Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Kecewa!


__ADS_3

Perdebatan itu terhenti tatkala Daniel berkata yang sebenarnya pada Devita istrinya, Devita terkesiap mendengar sebab Daniel yang tiba-tiba membatalkan pertunangan anak mereka.


''Maafkan aku,'' lirih Daniel karena menyesal telah membentak istrinya.


''Sebab itulah aku berniat untuk membatalkan pertunangan David dan gadis itu,'' lanjutnya.


Saat Devita akan menyahuti ucapan Daniel pintu terbuka yang ternyata David sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya, dan tentu membuat Devita dan Daniel menoleh ke arahnya dengan tatapan berbeda.


''Apa maksud kalian?'' tanya David dengan wajah serius.


''David, masuklah nak,'' suruh Devita dengan suara yang memelan.


David pun masuk tanpa duduk, tangannya terlipat di atas perut dan menatap kedua orang tua nya untuk mendengarkan penjelasannya lebih lanjut, bukan ia tidak mendengar pembicaraan Daddy dan Mommy nya, hanya saja ia ingin memastikan lagi.


''Daddy mau, kau pergi ke Jepang untuk mengurus perusahaan cabang yang hampir failed karena tidak ada yang bertanggung jawab.'' Ujar Daniel.


David berdecak kesal, ia tahu apa yang Daniel ucapakan hanya sebuah alasannya saja untuk menjauhi Zahla. ''Ck, tidak perlu memberi alasan seperti itu, aku tau, Daddy menyuruh ku untuk ke Jepang karena untuk menjauhi ku dari Zahla. iya!'' ketus David.


''Aku tidak habis pikir, kenapa kalian bisa berniatan begitu,'' lanjutnya dengan suara penuh kekecewaan.


''Kau tidak tau menahu David, Daddy tidak menyetujui rencana pertunangan itu karena ada sebab nya,'' sahut Daniel.


''Aku tau, karena dia anak dari musuh kalian kan?'' Daniel dan Devita terdiam.


''Aku tidak peduli dia anak siapa, karena aku mencintainya.''


''Jangan keras kepala David!'' bentak Daniel.


''Aku sudah katakan, kalian boleh ikut campur masalah ku yang lainnya tapi tidak untuk masalah pribadi ku, terlebih lagi masalah percintaan ku.'' Tegas David yang langsung berlalu pergi tanpa berpamitan pada kedua orangtuanya.

__ADS_1


Daniel hanya terdiam dengan perasaannya yang bimbang, dalam lubuk hatinya ia pun menyetujuinya namun mengingat Zahla anak dari wanita yang pernah berniat mencelakai istri dan ayahnya waktu itu, membuat Daniel berpikir kembali untuk itu.


''Puas kau Daniel, aku benar-benar kecewa padamu.'' Cetus Devita yang ikut berlalu pergi dan meninggalkan suami nya seorang diri di ruangannya.


Daniel menghela nafasnya dengan berat, ia benar-benar di buat dilema soal ini, diapun tidak ingin berbuat seperti ini.


''Kalian tidak mengerti, setelah aku mengetahui semuanya pasti saat melihatnya mengingatkan aku pada wanita jahat itu.'' Gumamnya.


**


Di tempat lain, David yang sedang mengemudikan mobilnya masih merasa kesal dengan apa yang baru saja ia dengar walaupun tidak semuanya kebenaran itu ia ketahui, terlebih soal hubungan Kevin dengan Zahla yang memang ternyata memiliki hubungan darah.


David melajukan mobilnya ke arah kantornya, dengan kecepatan tinggi ia berulang kali memukul kemudinya meluapkan emosi nya, di usianya yang terbilang masih muda, emosinya pun masih terbilang labil terlebih lagi soal percintaannya harus di sangkut pautkan pada masalalu kedua orang tuanya.


''Aku tidak akan meninggalkan mu, Zahla.'' tekat David. Sesampainya ia di perusahaan, dengan asal memarkirkan mobilnya dan langsung menuju ruangan nya.


