
David duduk dengan tidak tenang di kursi pesawat jet pribadi yang Daniel kirim untuk menjemput anaknya langsung, ya setelah mencoba beberapa kali menghubungi David, dan hasilnya tetap sama akhirnya Daniel memutuskan untuk meminta pilot pribadinya untuk menjemput langsung David untuk segera ke rumah sakit.
Berulang kali David melirik jam tangannya, mendengar keadaan Zahla dari orang yang dikirim Daddy nya membuat David segera meninggalkan pekerjaannya, bahkan jadwal-jadwal meeting penting pun ia batalkan semuanya.
Merasa bodoh, merasa tidak berguna, itulah yang David saat ini rasakan. Kalau bukan ponselnya terjatuh dari lantai tiga saat sedang mengecek proyek dan kalau David segera membeli ponsel baru mungkin ia akan datang lebih awal. David berdecak kesal, ia terus merutuki kebodohannya juga kecerobohan nya.
'' Maafkan aku sayang.'' Lirih David dengan perasaan yang masih khawatir.
3 jam 15 menit, David mendarat tepat di rooftop rumah sakit, begitu ia menginjakkan kakinya di atap tersebut ia segera berlari menuju pintu yang akan membawanya kesebuah lift untuk ke ruangan di mana Zahla, istri mungil nya berada.
Pria 30 tahun itu kembali berlari setelah lift berbunyi yang menandakan kalau ia telah sampai di lantai tujuan nya, raut wajah yang panik, matanya terus mencari-cari yang semestinya ia hapal dengan benar setiap sudut rumah sakit itu tapi karena kepanikan nya ia sampai gugup dan seolah-olah baru menginjakkan kakinya di sana.
Matanya menangkap seseorang yang baru saja luar dari sebuah ruangan seraya bergumam '' Mommy?'' David berjalan dengan cepat menghampiri Devita.
'' Mom?''
Plakkk
Bukannya mendapatkan sambutan baik, David justru mendapatkan tamparan kencang dari Mommy nya, pipi sebelah kanannya memerah meninggalkan jejak tangan Devita di sana, David tersentak ia bahkan tidak mengira kalau Mommy nya bisa menamparnya, tapi David tidak sama sekali marah karena ia juga paham kenapa Mommy bisa semarah itu padanya.
'' Kemana saja kamu! di situasi genting seperti ini, kau justru tidak bisa dihubungi. Kau tahu! istri mu saat ini sedang ada di ruangan itu, dia terus menanyainya mu, David!!'' amarah Devita meledak-ledak, dan ketahuilah baru pertama kalinya saat ini tangannya di gunakan untuk memukul anak semata wayangnya, dan itu membuat Devita pun merasa sakit tapi itu harus!
Daniel yang baru saja kembali dari suatu tempat langsung menenangkan hati Devita, mata Daniel melihat David dengan tajam, ia juga sangat ingin menghajar David saat ini, tapi melihat bekas tangan Devita yang tertinggal di pipi kanan David, Daniel pun mengurungkan niatnya.
'' Maafkan aku Mom, Dad. Aku memang bodoh!'' sahut David yang merasa bersalah dan menerima Omelan Devita untuk nya karena memang dirinya bersalah.
__ADS_1
'' Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak perempuan ku, Mommy tidak akan memaafkan mu, David!!'' bentak Devita lagi.
'' Aku kan anak mu juga,'' gumam David.
'' Jangan menjawab!!''
'' Maaf.''
Di tengah-tengah perdebatan antara anak dan ibu itu, seorang dokter pun keluar dari ruangan yang bertuliskan ICU dengan membawakan sebuah berkas.
'' Maaf Tuan, Nyonya. Ada yang saya ingin bicarakan.''
'' Ada apa?'' jawab Daniel.
'' Diam David!'' Ucap Daniel sedikit membentak David.
'' Kita bisa bicarakan di ruangan saya,''
'' Biar aku dan istriku, dan kau David tunggulah disini, jangan buat keributan.'' Sahut Daniel dan di angguki David.
