
Mobil David berhenti tepat di sebuah bangunan mewah yang bentuknya bisa di bilang seperti bungalow, tempat yang asing bagi Zahla, karena baru pertama kalinya ia ke sana dan itupun bersama David yang membawanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang ingin di lontarkan pada pria yang tersenyum di depannya kian membara, tapi percuma saja jika ia bertanya tidak akan ada jawaban juga dari David. Dan maka dari itu ia hanya mengunci mulutnya dan menunggu apa yang akan David lakukan di sana dan untuk apa mengajaknya ke sana.
Keheranan itu terus berlanjut dari dalam diri Zahla ketika David dan dirinya berjalan dan melewati beberapa pelayan yang sepertinya juga sudah sangat mengenal David. ''Selamat datang tuan Muda Carroll, Tuan Dave sudah menunggu anda di ruangan nya.'' Ucap seorang pria paruh baya yang berdiri di depan pintu besar yang sepertinya juga memang di sana untuk menyambut kedatangan David dan Zahla.
''Sebenarnya rumah siapa ini? Emmm bukan, bukan rumah tapi istana, ya istana.'' Zahla terus bergumam dalam hati nya dengan terus matanya yang memperhatikan detail setiap sudut isi bangunan mewah itu.
Setelah beberapa saat kemudian, saat mereka sampai di depan sebuah ruangan dan pria paru baya yang mengantarkan mereka permisi pergi, Zahla lagi-lagi berusaha mempertanyakan untuk apa mereka di sana pada David, tapi lagi-lagi David hanya tersenyum.
''Selamat datang tuan muda Carroll, silahkan duduk.'' Ucap seorang pria tampan yang usianya tidak terpaut jauh dari David sendiri.
''Terima kasih tuan Dave.'' Sahut David yang duduk setelah memastikan Zahla duduk dengan nyaman.
''Tuan besar sudah menceritakannya semua pada ku, dan aku sudah mempersiapkan apa yang harus di lakukan.'' Ucap pria yang bernama Dave itu.
Zahla yang berada di tengah-tengah pria tampan itu, hanya terdiam dengan sejuta pertanyaan yang belum terjawab itu. ''Siapa pria tampan itu, kenapa mereka terlihat mirip, tapi lebih tampan dia. Oh astaga kenapa aku malah memuji pria lain." Ya dengan ujung matanya Zahla berusaha melihat pria yang duduk berjarak cukup jauh darinya.
''Sayang, jangan mencuri pandang seperti itu,'' bisik David ke telinga Zahla. Zahla yang mendapatkan bisikan dari David hanya mengulum senyumnya dengan wajah yang memerah malu karena ketahuan telah melirik pria lain.
''Haaahhh, sudah-sudah. Stop berbicara formal padaku, aku muak David.'' Ucap pria bernama Dave itu.
''Hahah, ini yang kau inginkan bukan.'' tawa David pecah menjawab ucapan Dave padanya.
''Honey, dia Davin, aku memanggilnya dengan nama Dave. Dia sepupu ku anak dari bibi Dinar kakak dari Daddy.'' Jelas David pada Zahla yang memang sangat ingin tahu dengan siapa mereka saat ini sedang berbincang.
__ADS_1
''Oohh pantas mereka mirip, ternyata mereka sepupuan.'' Gumam Zahla dengan suara yang sangat pelan.
''Kalian seumuran?'' tanya Zahla.
''Tidak, David lebih muda 8 tahun dari ku.'' Sela Davin.
''8 tahun lebih muda? benarkah, kenapa terlihat seumuran.''
''Apa maksud mu honey, apa aku terlihat setua itu,'' cetus David yang merasa tersinggung dengan apa yang di katakan Zahla.
''Hahahahhah, David kau membuat gadis mu ketakutan.'' Tawa Davin pun pecah melihat interaksi kedua pasangan itu.
''Tutup mulut mu,'' ucap David dengan sinis.
