Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Wanita dari Aussie?


__ADS_3

''Kakak sudah menemukan kebahagiaan kakak sendiri sejak lama.''


Bukan hanya perkataan itu yang membuat Marissa menjadi murung, tapi entah kenapa perkataan Emily yang satu itu membuat ia sadar kalau memang dirinya lah yang telah ceroboh mengorbankan cintanya demi karir yang memang sudah menjadi impian nya.


'Kenapa gadis seusia dia bisa berpikir dewasa ketimbang aku, pikir Marissa.


''Tapi bukan sepenuhnya salah ku, Dev sendiri yang telah berjanji,'' hati dan pikiran nya pun tak selaras, kedua nya berbeda pendapat, hatinya berkata bahwa ia yang bersalah tapi pikiran nya masih ingin mempertanyakan serta memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi haknya.


''Aku harap kakak mengerti apa maksud ku, dan pikirkan lagi posisi gadis sebaik kak Zahla'' itulah ucapan penutup dari Emily saat pertemuan mereka saat itu.


Sebenarnya Marissa adalah wanita yang berhati lembut, tapi kenapa kali ini ia seolah-olah memiliki hati yang batu hanya karena seorang David. Berhari-hari ia memikirkan apa yang Emily katakan, dan sampai ketika di hari yang seharusnya perayaan dimana hubungan mereka terjalin serta berbarengan hari ulang tahun David akhirnya Marissa memutuskan akan menemui David secara langsung dengan berbekal sebuah hadiah untuk David darinya.


Ia berdandan persis seperti penampilannya dimana mereka pertama kali bertemu, dengan memakai dress berwarna krem dan rambut yang di kuncir kuda, saat itulah David terpesona melihatnya dan memulai menjalin hubungan dengannya.


Dengan sepatu berhak tinggi Marissa berjalan berlenggak-lenggok menyusuri koridor kantor, banyak pasang mata yang memperhatikan nya, kaki yang putih mulus serta jenjang juga wajah cantik blasteran yang belum pernah mereka lihat sebelumnya tentu membuat mereka terpanah.


''Siapa wanita itu?'' pertanyaan itu terus terlontar dari beberapa karyawan di sana. Marissa menegur sapa dengan ramah pada siapapun yang berpapasan dengannya.


''Maaf, ada yang bisa saya bantu,'' ucap Rebecca sekertaris tim David.


''Apa Dev, Emmm maksud saya tuan David, ada di ruangannya?'' ucap Marissa meralat perkataan nya.


''Kebetulan tuan David sedang meeting, Nona. Apa Nona sudah membuat janji sebelumnya?'' tanya Rebecca.


''Emmm, tuan David sendiri yang meminta saya untuk datang,'' kilahnya, entahlah buat apa Marissa berbohong saat itu.


''Baiklah, kalau begitu siapa nama Anda Nona, biar saya tulis di buku tamu,''

__ADS_1


''Aah tidak perlu, katakan saja ada wanita yang menunggunya datang dari Aussie.'' Ujarnya, merasa aneh dengan wanita yang baru saja ia temui itu, Rebecca tersenyum tipis dan hanya meng'iyakan walau dirinya sendiri merasa risih karena belum pernah ada wanita lain yang datang untuk menemui bos besarnya itu, selain para klien yang ia sendiri tahu jadwal pertemuan nya dan juga istri dari David sendiri yang ia juga sangat mengenalnya, yaitu Nyonya muda Zahla.


''Jangan-jangan wanita itu mantan kekasihnya tuan bos?'' gumam Rebecca menebak siapa wanita yang datang itu.


Marissa di minta menunggu di sebuah ruangan khusus tamu kantor, selang beberapa menit David pun kembali dari ruang meeting bersama Krishna yang sudah ia angkat menjadi sekertaris utama dirinya tapi tentu bukan untuk menggantikan posisi Kevin yang sebelumnya menjadi asisten pribadinya.


''Rebbeca, apa ada temu janji klien lagi?'' tanya David sebelum ia masuk ke ruangan nya.


