
Emily terdiam setelah mendapatkan telpon yang kita tahu itu adalah Devita, ibu dari David. Melihat Emily terpaku di depan jendela kaca, Zahla pun menghampirinya, memanggil nya namun tidak ada sahutan.
Zahla menepuk pelan pundak Emily dan gadis 19 tahun itupun terjingkat kaget karena tepukan Zahla.
'' Kenapa Em?'' tanya Zahla. Emily sangat ingin memberitahukan tapi ia benar-benar tidak kuasa melihat Zahla bersedih hati.
'' Isshhh, kenapa juga Mommy meminta ku yang memberitahukan nya, kenapa tidak dia saja.'' Gumam Emily dalam hatinya.
'' Em?'' panggil Zahla lagi Yeng melihat Emily kembali terdiam.
'' Kak, kita ke rumah sakit sekarang,'' seru Emily dengan suara yang pelan.
'' Hah? kamu bicara apa?''
Menghela nafasnya pelan dan Emily pun berkata.
'' Kakak harus janji sama aku dulu,'' Zahla pun mengangguk ragu.
'' Kakak jangan berpikir macam-macam, pikirkan saja calon anak kakak, dan aku yang cantik ini.'' Emily sengaja memberikan sentuhan guyonan dari ucapannya karena rasa tidak enaknya.
'' Kamu, ada-ada saja.'' Zahla tertawa kecil. '' Kita harus ke rumah sakit sekarang juga.'' Ujar Emily yang langsung membuat Zahla terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
'' Kak, kakak baik-baik saja kan?'' melihat kakaknya dengan raut wajah yang pucat, Emily merasa bersalah dan khawatir. '' Kak, kak David baik-baik saja, kita kerumah sakit sekarang ya, hmm?'' Kepala Zahla menoleh dengan cepat menatap wajah Emily dengan wajah syok, 'apa ini arti dari kegelisahan ku?' ucapnya dalam hati.
'' David?'' Emily mengangguk.
~
Di rumah sakit Kevin yang menjadi wali dari Tiara pun mengurus semua berkas-berkas yang harus di isi sebagai wali dari seseorang, dari surat kematian sampai yang lainnya. Tapi bagaimanapun sibuknya ia sejak tadi Kevin hanya mengunci mulutnya, raut wajah yang dingin seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
Davin yang melihat Kevin seperti itu merasa iba, Kean dan Rey juga sudah berada di sana karena Davin lah yang menghubunginya untuk menghibur Kevin, namun tetap tidak ada pengaruh apapun.
Keterkejutan Kean tentang hubungan Kevin dan Tiara bukan hanya sekedar terkejut saja, bahkan ia sama sekali tidak menyangka kalau Kevin pun sama dengan nya yang menyimpan perasaan dengan seorang wanita yang hanya mencintai satu orang pria yaitu David sahabat mereka sendiri.
Mata Kevin menatap jauh ke hamparan gedung dari balik kaca jendela yang terbentang di depannya. Kalau andaikan ia tidak membawa Tiara kembali ke negaranya, apa Tiara tidak akan benar-benar pergi dari nya? Kevin terus menyalahkan dirinya sendiri karena kematian Tiara.
'' Kau selalu bersikap tenang saat David bersama dengan nya, dan kau tahu betul, aku tidak bisa bersikap tenang seperti mu.'' Lanjutnya.
Kevin masih terdiam, tubuh nya seperti tidak memiliki jiwa, kepergian orang yang di cintainya benar-benar sebuah kutukan baginya. '' Vin, kau bisa merelakan nya sekarang, karena jiwa dia akan tertahan kalau seseorang masih meratapinya.'' Ucap Kean lagi yang masih berusaha mencoba menghibur serta memberikan pengertian untuk Kevin agar bisa ikhlas melepaskan kepergian Tiara.
'' Kevin!?'' panggil seseorang yang begitu familiar di telinga nya. Kevin pun menoleh dan ternyata dia adalah Devita dan Daniel yang baru saja tiba dari Amerika dan bergegas pulang ke negaranya karena Davin yang menghubungi nya.
'' Apa kabar Nyonya, Tuan?'' sapa Kean.
__ADS_1
'' Kean, aku baik. Bagaimana David? dan dimana Zahla, apa dia belum datang?'' tanya Devita.
'' Rey baru saja pergi untuk menjemput nya,'' jawab Kean.
'' Semoga Zahla baik-baik saja,'' gumam Devita yang juga mengkhawatirkan keadaan menantu serta calon cucunya.
'' Vin? mommy harap kau bisa kuat, karena Zahla akan bersedih juga melihat kakaknya yang seperti ini.'' Ucapan Devita membuat Kevin tersadar kalau sikapnya bisa saja membuat Zahla semakin bersedih.
Kevin harus melupakan kesedihannya demi adiknya, walaupun kepergian Tiara juga tidak bisa membuat nya bisa langsung bangkit namun masih ada Zahla yang harus ia jaga.
Di ruangan dengan nuansa warna putih, seseorang tertidur dengan banyak selang yang menancap di tubuhnya, dan beberapa orang yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya.
Devita menangis melihat anak semata wayangnya tertidur dengan banyak selang seperti itu, dan dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana kelak jika Zahla melihat suaminya dengan keadaan seperti itu.
'' Koma? Daniel, bagaimana nanti perasaan menantu kita.'' Tangis Devita di pelukan suaminya.
'' Kau tidak boleh begini, kau yang nantinya harus menguatkan putri kita itu.'' Sahutan Daniel ternyata membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menoleh, tidak biasanya Daniel bisa berbicara hangat seperti itu terlebih lagi di depan semua orang.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian semuanya, beberapa orang pun masuk, Zahla, Emily dan Rey. Zahla berjalan hanya menatap satu titik yaitu suaminya dengan di papah oleh Emily. Devita yang melihatnya langsung menghapus air matanya lalu menghampiri nya.
'' Sayang, kau harus kuat, oke.'' Ucap Devita dengan parau.
__ADS_1
'' Mom? David...'' lirih Zahla yang menahan tangisnya dan langsung di peluk oleh Devita. Zahla mengisi tersedu-sedu di pelukan hangat mertuanya itu, Emily bernafas lega karena akhirnya kakak iparnya itu bisa melupakan perasaan nya yang sejak di rumah tadi sampai di jalan, Zahla hanya diam dengan tatapan kosong.
Kevin melangkah mendekat ke arah Zahla dan Devita, tangannya terulur mengelus kepala adik kesayangannya itu. '' Kak..'' Kini Zahla beralih memeluk kakaknya, ia benar-benar terpukul dengan kejadian itu, melihat suaminya yang tidak berdaya di atas berangkar rumah sakit dengan beberapa selang yang menancap langsung ke bagian tubuhnya membuat ia ingin menjerit sekeras-kerasnya.