
Di Bandara internasional, dua orang pria berjalan dengan penuh wibawa, aura ketampanan menyeruak ke penjuru bandara, David Guetta Carroll dan Kevin Heinze, ketampanan mereka memang tidak di ragukan lagi. Para wanita muda maupun lansia turut terpana dengan wajah keduanya.
David dan Kevin berjalan beriringan, memakai pakaian non formal, ya mereka memakai pakaian santai, kaus yang ketat dengan di padukan sebuah jaket kulit asli dan celana jeans. Bisa di bayangkan di tengah-tengah kerumunan manusia yang ada di bandara, dua orang pria berjalan dengan sangat gagah, bahkan ada yang mengira kalau keduanya adalah aktor terkenal.
David melirik Kevin di balik kaca mata hitamnya, ia menyadari kalau Kevin sudah berubah menjadi oria yang lebih dingin, dan mungkin saja hampir mendekati sifatnya. '' Hei, aku perhatikan kau seperti mengikuti gaya ku!'' tuduh David dengan tiba-tiba.
Kevin menoleh dan yang berdecak kesal karena ucapan sahabat nya. '' Nanti setelah sampai, kita berpisah, kau urus urusan mu dan aku urus urusan ku,'' seru Kevin yang sudah lebih dulu duduk di kursi pesawat.
'' Ciih, aku bahkan tidak tertarik dengan apa yang akan kau lakukan,'' sahut David.
''Mungkin kalau kau tahu, kau akan membunuh ku,'' ucap Kevin dalam hatinya.
Lima jam perjalanan akhirnya pesawat pun mendarat dengan selamat, David dan Kevin berpisah di pintu keluar bandara sesuai perjanjian. David yang di jemput dengan asisten yang di tugaskan untuk mengurus perusahaan Huang Corp, dan Kevin yang akan menaiki mobil sewaan nya.
Mereka berlalu dengan dua arah yang berbeda David yang tentunya sudah tersedia dalam segala hal dari hotel sampai mobil beserta sopir dan Kevin yang pergi mengurus urusannya tanpa David tahu apa yang sebenarnya akan Kevin lakukan di sana.
~
Hari sudah mulai gelap, Zahla yang merasa kesepian hanya duduk di balkon kamarnya seorang diri, baru saja sekitar 6 jam ditinggal suaminya untuk perjalanan bisnis, wanita hamil itu sudah merindukan sosok David di sampingnya.
Berulang kali Zahla menghela nafasnya, terus melirik layar ponsel karena menunggu David menghubungi nya, tapi belum juga pria yang sudah menjadi suaminya itu menghubungi dirinya.
Bibirnya mengerucut, di tambah pipinya ia gelembungkan, dengan wajah seperti itu gadis 23 tahun itu sangat terlihat menggemaskan.
''Haaahhh, apa kau lupa untuk mengabari ku, David.'' Lirih Zahla, dengan tangan yang terus mengelus perut nya yang sudah terlihat membesar itu, ya usia kehamilan Zahla sudah memasuki bulan ke 7.
__ADS_1
Dugg' perut Zahla bergerak seakan-akan ada yang menendangnya dari dalam, ya siapa lagi kalau bukan ulah calon pewaris keluarga Carroll. Zahla tersenyum lebar menatap perutnya yang buncit. '' Kau merindukan, ayah mu juga kan?'' tanya Zahla pada anaknya. '' Ya, ayah mu tega, tidak memberitahu kabar sampai sekarang pada ibu mu ini,'' lanjutnya.
Suara pintu di ketuk terdengar, Zahla menoleh dan mengintip dari celah gorden dan ternyata yang datang adalah Devita, ibu mertuanya. '' Kau sedang apa, nak?'' tanya Devita.
'' Tidak, Mam. Sedang mencari angin saja.''
'' Angin malam tidak bagus untuk mu dan anak mu. Kau juga belum makan malam,''
'' Tapi aku tidak merasa lapar, Mam.''
'' Anak mu?'' Zahla terdiam, ya dia tidak boleh egois dan harus memikirkan nasib anaknya jika tidak ada asupan yang masuk. Zahla berjalan dengan di gandeng mertuanya.
