
Di sebuah ruangan bercat'kan serba putih, suara monitor yang menghiasi kesunyian di sana, seorang pria duduk dengan tatapan datar menatap seorang wanita yang tertidur dengan beberapa selang di beberapa tubuhnya.
Tangannya yang pucat masih berada di genggaman pria itu, berharap mata indah dari seorang wanita itu terbuka namun sudah sepuluh jam lamanya ia belum juga sadarkan diri.
Kevin, ya pria itu adalah Kevin, dan wanita yang tertidur di brangkar dengan beberapa selang di bagian tubuhnya adalah Tiara. Mendengar dan melihat seisi dunia menghujat nya dengan beberapa lontaran pedas dan jahat, Tiara merasa depresi, ia ketakutan, ia bahkan berpikir akan sia-sia dirinya hidup jika semua orang akan menatapnya jijik.
Tindakan bodoh dari Tiara mengakibatkan dirinya harus di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, Kevin lah yang membawanya ke rumah sakit saat ini mereka berada.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Kevin yang bahkan sedari tadi hanya wajahnya Tiara yang di pandang nya. Seorang pria berpakaian serba putih dengan dua orang wanita yang membuntut di belakang berjalan menghampiri Kevin.
''Permisi, saya akan memeriksa keadaan pasien.''
''Silahkan.''
Menunggu beberapa waktu setelah dokter yang memeriksa keadaan Tiara, Kevin langsung meminta dokter tersebut agak menepi dan berbicara secara pribadi.
''Ada apa Tuan ?''
''Saya tidak mau ada media yang meliput keadaan Tiara saat ini, kalau sampai ada kabar yang menyebar tentang kondisi Tiara, aku pastikan rumah sakit ini akan rata dengan tanah.'' Ucap Kevin sedikit mengancam.
__ADS_1
''Maaf tuan, moto kami disini pun tidak akan menyebarkan informasi tentang kondisi pasien terkecuali atas permintaan ataupun seijin pihak dari keluarga pasien tersebut.'' Jawab dokter muda itu.
''Bagus, memang itu yang seharusnya. Tapi jika aku nantinya tahu kalau kalian sendiri yang memberikan informasi pada para wartawan, aku tidak akan main-main dengan ancaman ku, apa kau mengerti?''
''Mengerti Tuan .'' Dokter dan dua orang perawat itu pun berlalu pergi meninggalkan Kevin yang kembali duduk di samping ranjang Tiara.
Ancaman Kevin membuat dokter tersebut sedikit shok, walaupun di bersikap tenang di hadapan Kevin namun tidak dapat di pungkiri ia juga merasakan kekhawatiran atas ancaman dari pria yang bahkan memandang wajahnya pun dokter itu enggan.
''Sepertinya, di bukan orang sembarangan .'' gumam dokter itu.
''Dok maaf, kabarnya pria itu adalah orang dari pengusaha sukses, tuan Daniel Carroll, dan kalau dia sudah mengancam itu bukanlah sebuah ancaman semata.'' Sambar perawat yang ternyata mendengar pembicaraan antara Kevin dan dokter itu.
Sementara Kevin menunggu Tiara membuka matanya, David sudah berhasil membuat Zahla tertidur dengan tenang di pelukan nya. Ya David tidak membawa Zahla ke rumah sakit melainkan langsung pulang ke apartemen mereka berdua.
Dokter yang di hubungi David yang tak lain sepupunya sendiri yaitu Davin, sudah pergi dari sana karena tidak ada yang perlu di cemaskan atas luka dari Zahla, tapi David hanya perlu menenangkan Zahla, karena di khawatiran Zahla akan ada trauma dari apa yang di hadapi nya.
David menatap sendu pada wajah istrinya yang berkeringat walau suasana kamar saat itu cukup sejuk dari pendingin ruangan. Sejak pulang dari gedung itu, Zahla terus merasa ketakutan, matanya selalu menatap was-was pada setiap orang yang di lihatnya terkecuali pada suaminya, dan David mengerti itu.
Tangan besarnya menyeka keringat yang muncul dari wajah manis istrinya, kecupan mesra David berikan dan membuat Zahra semakin merekatkan pelukannya karena mungkin merasa nyaman dan aman oleh sentuhan lembut David.
__ADS_1
Dalam tidurnya Zahla terus bergumam memanggil nama David, setetes air mata pun keluar dari ujung mata lentik Zahla. ''honey, kau aman sayang, ada aku disini.'' Bisik David langsung ke telinga Zahla.
Ingatan David berputar pada kejadian di mana Zahla akan dinodai oleh 3 pria bejat yang ada di gedung tua itu, buku tangannya mengepal kuat hingga menyisakan warna merah di sana, ia benar-benar merasa murka pada orang-orang yang akan mencelakai istrinya.
kalau tidak dicegah Rey, mungkin saja 3 nyawa pria itu itu sudah melayang di tangannya, rasa cinta dan sayangnya pada Zahla membuat dirinya buta. Terlebih lagi, jika melihat Zahla terluka, rasa cemas dan takut selalu hinggap pada dirinya.
Keadaan Zahla membaik dengan seiring nya waktu karena David sendiri yang merawatnya, tapi David pun tidak dapat memastikan jika nantinya Zahla akan keluar dan bertemu banyak orang, entah trauma itu akan muncul lagi atau tidak.
Hari ini David akan berencana mengajak Zahla keluar apartemen untuk berbelanja keperluan sehari-hari mereka, tapi rasa ragu pada diri David terus ada. ''Ada apa, David?'' tanya Zahla yang melihat suaminya bertingkah aneh.
''Emmm, sayang. Kamu ingin tetap di apartemen atau ikut dengan ku?''
''Memangnya kenapa?''
''Aku akan pergi keluar membeli keperluan kita, biasnya ada Kevin yang bisa aku perintah, tapi kau kan tahu, kalau kakak mu itu sedang di luar negeri.''
''Aku ikut dengan mu ya, karena aku takut jika harus sendiri di sini,''
''Baiklah, ayo bersiaplah, atau aku bantu untuk mengganti baju?'' tawaran David membuat Zahla tersenyum dan memukul pelan bahu suaminya, ia benar-benar merasa bahagia karena di masa tersulit nya ada David yang selalu menghibur nya.
__ADS_1