Dokter, Daniel dan Devita pun berlalu meninggalkan David di depan pintu ruang ICU, perasaan Devita semakin kalut terlebih lagi melihat raut wajah dokter yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang urgen.
Sesampainya mereka di ruangan dokter, Daniel dan Devita duduk dengan raut wajah yang menyimpan banyak tanya. Kemudian Dokter Obgyn pun meletakkan sebuah berkas di atas meja tepatnya di hadapan kedua orang tua David.
Daniel mengambil nya dan membuka lalu membacanya, sedikit banyaknya ia tahu bahasa medis, setelah membaca semuanya, Daniel terdiam menatap dokter dan Devita secara bergantian, Devita yang tidak mengerti pun tidak paham dengan arti tatapan mata Daniel.
__ADS_1
'' Ada apa Daniel?'' Devita bertanya dengan lirih, Daniel tidak menjawabnya, ia hanya diam dengan pandangan dingin
'' Begini Nyonya. Apa sebelumnya kalian tidak tahu apa yang terjadi pada nona Zahla?'' Devita menggelengkan. '' Nona Zahla mempunyai masalah pada dinding rahim nya, dan masalah ini tidak bisa di anggap remeh. Mungkin tanpa kalian tahu, dia sudah sering mengalami pendarahan namun tidak sebanyak dan mengkhawatirkan seperti saat ini.''
'' Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?''
'' Karena kandungan Nona Zahla baru berusia 29 Minggu dan di haruskan segera di lahirkan, maka dari itu kami memberikan surat persetujuan ini.''
'' Surat persetujuan apa? di lahirkan dengan awal begitu?''
'' Ya anda benar, tapi selain itu kalian juga dapat memutuskan untuk menyelematkan anak atau ibunya, karena kami tidak tahu nantinya akan terjadi sesuatu yang mesti memilih antara salah satu dari mereka.'' Devita tercengang mendengar penuturan sang dokter, matanya berkaca-kaca, mulutnya ia tutup dengan kedua tangannya.
Penjelasan dokter Obgyn itu membuat Devita benar-benar terpukul, ternyata menantu nya selama ini menyembunyikan rasa sakitnya seorang diri, apa David juga tidak tahu masalah ini? Devita terus bertanya-tanya.
Sebuah ketukan pintu terdengar seseorang masuk ke dalam ruangan dokter itu, seorang wanita yang juga berpakaian sama dengan dokter tersebut berjalan dengan wajah yang tertunduk.
'' Ada apa, dokter Renata?'' tanya dokter Obgyn.
'' Saya kesini untuk minta maaf, karena sebenarnya selama ini saya tahu permasalahan yang di derita nona Zahla, tapi karena permintaannya untuk tidak memberitahu kalian, saya pun diam. Nona Zahla sebenarnya ingin memberitahu kalian tapi karena melihat kebahagiaan kalian yang akan mendapatkan calon pewaris, diapun tetap memutuskan untuk terus melanjutkan kehamilannya.'' Lagi-lagi Devita membisu, air matanya yang semula hanya tergenang seketika turun dengan derasnya.
Gadis yang sudah menjadi menantu nya itu dan sudah di anggapnya sebagai anaknya sendiri, rela merasakan sakit untuk kebahagiaan mereka, rasa bersalah pun hinggap pada diri Devita, ia merasa gagal menjadi orang tua juga merasa sudah egois karena tidak memikirkan hal apapun demi kebahagiaan dirinya.
'' Daniel?'' Devita menangis di pelukan Daniel. '' Aku egois bukan?'' Daniel hanya diam dengan terus mengelus pundak istrinya, ia juga sama merasa bersalah nya dengan Devita, saat ini Daniel hanya memikirkan bagaimana perasaan David jika tahu semuanya.
Beberapa saat kemudian, setelah Devita sedikit merasa tenang, Devita pun melepaskan pelukan Daniel dengan seraya berkata. '' Aku tidak bisa memutuskan, karena yang lebih berhak adalah suaminya, tapi jika boleh jujur aku akan meminta kalian untuk menyelamatkan ibunya, bagaimanapun caranya.'' Ujar Devita dengan yakin.
__ADS_1