri.'' Kean dan Rey pun ikut meninggalkan pemakaman tersebut.


'' Oh iya, kalian hati-hati, kami juga akan pergi, karena Zahla sendirian di rumah sakit, tidak apa kan, Vin?'' Devita pun bertanya.


'' Ya ,Bi.. Kasihan Zahla hanya sendirian. Maaf merepotkan Anda untuk menjaga Zahla sebentar.'' Jawab Kevin.


'' Jangan bicara seperti itu, dia juga anak ku, kau pun sama seperti anak ku sendiri. oh ya, Emily akan tetap di sini menemani mu.''


'' Tidak Bi.. Kasihan Emily, mungkin dia lelah karena membantu ku seharian ini.'' Tolak Kevin dengan cepat.


'' Benarkah? kau lelah sayang?'' tanya Devita pada Emily yang langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan itupun tanpa ia sadari.


'' Bagus, kalau begitu kau tetap disini, temani kakak mu, Mommy dan Daddy akan pergi.'' Emily mengangguk, '' anak pintar'' lanjutnya seraya tangannya mengelus rambut pirang gadis 19 tahun itu dan berlalu pergi.

__ADS_1


Sekarang hanya ada Kevin dan Emily yang ada di sana, entah kenapa Emily merasa canggung berada di sana hanya bersama Kevin, tidak seperti dahulu, dia selalu bermanja-manja dengan Kevin, lantas kenapa sekarang ia merasa canggung? Kevin hanya diam begitupun dirinya, tidak ada obrolan dari mereka.


Emily yang berdiri berjauhan dari Kevin bertingkah serba salah, kakinya memainkan kerikil-kerikil tanah yang tersisa di bawah kakinya. apa dia juga ikut berjongkok seperti Kevin? tapi apa tidak terlihat bodoh jika Kevin mengindari nya? Emily terus bergumam sendiri.


'' Jika kau lelah, kau bisa pulang, Ly.'' Ujar Kevin dengan memanggil nama Emily dengan nama sebutan nya sejak dulu pada gadis itu yaitu ' Ly '.


'' Hah? aahh tidak kak, aku akan menemani kakak di sini sampai kapanpun,-'' jawab Emily tanpa sadar, matanya melebar merutuki ucapan bodohnya itu.


'' Aiiihh.. bicara apa aku ini.''


Tapi ternyata Kevin tidak bereaksi lebih dari apa yang di ucapkan Emily, ia hanya diam dan terus mengusap batu marmer yang terdapat nama Tiara di sana, dan itu semakin membuat Emily salah tingkah karena merasa bodoh.


Dua jam lamanya mereka berada di sana, Emily yang hampir tertidur dengan bersender di sebuah pohon besar tersadar karena panggilan Kevin yang akan pergi meninggalkan Emily. '' Apa kau masih mau berada di sini?'' tanya Kevin dengan suara dinginnya.


Sesampainya di parkiran mobil, Kevin yang membukakan pintu penumpang dan di sambut senang oleh Emily namun raut Emily tiba-tiba berubah karena sesuatu, ya Kevin membukakan pintu penumpang samping kemudi bukan untuk dirinya melainkan untuk meletakkan sebuah keranjang dan figura Tiara di sana.


Tanpa berkata apapun, Kevin memutar dan membuka pintu mobil dan masuk tanpa mengajak Emily untuk masuk ke mobilnya juga, Emily menghela nafasnya dan dengan rasa malu nya, ia membuka pintu bagian belakang lalu masuk kedalamnya. '' Ya kak Kevin masih dalam masa berduka" ucap Emily dalam hati, menenangkan dirinya sendiri, berpikiran positif dengan sikap dingin Kevin terhadap nya.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sedikitpun, sampai gadis 19 tahun itupun merasa bosan dan akhirnya tertidur selama perjalanan. Suara rem mobil berdecit, Emily yang tertidur pulas pun terkejut, matanya melihat kiri dan kanan yang ternyata mereka telah sampai di depan gerbang rumah sakit.

__ADS_1


'' Kenapa berhenti disini kak?'' tanya Emily dengan suara seraknya. '' Turunlah, aku ada urusan pekerjaan.'' Jawab Kevin yang masih dengan sikap dinding nya.


'' Kakak tidak masuk dulu, melihat kakak ipar?'' tanya Emily lagi memastikan. '' Tidak, aku ada pekerjaan. Kalau boleh, aku minta tolong temani dia untuk sehari ini.'' Emily pun mengangguk dan turun dari mobil, tanpa berpamitan Kevin menancapkan gasnya dengan cepat, meninggalkan Emily di pinggir jalan depan rumah sakit.


Mata Emily berkaca-kaca, sungguh ia tidak menyangka kalau Kevin akan bersikap dingin terhadap nya yang ia tahu sejak dulu Kevin selalu bersikap hangat dan selalu memanjakan nya. '' Kenapa dia seperti itu..''


Emily menyeret kakinya menuju lift yang ada di lantai dasar, menekan tombol dan menunggu pintu lift itu terbuka, lagi-lagi sikap dingin Kevin berputar di ingatan nya, berulang kali ia membuang nafasnya mengontrol detak jantung nya karena sejak tadi bergemuruh kencang.


Iapun menekan tombol yang paling terakhir karena di sanalah David di rawat, ya kamar VVIP khusus pemilik gedung itu. Sesampainya ia di depan pintu kamar David, gadis periang itu mengontrol lagi dirinya, menyiapkan senyuman bersikap kalau tidak terjadi apa-apa.


Devita yang mendengar suara pintu terbuka menoleh dengan cepat, alisnya mengernyit karena melihat Emily yang datang hanya seorang diri. '' Kemana Kevin, sayang?''


'' Mom, Oohh.. kak Kevin menitip pesan kalau dia ada pekerjaan, dan nanti akan menyusul ke sini.'' Jawab Emily dengan sedikit di lebihkan.


'' Pasti dia berbohong, apa kakak marah dengan ku?'' celetuk Zahla, ya Zahla sudah mengetahui awal kejadian itu dari Davin yang berterus terang menceritakan semuanya, begitupun tentang hubungan Kevin dengan Tiara.


'' Heiii, sayangnya Mommy bicara apa? tidak mungkin Kevin marah dengan adiknya, Kevin pasti memang ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.'' Sahut Devita dengan cepat.


'' Tidak mom, kakak pasti marah karena aku kemarin memintanya untuk tetap tinggal di apartemen, kalau bukan aku memintanya untuk tetap di sana, mungkin saja tidak terjadi apa-apa dengan Tiara.'' Ucap yang Zahla merasa bersalah atas kematian Tiara.

__ADS_1


'' Ini semua sudah tertulis oleh sang pencipta, dia sudah berpulang ke pangkuannya, jangan pernah berpikir seperti itu, karena ajal tidak tahu datangnya kapan dan dimana.'' Seru Devita memberikan pengertian pada wanita hamil yang kian sensitif itu.


Di sebuah ujung tebing yang tinggi, mobil Kevin terhenti di sana, tempat yang damai dan tentram, ia memilih untuk tetap di sana beberapa saat. Entah kenapa ia tidak ingin orang-orang mengetahui keadaannya saat ini. Ia tahu kalau Zahla akan berpikiran kalau dirinya bersalah tapi entah kenapa untuk bertemu mereka dirinya belum sepenuhnya siap.


__ADS_2