
Kevin yang menyadari ada yang tidak beres berusaha mencari tahu, tapi tiba-tiba sisi dirinya yang lain berbicara lain.
'' Ya kenapa aku harus repot-repot dengan urusan orang lain.'' Ucap Kevin pada dirinya sendiri, dan memutuskan untuk tidak ikut campur dengan apa yang terjadi tapi teriakan itu terdengar lagi dan suara itu pun tidaklah asing di pendengaran nya.
Suara tawa dari seorang pria dan tangisan dari seorang wanita terdengar jelas saat Kevin menempelkan daun telinganya pada daun pintu yang memang di sanalah asal dari suara yang di dengar nya itu.
Kevin sangat yakin kalau di dalam sana sedang terjadi sesuatu yang tidak beres, Kevin berusaha membuka pintu itu, tapi memang sulit karena pintu yang terbuat dari bahan bermaterial khusus tidak mudah di buka begitu saja.
Tapi Kevin tidak kehabisan akal, di samping ruangan itu terdapat sebuah jendela kecil yang bisa ia manfaatkan untuk melihat langsung ke dalam.
Matanya terbelalak setelah melihat pria yang tertawa dengan sombongnya namun ia belum bisa melihat wanita yang memohon di lepaskan itu karena posisinya yang membelakangi jendela.
Kevin mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memecahkan kaca jendela itu dan hanya ada sebuah meja berbahan baja yang memang ada di sana untuk tempat menyimpan pajangan.
Prankkkk!!
Kevin memecahkan kaca dengan sekali hentakan, dua orang yang berada di sana benar-benar terkejut terlebih lagi pria yang sudah bertelanjang dada itu. Matanya terbelalak seperti ingin keluar dari tempatnya, ia benar-benar tidak menyangka Kevin ada di sana.
''Tuan Olaf, apa yang kau lakukan pada gadis itu?'' tanya Kevin dengan expresi yang datar.
Gadis yang menangis tadi hanya diam menunduk dengan wajah yang tidak mau terlihat, rambut panjangnya terurai menutupi sebagian wajahnya, keadaan pakaian nya pun sudah tidak layak di gunakan, ya ada beberapa robekan yang Kevin tahu kalau pelaku nya adalah Olaf sendiri.
__ADS_1
''Ayolah, tuan Kevin. Kita akan membagi nya, inilah yang ku maksud merayakan hari pertama kita bekerja sama.'' Tanpa tahu rasa malu pria bernama Olaf itu berkata lantang dengan sombongnya.
''Cih, menjijikkan,''
''Hahahah, jangan munafik kawan, kita sama-sama pria kecuali kau memang pria normal.'' Ejek Olaf yang berhasil membuat Kevin tersulut emosi dan seketika kaki panjang Kevin mendarat di perut Olaf sehingga pria seusia dengan nya itu tersungkur jauh.
''Kurang ajar, berani sekali kau bersikap seperti ini padaku!'' bentak Olaf yang tidak terima.
''Kenapa aku harus takut, bahkan untuk menghabisi saat ini juga aku bisa,'' sahut Kevin yang berhasil membuat Olaf bungkam ketakutan dan pergi dari sana meninggalkan nya dengan gadis yang masih memeluk tubuhnya sendiri.
''Nona apa kau tidak apa-apa, apa kita perlu ke dokter?'' tanya Kevin dengan cemas namun gadis itu masih tidak mau bicara karena rasa trauma nya.
''Aku akan melaporkan nya ke pihak berwajib,,'' gumam Kevin.
''Tapi dia sudah merendahkan harga dirimu, nona,'' sahut Kevin yang kesal dengan ucapan gadis tersebut.
Suara tangisan itu terdengar sangat lirih dari gadis itu, Kevin yang tidak tega mencoba berbicara perlahan, namun saat tangannya mengangkat dagu gadis itu matanya terbelalak karena gadis yang saat ini berada di hadapannya adalah Tiara.
Ya Tiara, wanita yang kemarin ditemuinya di kafe dan meminum kopi bersamanya, Kevin masih terdiam namun Tiara yang belum menyadarinya belum tahu kalau pria yang menolongnya itu adalah Kevin.
