
Devita yang di kabari Daniel, suaminya untuk menyiapkan kamar tamu karena Zahla akan tinggal di sana sementara, dengan excited nya ia malah membuat pesta penyambutan kecil-kecilan dan menyiapkan kamar yang letaknya di sebelah kamar David bukan kamar tamu yang di perintahkan oleh suaminya.
''Vita, tapi kan ini bukan kamar tamu,'' ujar Puspa yang membantu Devita membuat pesta penyambutan untuk Zahla.
''Biarkan saja, kamar tamu terlalu biasa untuk calon menantu keluarga Carroll,'' sahut Devita dengan rasa bahagia.
''Apa kau tidak takut, kakak ipar akan marah padamu,''
''Tidak, lagipula Daniel tidak akan berkata apa-apa jika aku yang menginginkan nya,'' Puspa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya karena apa yang Devita ucapakan benar adanya.
''Terserah kau saja, tapi jika kakak ipar marah, aku tidak mau ikut campur ya,'' dan Devita hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui apa yang sahabat nya sekaligus adik iparnya itu katakan.
Setelah mendapatkan kabar dari penjaga depan gerbang kalau mobil David si tuan muda Carroll sudah memasuki halaman rumah, dengan riangnya Devita berlarian ke pintu untuk menyambutnya langsung.
''Vita! jangan berlarian seperti itu, jika kau tergores sedikit saja, fatal akibatnya bagi kami!'' teriak Puspa yang berusaha mengejar Devita.
''Sudahlah jangan banyak bicara, cepat!'' balas Devita berteriak pada Puspa yang tertinggal jauh di belakangnya.
Dengan kedua tangannya Devita sendiri yang membukakan pintunya walau dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal karena lelah berlarian.
''Selamat datang anak-anak Mommy,'' ucap Devita dengan senyum cerianya di wajah yang tidak lagi muda namun masih terlihat segar dan cantik.
David dan Zahla yang terkejut hanya terpaku dengan wajah kaget nya, tapi sesaat kemudian, Zahla membalas senyuman ibu Bos nya itu.
''Bibi?'' balas Zahla yang berusaha menyeimbangi Devita.
Setelah Devita menyapanya dan di balas baik oleh Zahla, beberapa orang pelayan berdatangan dengan di pimpin Puspa di depannya, dan salasatu di antara nya membawakan sebuah rangkaian bunga lili dan memberikannya pada Zahla yang duduk di kursi rodanya.
''Senoga kau suka, sayang.'' Ucap Devita setelah Zahla menerima rangkaian bunga itu.
Dengan wajah yang polos Zahla hanya memamerkan gigi putih nya dan mengangguk walaupun ia tidak mengerti konsep yang sedang Devita lakukan saat ini.
__ADS_1
''Mommy! kalian berlebihan sekali,'' keluh David dengan kesal.
''Berlebihan bagaimana sih David, mommy hanya menyambut calon mantu mommy,'' sahut Devita tanpa sadar dan membuat Zahla yang mendengarnya sedikit bingung.
''Ya, ya. terserah kalian. Sudahlah, biarkan Zahla beristirahat.''
Akhirnya David mengantarkan Zahla ke kamar yang dikhususkan untuk tamu namun dengan cepat Devita mencegahnya dan menyuruh David untuk membawa Zahla ke kamar yang ada di sebelah kamarnya.
''Benarkah? Mommy serius?'' dan Devita hanya menganggukkan kepalanya.
''Mommy memang selalu tau keinginan ku,'' gumam David dalam hati dengan di barengi sebuah senyum licik nya.
''La, kamarnya ada di atas,'' ujar David dan tanpa ijin ia langsung membawa Zahla ke gendongannya menuju tangga.
Devita dan Puspa hanya saling menatap dengan tatapan heran. ''Vita, disana kan ada lift, kenapa David malah memilih naik tangga?'' bisik Puspa.
''Entahlah, mungkin itu ciri khas anak muda jaman sekarang agar terlihat lebih romantis,'' balas Devita berbisik.
