Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Keras dan penyayang


__ADS_3

Ketegangan terjadi beberapa saat pada keempat pria berbeda generasi itu, mereka saling menatap dengan tajam, peperangan dingin itu mungkin saja akan terjadi lebih lanjut kalaupun saja salasatu di antara mereka tidak mengakhiri nya.


''Sudah, sudah. Mata ku sakit,'' keluh salasatu dari mereka.


''Hissshhh, kau Kem, selalu saja membuat kacau,'' sahut pria dewasa satunya.


''Ayolah Zen, kasihan keponakan ku, sudah di buat tegang oleh Daddy nya di tambah pula kita,'' ya mereka adalah dua pria dingin namun tidak sedingin Kakak mereka, Zen dan Kemal, dua pria yang bahkan jarang sekali akur tapi tidak di pungkiri merekapun saling menjaga satu sama lain.


Mata David dan Kevin saling menatap heran, apa sebenarnya tujuan mereka kesana kalau bukan Daniel, Daddy nya sendiri yang mengutusnya. ''Kalian mau apa kesini?'' tanya David dengan tegas.


''Tentu saja ingin bertemu dengan kalian,'' jawab Kemal.


''Mau apa? Ooh ya, maaf Paman, sampaikan kepada paman Daniel, kalau aku tidak bisa memenuhi janji ku padanya.'' Dan kali ini Kevin lah yang ikut bicara.


''Sebelum kau mengatakan itu, Daniel pun sudah tahu kalau kau tidak bisa menepati janji mu,'' sahut Zen dan membuat Kevin bungkam.


''Sebenarnya kalian mau apa?'' tanya David lagi.


''Vid, kalian bertiga di minta untuk menghadap tuan besar di mansion utama.'' jawab Zen.


''Ck, Daddy mau apa lagi, kan sudah kukatakan kalau aku tidak akan pernah mau menuruti apa maunya.''


''Vid, percaya pada Paman, kalian temui saja dia, kalau kau mengenalnya, pasti kau akan tau apa yang sebenarnya dia mau.'' Ucap Kemal.

__ADS_1


David terdiam, kepalanya menoleh ke belakang karena Zahla memegang lengannya, pandangan keduanya bertemu dan Zahla mengangguk sebagai tanda untuk David agar mau ikut dengan kedua Paman nya.


''Baiklah, kami akan ikut.'' Jawab David setelah diam sejenak.


Merekapun pergi meninggalkan area pemakaman dengan mobil berbeda, mobil Zen dan Kemal lah yang memimpin dan mobil Kevin yang membuntut dari belakang.


Setibanya mereka di sana dan di sambut oleh para pelayan juga penjaga, Zen memimpin langkah untuk ke ruangan di mana Daniel saat ini berada.


David tidak sama sekali membiarkan Zahla jauh darinya sedikit pun, sampai tangan merekapun saling berpegangan sebagai mana sifat David yang sebenarnya, posesif.


Di sana, Daniel sudah menunggu dengan duduk membelakangi mereka, kedatangan merekapun tidak membuat Daniel beranjak dari kursi nyamannya.


''Kalian sudah datang? dan sekarang untuk kalian bertiga tinggalkan kami, sekarang!'' Ucap Daniel dengan tegas. Kevin yang tidak mengerti hanya terdiam di kursinya, tapi setelah kemal dan Zen beranjak dari kursi dan mengajaknya untuk pergi namun iapun batu paham siapa yang di maksud oleh Daniel.


''Di hadapan mu ada beberapa dokumen, kalian lihat saja, dan katakan padaku yang mana menurut kalian itu bagus,'' ujar Daniel.


David segera mengambil beberapa dokumen yang ada di hadapannya, dan membukanya satu persatu yang ternyata isinya adalah gambar dekorasi sebuah pesta yang David dan Zahla sendiri tidak tau untuk apa Daniel meminta mereka untuk memilih salasatu itu.


