
Tiga orang membisu di kamar yang sudah di hias cantik itu, yang tidak lain adalah David, Zahla dan sang Mommy.
Devita yang merasa lucu melihat David sang anak yang diam seribu bahasa karena keinginannya tidak terpenuhi malam ini, dan melihat menantunya yang merasa tidak enak karena tidak dapat memberikan hak untuk suaminya atas dirinya.
''Tidak apa-apa sayang, kau tidak perlu khawatir. Hal ini sudah biasa terjadi pada sebagian orang. Dan kau David, tidak perlu kecewa seperti itu, kau harus lebih bersabar lagi, tunggulah beberapa hari lagi.'' Ujar Devita menasehati anak dan menantunya.
''Mommy, apa aku mengatakan kalau aku kecewa begitu?'' elak David.
''Mommy tahu nak'. Ya sudah kalian istirahatlah, mommy akan kembali pada Daddy mu. Selamat malam.'' Devita pun berlalu pergi dari kamar pengantin yang di hiasnya dengan tangan nya sendiri itu.
Tinggallah hanya ada dua sejoli pengantin baru yang duduk berjauhan itu, David yang duduk di sofa dan Zahla duduk di ranjang dengan kepala yang terus tertunduk.
David mengangkat kepalanya dan melihat ke arah istrinya yang sudah di pastikan sedang merasa tidak enak hati dan merasa bersalah padanya, dengan helaan nafasnya yang pelan, David pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Zahla lalu duduk tepat di sebelahnya.
''Tidak apa-apa, kita istirahat ya, kau pasti lelah,'' ucapnya.
''Maafkan aku, David,'' lirih Zahla.
''Honey, kenapa kau meminta maaf, kau tidak salah sayang. Seperti yang di katakan mommy, aku harus lebih bersabar lagi, untuk menunggu hari itu tiba.'' Goda David yang berusaha menghibur hati Zahla.
''Apa kau tidak marah padaku?''
''Aku tidak akan bisa marah padamu, sudah lebih baik kita tidur, oke.'' Zahla pun menyetujuinya ajakan David dan mereka pun tidur melewati malam yang seharusnya manis itu tanpa melakukan aktifitas apapun.
Pagi pun telah tiba, Zahla yang sudah membersihkan dirinya dan berpakaian santai menghampiri kembali ranjang besar itu untuk membangunkan pria yang saat ini sudah menjadi suaminya, dengan lembut Zahla mengusap wajah David yang di tumbuhi bulu-bulu halus. ''David, bangunlah. Mau sampai kapan kau tertidur, lihatlah matahari sudah tinggi.'' Ucap Zahla dengan suara yang sangat lembut.
__ADS_1
Bulu mata lentik milik David bergerak perlahan dan terbuka sedikit demi sedikit, merasa tidurnya telah di usik tapi tidak membuat nya sedikitpun marah karena dia tahu yang membangunkan nya adalah istri kesayangannya. Dengan bergumam David menyahutinya dan tangan jahilnya pun tiba-tiba menarik tubuh Zahla sehingga Zahla yang terjatuh tepat di atas tubuh nya.
''David, lepaskan,''
''Tidak, ini hukuman untukmu karena sudah mengusik tidur ku.''
''David, aku mohon,''
''Biarkan seperti ini, sebentar saja.'' Zahla yang mendengarnya jawaban David seketika berhenti bergerak dan menurut apa yang di katakan nya, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa risih.
Ya di bawah sana ada sesuatu yang mengganjal perutnya, sesuatu yang tiba-tiba mengeras dan bergerak. ''Apa itu?'' gumam Zahla dalam hati.
Zahla yang ingin tahu pun kembali bergerak namun lagi-lagi David menahan pergerakannya. ''Sayang diamlah, atau kau akan bertanggung jawab untuk resikonya.'' Lirih David lagi.
''Ma-maksud mu,''
Adik kecil? Zahla termenung sesaat menelaah ucapan dari David, setelah beberapa saat kemudian, Zahla pun mengerti siapa yang di sebut nya sebagai adik kecil nya itu. ''Astaga, dia terlalu sensitif,''
Wajah Zahla sudah memerah, ia malu karena harus merasakan itu, karena tidak mau wajah merah nya terlihat, Zahla pun membenamkan kepalanya di dada bidang David dengan waktu yang cukup lama, ada suara tertawa dari David karena ia menyadari kalau istrinya itu saat ini malu karena nya.