'Harusnya aku bahagia karena mendapatkan mertua yang tidak sama sekali menganggap ku hanya menantu tapi beliau menganggap ku seorang anak, anaknya sendiri. Aku beruntung memiliki keluarga yang cukup hangat, selain ibu mertua ku yang baik, ayah mertua ku juga tidak pernah membatasi ruang gerak seperti menantu dari konglomerat lainnya. Kau beruntung nak, begitu kau lahir nanti, kau sudah menjadi pewaris dari keluarga terpandang seperti ini.'
Zahla terus bermonolog dengan terus mengusap perutnya, bibirnya terus tersenyum memandangi Mertuanya yang berjalan di depannya.
'' Anak pintar,'' puji Devita bak memuji anak kecil. Zahla tertawa kecil menangapi ucapan mertuanya itu.
Sesampainya di ruang makan, di sana sudah ada Daniel yang menunggu istri dan menantunya, duduk di satu meja yang sama, Zahla masih merasa canggung tapi sebisa mungkin Zahla bersikap biasa saja.
Makan tanpa adanya obrolan, seperti biasanya yang di terapkan oleh keluarga Carroll. Daniel melirik Zahla setelah menghabiskan makanannya, Zahla yang seperti sedang memikirkan sesuatu dan tidak berselera memakan makanan yang ada di piring nya.
'' Apa kau sakit, nak?'' tanya Daniel tiba-tiba pada Zahla yang tersentak kaget.
'' Tidak, Dad.''
__ADS_1
'' Lalu kenapa hanya mengaduknya saja, apa kau sedang ingin makan sesuatu?''
'' Iya, sayang. Apa yang ingin kau makan, biar Mommy buatkan.''
'' Tidak Mam, terima kasih. Ini saja.'' Zahla pun memaksa untuk menyantap makanan yang ada di piringnya.
'' Habiskan makanan mu ya. Dan minum vitamin mu. Daddy akan melanjutkan pekerjaan di ruang kerja.'' Daniel berlalu pergi seraya mengelus pundak istrinya mengisyaratkan agar menjaga menantunya dengan baik.
Wajah Zahla memerah, ia merasa sangat terharu karena ternyata ayah mertuanya itu sangat peduli dengan nya, 'Beginikah rasanya memiliki ayah.' Zahla menatap punggung ayah mertuanya dengan nanar, matanya berkaca-kaca, Devita yang melihatnya pun mengerti perasaan Zahla.
'' Mulai saat ini, kamu jangan pernah sungkan terhadap kami, anggaplah kami ini orang tua mu sendiri, hmmm?'' ucapan Devita kian membuat Zahla semakin terharu. Ya pasalnya karena memang ia belum pernah tahu rasanya di pedulikan oleh orang tuanya sendiri, rasanya di manja, di sayang, dan di perhatikan pun ia belum tahu rasanya.
~
Di Sebuah lobby perusahaan yang terkenal di kota sana, seorang gadis yang berpakaian formal dengan beberapa berkas di tangan nya baru saja keluar dari pintu masuk perusahaan.
Rambutnya yang panjang dan pirang, ia ikat tinggi ke atas, menambah kesan manis pada wajah bulenya.
Beberapa pria yang mungkin satu Devisi dengan nya saling menawarkan jasa untuk mengantarkan gadis cantik itu untuk pulang tapi semuanya di tolaknya dengan halus tanpa ingin menyakiti hati mereka.
'' Emily!!'' panggil seorang gadis yang berlarian dari dalam gedung bertingkat itu.
Ya ,gadis berambut pirang itu adalah Emily, ia menoleh dan tersenyum dengan gadis yang memanggil nya. '' Kau selalu saja meninggalkan ku,'' seru gadis berambut hitam.
'' Maaf Zoe, tadi aku terburu-buru karena Tuan manager meminta ku memberikan berkas ke pihak HRD.'' Sahut Emily.
__ADS_1
Gadis bernama Zoe Saldana adalah teman Emily selama ia bekerja di sana, Emily yang tidak bisa akrab dengan sembarang orang mendapatkan teman seperti Zoe yang menurutnya baik tentu merasa senang. Mereka memasuki sebuah taxi yang sudah di pesan oleh mereka tanpa tahu ada seseorang yang terus memperhatikan nya dari jarak beberapa meter dengan mobil hitam.