Ruangan yang semula rapih, dan ketika ia sampai, isi atas meja pun menjadi sasaran kemarahan nya, semua berhamburan dan beterbangan asal ke bawah lantai, sampai beberapa karyawan yang melintas di depan ruangannya pun merasa takut karena mendengar bos-nya yang sedang meluapkan emosi nya.


Seseorang member grup menyebarkan nya untuk memberi tahu kalau bos mereka sedang tidak baik-baik saja dan merekapun harus menyiapkan diri untuk berbagai macam kesialan, salasatunya lembur dan membuat bahan untuk di presentasikan walaupun tidak ada yang akan di pakai oleh David nantinya, itulah kebiasaan buruk David yang sangat di kenal di perusahaan.


Kabar itupun terdengar ke telinga Kevin yang baru saja sampai perusahaan karena habis bertemu dengan seorang Klien mewakili David, bosnya.


Dengan sigap Kevin pun menuju ruangannya karena dari dulu, Kevin lah pawang dari kebuasan David, Kevin memperhatikan setiap karyawan yang duduk dengan wajah pucat nya karena dia tahu buasnya dan gilanya David ketika sedang ada masalah dan di pastikan ada korban sebagai pelampiasan nya, yaitu para karyawan.


''Kalian tenanglah, tidak perlu takut seperti itu,'' ucap Kevin pada karyawan-karyawan yang terduduk pucat itu.


Begitu Kevin masuk ke ruangan David, benar saja dugaannya, keadaan ruangan David sudah tidak lagi rapih seperti semula, barang-barang yang semula tertata rapi di atas meja juga di lemari sudah berhamburan di bawah lantai.


Dengan berjalan hati-hati, Kevin menghampiri David yang berdiri menghadap jendela dengan tangan yang masuk di kedua kantung nya.

__ADS_1


''Ada apa? apa ada masalah di perusahaan?'' tanya Kevin dengan sangat hati-hati. David diam tidak menjawab nya.


''Vid, Zahla tidak ada di ruangan nya,'' ucap Kevin yang langsung di respon David.


''Kemana dia?'' tanya David dengan cepat.


Mata Kevin memutar malas, karena memang dia hanya bicara asal dan benar saja David akan merespon kalau bersangkutan dengan Zahla.


''Heehhh.. Kau ini kenapa?'' tanya Kevin lagi.


''Entahlah, aku tidak habis pikir dengan kemauan orang tua ku sendiri,'' alis mata Kevin mengernyit heran karena belum tanggap apa yang di ucapkan David.


''Dia meminta ku untuk menjauhi Zahla secara tiba-tiba, dan kau tau alasannya, hanya karena dia ternyata anak dari musuh mereka di masa lalu.'' Lanjut David lagi, Kevin masih diam untuk mencerna ucapan David.


''Lalu?'' hanya itu yang keluar dari mulut Kevin.


''Ya, secara tegas aku tidak mau menjauhi Zahla, kami juga sudah berkomitmen bersama untuk menjalin sebuah hubungan, dan aku mencintai nya.'' Jelas David.


''Kau tau dari mana kalau Zahla anak dari musuh Paman dan Bibi?''


''Tadi pagi tiba-tiba aku di minta untuk menghadap Daddy, dan sebelum aku menemuinya aku mendengar perdebatan mereka.''


''Tunggu, tunggu. Bukannya Zahla itu berasal dari panti asuhan?''


''Itu dia yang aku herankan, di sana aku dengar Daddy mengatakan kalau dia tidak menyetujui hubungan ku dengan Zahla karena Zahla anak dari wanita yang pernah berniat mencelakai mommy dan berusaha untuk membunuh kakek waktu dulu.'' Kevin semakin di buat heran, ia mengumpulkan serpihan-serpihan ucapan David dan juga Zen dan merasa saling bersangkutan.


''Nama ibu dari Zahla, apa kau tau?''


''Entahlah aku tidak mengingatnya, yang jelas aku benar-benar kecewa dengan keputusan mereka.''

__ADS_1


Mereka terdiam, dengan pikiran masing-masing, tapi tiba-tiba David di buat bingung dengan Kevin, karena Kevin berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun pada nya.


__ADS_2