David yang kesulitan membuka pintu kamar akhirnya dengan inisiatif Zahla, akhir nya ia membantunya, namun ketahuilah jantung Zahla saat ini sedang tidak baik-baik saja, karena sedari mula David membawanya ke gendongan, jantung nya langsung terpompa dengan cepat.
Sepanjang jalan pun Zahla menahan nafasnya dengan sambil berpikir. ''Apa dia tidak merasa berat menggendong ku dengan menaiki tangga?.
Sesampainya di dalam kamar, lagi-lagi pasangan muda itu yang belum terikat dalam suatu hubungan seperti apa yang di katakan Daniel, terkejut. Ya siapa yang tidak terkejut melihat kamar yang di hiasi dengan berbagai bunga bagaikan kamar pasangan pengantin baru padahal jelas-jelas kamar itu hanya di peruntukan untuk Zahla.
Dengan hati-hati David meletakkan Zahla ke atas kasur yang sebagian sudah tertutupi kelopak bunga itu.
''Tu-tuan bos, i-ini kamar untuk ku?'' tanya Zahla dengan gugup.
''Entahlah, tapi sepertinya iya,'' sahut David yang masih melihat-lihat isi kamar. ''Apa Mommy mau aku tidur disini juga?'' batinnya.
Beberapa menit kemudian, mereka yang masih terkesima dengan apa yang dilihat nya, Devita dan Puspa pun masuk ke kamar itu dengan beberapa pelayan yang membawakan beberapa jenis makanan untuk di suguhkan khusus untuk Zahla.
__ADS_1
''Apa kamu suka sayang, dengan kamarnya?'' tanya Devita pada Zahla.
''Su-suka Bi,'' sahut Zahla yang sebenarnya bingung untuk menjawab apa.
''Hah,, syukurlah,'' mata Devita menangkap raut wajah David yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri dan iapun langsung mengerti kenapa anak bujangnya berprilaku seperti itu.
''David! pergilah ke kamar mu, biarkan Zahla beristirahat,'' ujar sang Mommy, David yang mendengar merasa heran sebab sang Mommy berkata seperti itu.
''Kamarku?''
''Ya, kamarmu, ini kan kamar Zahla, kamarmu ada di sebelah, apa kau lupa,'' ujar Devita dengan sarkas, Puspa yang paham dengan isi pikiran keponakannya hanya terkekeh geli di belakang Devita.
''Tapi, bukannya-''
''Bukannya apa? jangan berharap lebih, David.'' Potong Devita yang berhasil menghancurkan harapan sang anak.
Dengan malas akhirnya David berlalu pergi ke kamarnya, perasaan yang semula di buat terbang seketika dijatuhkan boleh sang Mommy membuat pria 27 tahun itu lemas.
''Ku pikir Mommy ada di pihak ku,'' gumam David yang sudah berada di kamarnya.
Puspa yang menyaksikan itu hanya bisa terkekeh geli.''Apa ini sebuah dagelan keluarga,'' gumamnya di dalam tawanya.
Setelah para pelayan meletakkan makanan-makanan di atas meja, satu persatu berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya masing-masing dan menyisahkan tiga wanita berbeda generasi itu, ya Devita, Puspa dan Zahla.
''Sayangnya Mommy, kau cicipi lah sajian-sajian sederhana ini, dan lepas itu beristirahat, aku dan bibi mu akan pergi, jika membutuhkan apapun tekan saja tombol itu, oke.'' Ucap Devita dengan kasih sayangnya.
''Baik Bi, terima kasih banyak.'' Balas Zahla yang terharu atas kebaikan nyonya besar kota itu.
''Tidak perlu sungkan,'' Devita dan Puspa pun pergi meninggalkan Zahla seorang diri di sana.
Dengan mata terpukau nya, Zahla menatap satu persatu makan-makan yang di bawakan Devita untuk nya.
__ADS_1
''Begini di bilang sajian sederhana? astaga, apa kabar angetan sup kentang di panti.'' Gumam Zahla.