
Sebuah ketukan pintu dari luar ruangan terdengar, dengan lantang Daniel menyuruhnya masuk dan ternyata Kevin lah yang datang.
''Selamat pagi paman Daniel, paman Zen.'' Salam Kevin dengan hormat.
''Ya pagi, duduk lah,'' suruh Daniel dan Zen hanya menjawab nya dengan anggukan kepalanya.
Mereka semula terdiam sejenak membuat Kevin yang berada di antara pria-pria kejam di jamannya itu merasa kikuk, dengan ragu Kevin mulai bertanya tujuan Daniel memanggilnya.
''Emmm,, Paman. Paman memanggil ku apa ada sesuatu yang penting?'' tanya Kevin dengan ragu.
''Ya, seperti yang kau duga dan mungkin saja kau harapkan. Aku sudah menyuruh orang kepercayaan ku untuk mencari tau keberadaan adik mu itu.'' Apa yang di ucapkan Daniel membuat Kevin tersenyum sumringah mengharap kalau kabar itu membuat dia bisa bertemu langsung dengan adiknya.
''Lalu bagaimana Paman?'' Kevin menunggu kelanjutan apa yang akan di katakan Daniel tapi Daniel berdiam diri dengan nafas yang berat ia berulang kali menghela nya.
Mata Daniel melirik ke arah Zen, yang bertanda bahwa dia menyerahkan nya pada Zen untuk melanjutkannya dan Zen pun yang mengerti langsung mengambil alih untuk bicara.
''Vin, satu hal yang ingin kami tanya,'' Kevin pun mengangguk dengan cepat.
''Apa yang kau maksud sebagai adik kecil mu itu, anak dari wanita yang bernama Nadia?'' tanya Zen dan di 'iyakan oleh Kevin.
''Nadia istri Deri Paman mu?'' lagi-lagi Kevin pun meng'iyakan nya.
Zen melirik Daniel dan Daniel hanya diam dengan tatapan dinginnya yang bertanda Zen harus melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
''Begini saja, kau kesini dua hari lagi, dan kau akan tau semuanya,'' ucap Zen setelah menghela nafasnya dengan panjang.
Mata Kevin mengecil, merasa heran dengan apa yang Zen katakan, kalau mereka sudah tau kenapa harus menunggu dua hari lagi untuk mengatakan semuanya? ya Zen dan Daniel tidak hanya ingin memastikan lagi bahwa gadis kecil yang di maksud Kevin benar-benar seseorang yang telah mereka ketahui.
Daniel dan Zen tidak ingin buru-buru mengambil kesimpulan, karena ini juga berbau sensitif, karena ada pihak lain yang akan terlibat.
Kevin terdiam, tapi ia tidak bisa egois karena bagaimanapun Daniel dan Zen sudah mau membantunya dan dia harus mengikuti apa yang mereka katakan, tapi pertanyaan-pertanyaan Zen membuat Kevin merasa heran.
Kevin berjalan dengan pikiran yang terus saja tertuju pada adik kecilnya juga pembicaraan mereka tadi.
''Paman Zen tau nama ibu dari Carissa, berarti mereka juga tau dimana Carissa, tapi kenapa seperti ada yang mereka sembunyikan?'' gumam Kevin di sepanjang langkahnya menuju mobilnya.
***
Banyak yang harus ia korek dan pertimbangkan dalam sebuah hal, dan dia pun harus membicarakan itu juga pada istrinya, Devita.
Pintu terbuka dan membuat cahaya dari luar memasuki ruangan yang keadaan nya redup itu, karena Daniel sengaja membuat ruangan itu gelap.
''Suami ku? kau memanggilku?'' tanya Devita yang baru saja masuk dan menutup kembali pintu berbahan kayu berkualitas itu.
''Duduklah, ada yang ingin ku katakan,'' ucap Daniel dengan serius. Devita yang mendengar Daniel berbicara dengan bernada dingin tentunya paham kalau yang akan mereka bicarakan bukan suatu hal yang sepele.
''Ada apa, kenapa kau menyendiri begini?'' tanya Devita dengan lembut karena itu salahsatu cara untuk menenangkan pikiran suaminya yang dia ketahui sedang kacau.
__ADS_1
''David akan aku kirim ke perusahaan yang ada Jepang.'' Ujar Daniel, mata Devita memicing heran, kenapa tiba-tiba Daniel ingin mengirim anaknya ke Jepang?.
''Lho kenapa? apa perusahaan di sana sedang kacau?''
''Ya.'' Jawab Daniel tanpa menatap Devita.
''Daniel? apa ada yang tidak aku ketahui?'' tanya Devita yang merasa curiga dengan sikap suaminya itu. Daniel yang tau kalau istri nya akan menyadari kalau dia menyembunyikan sesuatu, menghela nafasnya dengan panjang.
''Aku menarik ucapan ku untuk pertunangan David dan kekasihnya itu,'' alis Devita menyatu dengan sempurna ia benar-benar di buat keheranan atas apa yang di katakan Daniel, suaminya itu.
''Apa maksud mu? kenapa? mereka saling mencintai, dan kita sebagai orang tuanya harus mendukung kan?''
''Ya aku tau, tapi aku sudah berubah pikiran, aku tidak mau mereka menjalin hubungan lagi, dan David harus pergi ke Jepang dalam waktu dekat ini.''
''Astaga, Daniel. Kau ini kenapa? apa karena dia gadis dari panti asuhan, iya? tapi aku rasa itu tidak masalah karena itu bukan keinginannya berasal dari sana kan?'' Devita kesal atas keputusan Daniel, ia tidak terima kalau keinginannya untuk melihat David dan Zahla bersatu harus gagal karena keputusan sepihak dari Daniel.
''Mau tidak mau,mereka harus berpisah.'' Keukeuh Daniel, karena sudah terlanjur kesal, Devita pun pergi tanpa permisi dengan hati yang kecewa dengan suaminya.
Devita menganggap Daniel sangatlah egois juga plin-plan, ya bagaimana ia tidak menganggapnya seperti itu karena baru kemarin Daniel sendirilah yang menyuruh David dan Zahla segera melangsungkan pertunangan tapi sekarang ia dengan cepatnya menarik ucapan.
Devita tidak bisa terima dengan keputusan Daniel, karena ia sudah merasa cocok dengan Zahla sebagai calon menantu nya, selain baik Zahla pun termaksud gadis ideal sebagai menantu.
Daniel meminta Zen untuk menghubungi David agar menghadap nya di mansion, entah apa yang sebenarnya terjadi pada Daniel hanya dialah yang tau apa yang sebenarnya terjadi atas keputusannya itu.
__ADS_1