''Tiara?'' ucap Kevin dengan suara yang sangat pelan Kat keterkejutan nya. Mendengar namanya di sebut Tiara pun mengangkat pandangan nya dan sontak dengan tiba-tiba Tiara memeluk Kevin dengan eratnya, Kevin dapat merasakan ketakutan pada diri Tiara, juga rasa trauma yang mendalam.
__ADS_1
Dengan satu tangannya Kevin membalas pelukan Tiara dan menuntut nya untuk pergi dari sana, pakaian Tiara yang terdapat sobekan itu di baluti oleh jas miliknya.
Kevin tidak sama sekali membuka mulutnya, entah apa yang di pikirkan nya, dia hanya berjalan menuntun Tiara yang masih memeluk nya ke mobilnya dan pergi dari sana menuju hotel yang di tinggali nya.
Wajah cantiknya yang selalu di angkat nya dengan bangga melewati setiap orang saat ini tertunduk dengan malu, penampilan nya yang selalu elegan karena memang sebagian orang yang bekerja di hotel itu mengetahui profesinya saat ini terlihat kuyul, juga keadaan rambut yang setiap harinya berganti model saat ini terlihat lusuh bercampur air mata. Dan itu tidak lepas dari tatapan heran siapapun yang melihatnya.
Ya Kevin dan Tiara sudah sampai di hotel tersebut, melewati beberapa orang yang merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada model majalah itu. Kevin berjalan dengan raut wajah yang tidak menunjukkan expresi apapun sampai tiba ke kamar miliknya.
Kevin menempatkan Tiara di sofa sebrang ranjang tidur nya, tanpa mengucapkan apapun Kevin berlalu ke arah kamar mandi dan kembali dengan semangkuk air dengan handuk dan kembali duduk di samping Tiara.
Dengan telaten nya ia mengusap lembut wajah Tiara yang terdapat luka di sana dengan handuk yang di rendam dengan air hangat yang di ambilnya, Tiara meringis menahan sakit namun ia juga terharu dengan pertolongan Kevin padanya, tapi tidak menutup kemungkinan rasa malu memperlihatkan wajahnya di depan Kevin sangatlah nyata.
Air matanya kembali menetes mengingat perlakuan Olaf padanya juga rasa malu yang saat ini menggerogoti harga dirinya. ''jangan menangisi yang sudah terjadi, karena itu tidak ada gunanya.'' Ujar Kevin yang masih tanpa expresi itu.
''Apa aku masih punya wajah untuk di angkat depan kamera,'' lirih Tiara.
''Istirahatlah, kau terlihat sangat lelah. Biar aku tidur di sofa.'' Sahut Kevin tanpa menjawab ucapannya, Kevin membantu Tiara merebahkan diri nya di ranjang miliknya dan dia kembali ke sofa untuk ikut mengistirahatkan tubuh nya juga.
Tidak ada pertanyaan maupun komentar yang terlontar dari Kevin, dan itu membuat Tiara semakin merasa malu karena beranggapan kalau Kevin pun merasa jijik padanya.
Tiara menolehkan kepalanya dan melihat ke arah Kevin yang terlihat sudah tertidur pulas di atas sofa panjang itu, rasa kantuk pun hinggap pada diri Tiara dan diapun ikut tertidur dengan rasa malunya yang juga ikut ke dalam alam mimpinya.
__ADS_1
Kesunyian di kamar yang bercahaya redup itu merasuk, Kevin yang sebenarnya belum juga tertidur, matanya yang sengaja ia tutupi dengan lengannya, perlahan ia singkirkan dan menoleh ke arah Tiara yang ternyata sudah tertidur lelap.
Tanpa membuat suara bising, Kevin pun bangkit dari sofa menuju ranjang dan memperhatikan wajah pucat yang menyimpan rasa trauma itu. Tatapan Kevin menyiratkan sebuah kemarahan yang entah dia tuju untuk siapa. Tangannya mengepal erat dan berlalu pergi dari hotel itu meninggalkan Tiara yang tertidur.