''Tidak ada tuan, jadwal meeting selanjutnya sore nanti, tapi tuan ada seseorang yang sedang menunggu tuan.''


''Siapa?''


''Beliau tidak menyebutkan nama, tapi beliau sendiri yang mengatakan kalau tuan yang memintanya untuk datang, seorang wanita dari Aussie.'' David mengernyit heran, siapa yang di maksud sekertaris tim nya itu, dia sendiri tidak merasa memanggil siapapun.


''Ya sudah suruh temui saya di dalam,'' perintah David dengan tegas, Rebecca pun hanya mengangguk dan Krishna yang kembali ke mejanya.


''Hei pria kesepian, dimana kamu saat ini.'' Ucap David pada Kevin melalui panggilan telpon.


''Kurang ajar, aku masih ada urusan, jadi belum bisa kembali. Oh ya, selamat hari lahir ya brother, selamat sudah menjadi lebih tua, hahahahah...'' sahut Kevin di sebrang sana dengan gelak tawa khasnya.


''Sialan, ya sudah jangan lupa kalau kembali bawa wanita yang khilaf untuk kau jadikan teman hidup-'' ucap David terpotong karena mendengar suara ketukan pintu.


''Vin, nanti kita lanjut lagi, ada tamu.'' Ucap David yang kemudian menutup sambungan telponnya lalu menyuruh si pengetuk pun masuk.


Seorang wanita dengan paper bag di tangan nya berjalan menuju David yang duduk menghadap laptop nya, ''silahkan duduk,'' ucap David tanpa melihat ke arahnya.


''Dev,,'' jari tangan David terhenti mengetik sesuatu di laptopnya, matanya menatap datar pada seorang wanita yang berdiri di depannya, tidak ada expresi yang lain selain datar dan dingin yang David perlihatkan.

__ADS_1


''Dev, apa kabar?'' tanya wanita itu yang tak lain Marissa sendiri.


''Ada perlu apa kau kesini?'' tanya David tanpa menjawab pertanyaan Marissa untuk nya.


''Dev, apa itu cara menyambut kedatangan ku?''


''Aku sedang sibuk, kau bisa datang lain kali dengan membuat janji terlebih dahulu.'' Ucap David dengan sikap dinginnya.


''Selamat ulang tahun Dev, aku bawakan sesuatu untuk mu.'' Ujar Marissa yang akan memberikan itu pada David yang masih duduk di tempat nya, tapi langkahnya terhenti karena tangan David yang meminta nya untuk tidak lagi melangkah ke arahnya.


''Jaga batasan mu, karena aku tidak ingin istri ku salah paham dengan jarak yang akan kau perbuat.''


''Dev, ini aku,,'' lirih Marissa dengan mata yang sudah berlinang air mata.


Di luar ruangan, Rebecca kelabakan karena melihat kedatangan nyonya muda nya yaitu Zahla. ''Bagaimana ini, istri si bos datang,'' gumam Rebecca yang takut ada kesalahpahaman di antara bis dan istrinya.


''Selamat siang nona Rebecca, tuan David ada di dalam kan?'' sapa Zahla.


''Selamat siang Nyonya, ya Tu-tuan David ada, tapi-'' jawab Rebecca dengan gugup.


''Zahla, bukan Nyonya. Jangan panggil ku seperti itu ya, lain kali,'' ralat Zahla pada panggilan Rebecca untuk nya.


Saat Zahla akan melangkah masuk, langkahnya terhenti setelah matanya melihat seorang wanita yang tidak asing baginya walaupun berdiri membelakangi nya, tidak berniat menguping tapi entah kenapa ia sangat ingin mendengarkan pembicaraan suami dan wanita itu.


Tidak ada expresi terkejut atau apapun itu saat matanya melihat jelas wajah wanita tersebut, langkahnya ia lanjutkan untuk masuk ke dalam ruangan suaminya.


''Oh maaf aku masuk begitu saja karena pintu nya tidak tertutup dengan benar.'' Ujar Zahla dengan wajah yang seakan-akan tidak mengetahui apa-apa dan membuat dua orang itu terkejut karena kedatangan Zahla.

__ADS_1


__ADS_2