''Jangan sembunyikan wajah merah mu sayang, karena aku menyukainya.'' Goda David lagi.
''David jangan menggoda ku,'' teriak Zahla dari balik wajah yang masih di benamkan itu.
''Baiklah, baiklah. Maka dari itu katakan pada tamu sialan mu itu, agar cepat-cepat pergi untuk memberikan kesempatan pada adik kecil ku ini.'' Bisik David yang di susul dengan tawa gelinya.
__ADS_1
David meletakkan Zahla ke ranjang dan segera berlalu dari sana menuju kamar mandi karena tidak mau menerima amukan dari Zahla. ''Issshhh dasar mesum!'' teriak Zahla yang kesal dengan godaan David.
Di kamar mandi David hanya tertawa dengan keras, ia melihat dirinya di cermin besar dan bergumam. ''Sabar Vid, bila malam tadi kau tidak mendapatkan nya, mungkin tiga hari kemudian kau akan merasakan nya, dan kau istriku yang manis bersiap diri lah.'' Ujar David yang berbicara sendiri.
***
Kevin hari ini harus melakukan perjalanan jauh karena urusan pekerjaan, ia sudah mengabari adik sepupunya karena tidak bisa mengantarkan nya untuk ke kediaman keluarga Carroll, dan Zahla pun memakluminya.
Ya Kevin yang sudah memegang kendali perusahaan Heinze tentu harus bersiap kapanpun untuk melakukan perjalanan bisnis, termaksud hari ini yang seharusnya dia sendiri mengantarkan adiknya ke rumah mertuanya tapi harus pergi dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai wali dari Zahla.
''Maafkan aku Zahla, aku harus pergi.'' Gumam Kevin di sebuah pesawat berkelas.
Perusahaan Heinze yang berpegang di bidang entertainment bergengsi memegang peranan penting pada sebagian perusahaan yang saat ini Kevin telah pegang. Walaupun perusahaan itu masih di bawah dari perusahaan keluarga Carroll tapi tidak dapat di pungkiri juga kalau perusahaan Heinze entertainment itu cukup berhasil dan sudah di kenal banyak pengusaha besar lainnya dan itu tidak lepas dari campur tangan seorang Daniel Carroll yang membantu Kevin, pria yang sudah di anggapnya sebagai anaknya sendiri.
Enam jam perjalanan, akhirnya Kevin pun telah sampai di negara yang menjadi tujuannya itu. Dengan di sambut beberapa orang kepercayaan dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan nya Kevin pun segera pergi dari sana menuju hotel tempat dia menginap untuk beberapa hari selama berada di sana.
''Tuan Kevin, Tuan Olaf akan menghubungi anda nanti malam, beristirahat lah sejenak, dan kami permisi pergi.'' Ujar orang kepercayaan dari calon rekan bisnisnya itu.
''Ya baiklah, terima kasih.'' Kevin yang sudah di antarkan di depan hotel yang sudah di di siapkan khusus untuk nya itu segara masuk dan mencari kamar yang akan menjadi tempat nya beristirahat.
Kevin berjalan hanya dengan memegang tas laptop nya dan jas yang di sampirkan di lengannya, dan kopernya yang membawa barang-barang nya tentu sudah ada staff hotel yang bertugas membawakannya.
Berjalan tanpa melihat depan karena sibuk dengan ponselnya, Kevin tidak sengaja menabrak seseorang yang juga tidak melihat kehadiran Kevin.
Bruughh
__ADS_1
Tabrakan pun terjadi pada dua orang itu, ponsel keduanya terjatuh secara bersamaan dan pemiliknya pun segera mengambil ponselnya masing-masing. Tapi saat Kevin akan mengambil ponselnya dan menegur orang yang di tabrakannya dengan lantang seketika matanya memicing'' Hei! apa kau tidak bisa hati-hati-!'' bentak Kevin yang seketika menghentikan ucapannya.
''Kau?''