''Apa maksud Daddy?''


''Dasar anak bodoh! hanya tau membangkang, kalian hanya perlu memilih untuk dekorasi pertunangan kalian,'' jawab Daniel dengan sedikit makian sebagai mana ciri khasnya.


David terbelalak, bibirnya sedikit terangkat namun berbeda dengan Zahla yang merasa syok karena makian Daniel untuk David yang terbilang frontal itu.

__ADS_1


''Sudah, sudah. Daddy beri waktu kalian untuk berpikir dan memilih, bawa itu, dan pergi dari sini. Daddy ingin istirahat.'' Usir Daniel, David tidak sama sekali marah dengan apa yang di katakan Daddy nya karena itulah bentuk kasih sayang seorang Daniel untuk anaknya, keras namun sebenarnya penyayang itulah sifat Daniel yang sebenarnya, benar apa kata Kemal, jika dia benar-benar mengenal Daniel, ia akan tau apa yang di inginkan Daniel.


''Baiklah, kami akan pergi, istirahatlah-'' David beranjak dengan tangan yang terus menggenggam tangan Zahla, ia menjeda ucapannya dan kembali berkata, ''terimakasih Dad.'' Dan berlalu pergi bersama Zahla.


Di balik kursi, Daniel tersenyum tipis mendengar ucapan kata terima kasih tulus dari anaknya yang bahkan belum pernah ia dengar saat sudah beranjak dewasa, anak yang dulu ia selalu manjakan dengan kasih sayang dan fasilitas mewah kini sudah dewasa dan sudah bisa memilih jalan hidup dan cintanya. Bangga? tentu, karena selain itu David pun mencerminkan juga menurunkan sifat Daniel yang keras juga mandiri tidak mau ketergantungan oleh bantuan orang lain sekalipun dengan orang tuanya sendiri.


Dan Daniel pun merasa bahagia karena sudah bisa membuat anaknya tersenyum bahagia karena pilihan nya, ia sadar jika harus terus memilih egonya ia akan jauh dari anak kebanggaan nya, dan dengan susah payah ia pun berusaha untuk melupakan dendam itu sepenuhnya, tanpa ingin menyangkut pautkan pada Zahla anak dari Nadia yang mungkin tidak tahu wajah ibunya sendiri sejak kecil.


''Semoga kalian bisa bertanggung jawab atas pilihan kalian sendiri,'' gumam Daniel yang perlahan memejamkan matanya dan tertidur di kursi nyamannya.


Senyum sumringah terukir jelas di wajah David yang bahkan sangat jarang sekali di perlihatkan oleh siapapun, tapi kali ini dengan bangganya ia memamerkan senyum itu di sepanjang langkahnya sembari tangannya yang terus menggenggam tangan Zahla dengan posesif nya.


''David?'' panggil Zahla.


''Hmmm?'' sahut David dengan lembut.


''Aku bahkan baru menyadari kalau kau juga bisa tersenyum begitu,'' ejek Zahla.


''Bisa bersama mu itulah yang bisa membuat ku seperti ini.'' Jawaban David berhasil membuat Zahla tersipu malu.


Kevin yang menunggu David juga adik nya di lorong, merasa heran karena raut wajah keduanya terkesan sangat bahagia. ''Ada apa?'' tanya Kevin dengan tidak sabar nya.


''Ini, aku serahkan ini padamu, ayo honey.'' Ucap David yang menyerahkan berkas ke tangan Kevin dan berlalu mengajak Zahla untuk masuk ke dalam lift.

__ADS_1


''Sialan, dia masih saja bersikap seperti itu, walau bagaimanapun aku kan calon kakak iparnya,'' gerutu Kevin yang sudah melihat isi dari berkas itu, bahagia? ya dia sangat bahagia, walaupun terkadang ia masih merasa canggung ketika melihat David bersikap mesra dengan Zahla yang pernah membuat nya jatuh cinta.


__ADS_2