
Ketegaran dari seorang wanita berasal dari penderitaan yang dialami sebelumnya, kepahitan hidup membuat nya lebih strong untuk melawan kerasnya kehidupan yang akan di lalui nya, Zahla wanita yang kuat, tidak perlu cengeng, walaupun sesekali ia perlu mengeluarkan air matanya untuk mencuci perasaan yang kalut, sebuah kata yang Zahla terus yakini sampai ia anggap itu adalah jargon khusus untuk dirinya sendiri.
''Ya, aku harus baik-baik saja, untuk orang asing seperti Marissa tidak akan bisa membuat ku lemah.'' Tekat Zahla setelah keluar dari mobil dan masuk ke gedung apartemen.
Melangkah dengan yakin juga dengan kepala yang menghadap lurus ke depan membuat ia terkesan anggun di lihat orang-orang yang berpapasan dengannya, walaupun tinggi badan juga paras Zahla memang bukan yang ideal untuk para wanita model namun dengan wajah yang memancarkan aura positif nya tentu siapapun yang melihatnya akan terpanah.
Sesampainya ia di unit apartemen nya, ia segera membersihkan dirinya setelah menaruh rantang makanan yang sebelumnya ia bawa untuk David, menyegarkan otak yang panas karena ucapan Marissa dengan cara mandi air dingin di bathtub itulah cara Zahla untuk menetralkan emosinya.
****POV**** Zahla.
Aku mengetahui semuanya, dari bermula gumaman David ketika ia tertidur dan menyebutkan satu nama yang belum pernah aku tahu, merasa kecewa? ya itu pasti, tapi aku berusaha untuk berpikir positif karena mungkin itu hanya orang yang ada di masa lalu nya dan akulah orang yang ada di masa kini dan untuk masa depannya, ya akulah pemenang sesungguhnya dan aku pastikan apa yang aku dapat saat ini tidak akan aku biarkan lepas, ya aku harus berusaha mempertahankan nya.
Aku mendengar semua obrolan mereka, dengan bagaimana Marissa menagih janjinya sampai David yang menolak nya dengan cara halus, dan di sanalah aku merasa bangga karena suami ku masih menjaga batasan nya dengan wanita lain karena memikirkan perasaan ku.
.
Merasa sudah lebih tenang, Zahla pun keluar dari bathtub yang di penuhi busah-busah yang beraroma menyegarkan, membilasnya di bawah pancuran shower Zahla kembali menikmati air hangat yang mengguyur langsung kepalanya. Setelah selesai iapun segera mengenakan handuknya lalu keluar dari kamar mandi untuk berpakaian.
__ADS_1
Entah kenapa ingatan nya terus bergulir saat pertemuan nya dengan Marissa, ia pikir, ia akan mendapatkan teman baru yang benar-benar tulus padanya namun kenyataannya tidak. Ya Marissa mendekati nya hanya untuk mengetahui kehidupan David bersama nya.
Jari-jari tangan nya memilih pakaian yang akan di kenakan nya, dan pilihan nya jatuh kepada sebuah kaus berlengan pendek dan celana bahan yang menurutnya nyaman. tapi baru saja Zahla selesai berpakaian pintu kamar dibuka seseorang dengan paksa yang tak lain adalah David.
Zahla yang terkejut hanya bisa terpaku di tempat dengan heran karena memang belum waktunya David untuk pulang.
''Apa ada berkas yang tertinggal?'' tanya Zahla, tidak ada jawaban dari David, ia hanya menatap Zahla dan melangkah menuju dimana Zahla berdiri dengan perlahan.
''Aku pulang karena merasa tidak tenang,'' ucapnya dengan tangan memegang pipi kanan Zahla.
''Why?''
''Memangnya terjadi apa, David? dan memang nya aku harus bersikap seperti apa?'' Zahla pun balik bertanya.
''Aku tahu, kalau kau mendengar dan mengetahui semua percakapan antara aku dan Marissa, aku melihat kau berdiri cukup lama di depan pintu, aku mengira kau akan marah, tapi tidak, kau malah bersikap tenang dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal aku mengharapkan kau marah padaku, karena itu dapat membuat ku sedikit lebih tenang ketimbang melihat kau seperti ini.'' Zahla tidak menyahut, ia hanya menatap kedua mata David secara bergantian, ia menatapnya dalam-dalam pada kedua mata David karena ingin mencari tahu apa sebenarnya yang ada ada dalam pikirannya dan apa sebenarnya maunya.
''Dengan kau bersikap seperti ini aku semakin merasa bersalah, aku merasa Aku adalah orang jahat yang menyakiti perasaan wanita sepertimu, maafkan aku,, aku juga tidak tahu kalau dia akan datang, aku berkata yang sesungguhnya, dan perlu kau ketahui dia hanya wanita yang ada di masa laluku yang bahkan tidak sama sekali aku ingin ingat tapi entah kenapa,, dia datang di dalam mimpiku dan bahkan hari ini dia menemuiku, entah apa maunya tapi bagaimanapun aku harus menerima maaf darimu.'' Ujar David dengan tulus.
__ADS_1
Ya kepergian Zahla dari kantor dengan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padahal dia tahu hubungan Suami nya dengan Marissa, membuat David merasa khawatir, justru sikap Zahla yang seperti itu membuat nya tidak bisa tenang dan memutuskan untuk pulang lebih awal walaupun ada jadwal meeting dengan klien beberapa jam lagi.
''David, aku bersikap seperti ini bukan semata-mata tidak peduli dengan nasib hubungan kita, justru aku seperti ini karena menaruh percaya padamu dan aku harap kau tidak menyia-nyiakan nya.'' Sahut Zahla setelah terdiam sejenak.
''Kau percaya padaku?'' Zahla mengangguk lemah dan tersenyum dengan manis, sungguh,, David beruntung memiliki istri seperti Zahla.
''Terima kasih sayang, kau telah percaya padaku, aku janji tidak akan mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan pada istri sebaik mu.'' David pun mengecup mesra kening Zahla dan di sambut oleh pelukan hangat oleh Zahla.
''Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiran ku,'' ucap David yang masih memeluk Zahla.
''Apa?''
''Kau tidak marah, bukan karena tidak mencintai ku kan, karena orang-orang bilang kalau pasangan tidak merasakan kecemburuan itu berarti tidak ada rasa cinta pada pasangan nya.'' Ucapan David membuat Zahla tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menatap tajam wajah David.
''Siapa yang mengatakan kalau aku tidak cemburu, tentu aku merasa cemburu karena wanita itu, tapi buat apa aku memperlihatkan nya.'' Jawab Zahla dengan tangan yang di lipat di atas perut dengan memasang wajah cemberutnya.
''Istri ku yang cantik, kemarilah.'' David pun segera memeluk Zahla kembali karena tidak ingin melihat Zahla yang merajuk karena pertanyaan nya.
__ADS_1
Ya inilah buah dari ketegaran hati Zahla, Zahla tidak mau bersikap ceroboh untuk masalah hubungan, ia akan bersikap hati-hati walaupun ada rintangan yang tersulit sekalipun.
Seorang tamu tidak akan masuk ke dalam rumah jika tuan rumah tidak mengizinkan nya dan begitupun orang ketiga, ia tidak akan bisa merusak hubungan jika pasangan kita tidak akan mengizinkan nya untuk turut serta ke dalam hubungan saklar yang terjalin antara dua insan yang sudah mengikat janji suci nya.