''Baiklah, dari pada membahas usia, lebih baik kita membahas topik utama yang menjadi permasalahan nya. Adik ipar, aku sudah memeriksa hasil lab mu, dan memang ada sedikit permasalahan pada rahim mu, tapi kau tenang saja, tidak ada yang perlu kau khawatir kan.'' Ucap Dave panjang lebar. Zahla termenung karena merasa bingung, ia benar-benar tidak mengerti kenapa Davin dan David bisa tahu permasalahan nya.
''Honey, aku tau semuanya. Aku tahu penyebab kau menjadi khawatir belakangan ini.''
''Kau tahu?''
''Ya, waktu itu, Kevin memberitahu ku dan menyerahkan salinan hasil lab mu. Tetapi dia tidak memberitahu ku soal Tiara dan Kean yang membawa mu, sampai akhirnya aku pun mencari tahu sendiri. Ternyata Tiara telah merubah sedikit banyaknya laporan lab itu.'' Pernyataan David benar-benar mengejutkan Zahla, ia tidak menyangka Tiara akan melakukan hal itu padanya di kala ia telah mempercayai lagi.
''Ya Zahla, aku benar-benar minta maaf.'' Ucap seseorang yang baru saja datang. Tiga orang yang duduk di sana pun menoleh secara bersamaan. Dua orang datang ke sana dan ikut ke dalam obrolan mereka.
''Tiara, kak Kevin?'' gumam Zahla.
__ADS_1
''Ya, sebenarnya aku benar-benar malu untuk berhadapan dengan mu lagi. Aku sadar perbuatanku tidak dapat di maafkan, tapi Kevin telah mengajariku hal banyak.'' Ucap Tiara yang melirik Kevin yang berada di sampingnya.
''Aku juga mengharapkan maaf dari mu David. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi,'' ucap Tiara lagi.
''Ya berjanjilah selagi kau bisa,'' gumam David yang sama sekali tidak menaruh kepercayaan lagi terhadap Tiara.
''David?'' tegur Zahla.
''Kenapa honey? apa kau butuh sesuatu.'' Ucap David mengalihkan perhatian.
''Aku kesini hanya untuk berpamitan, malam nanti aku akan terbang ke Belgia untuk menetap di sana, aku harap kalian sudah memaafkan ku sebelum aku pergi.'' Ucap Tiara lagi.
Pembahasan ke lima orang itu berakhir begitu saja dengan kata maaf dari mulut wanita yang memiliki ambisi tinggi itu, dan seperti biasa Zahla akan memaafkan kesalahan seseorang tanpa berpikir panjang berbeda dengan David yang tidak bisa gampang mempercayai siapapun yang telah membuat nya kecewa.
Ke khawatiran Zahla pun berangsur hilang, karena ternyata David menerima dirinya dan akan membantu nya untuk permasalahan yang ada. Kehidupan mereka pun normal kembali, dan Zahla beraktivitas seperti biasanya, sampai hari dimana impiannya terwujud yaitu menikah dengan pangeran impiannya.
Ya esok adalah hari dimana dua sejoli itu akan bersatu di mata hukum dan dunia, keduanya pun saling menyimpan perasaan rindu karena sudah beberapa hari ini mereka tidak boleh bertemu, ya Devita yang masih memiliki darah Indonesia dan mempercayai adat istiadat negara asal sang Ibunda mempercayai bahwa sebelum adanya pernikahan harus ada pingitan, yang artinya di antara dua calon pengantin tidak boleh di pertemukan sampai hari H pernikahan.
Devita tertawa melihat anak semata wayangnya gelisah karena rasa rindu terhadap calon istrinya.
''Mom, kenapa Mommy mentertawakan aku?'' sinis David yang kesal dengan sang Mommy.
''Anak Mommy yang tampan, kau tidak perlu gelisah seperti itu, esok hari kau juga akan bertemu dan melihat wajah bidadari mu itu kan.'' Ejek Devita.
''Mom, Mommy masih mempercayai tahayul itu? sekarang dan esok kan sama saja.'' David tidak menyerah untuk membujuk sang Mommy agar menginjakan nya menemui Zahla calon mempelai wanita nya.
__ADS_1
''Tentu berbeda sayang, sudah ah, masih banyak pekerjaan yang harus Mommy kerjakan.'' Devita pun berlalu meninggalkan anak bujang nya yang masih gelisah itu.