
''Aaaawwwwww''
Dengan wajah panik David segera bangun dari yang semula sudah menindih tubuh Zahla, ia khawatir dengan posisinya menyakiti istrinya itu.
''Ada apa honey?''
''Kau kenapa?''
''Cepat katakan!'' David berulang kali melontarkan pertanyaan namun Zahla hanya diam meringis menahan sakit yang entah apa yang di rasakan nya.
''Sebentar, aku akan kembali,'' jawab Zahla yang langsung berlalu pergi menuju kamar kecil yan yg terletak di sudut kamar.
David yang melihat istrinya kesakitan tentu merasa khawatir terlebih lagi wajah Zahla yang seketika berubah warna, ia membuntut dari belakang dan berniat akan ikut masuk ke kamar mandi namun belum juga ia masuk, pintu sudah di tutup dan di kunci dari dalam oleh Zahla.
''Lho kok di tutup? honey.. kau kenapa? apa yang kau rasakan?'' tanya David meneriaki Zahla yang ada di dalam kamar mandi.
''Sebentar David!'' sahut Zahla.
''Dia kenapa? aku belum berbuat apa-apa, kenapa dia sudah berteriak,'' gumam David yang merasa bingung sendiri.
David menunggu dengan tidak sabarnya di depan pintu kamar mandi, lima belas menit telah berlalu, David pun sudah berulang kali mengetuk pintu namun yang terdengar hanya suara gemercik air dari dalam sana, perasaannya pun semakin tidak karuan. ''Honey! sebenarnya kau kenapa?'' tanya David lagi dengan sedikit berteriak panik.
'' Kalau tidak kau jawab juga, aku akan mendobrak nya,'' ujar David lagi yang sudah tidak bisa lagi menunggu, namun saat David akan mengambil aba-aba akan menendang daun pintu tersebut, pintunya pun terbuka namun hanya selebar telapak tangan.
''Honey? kau tidak apa-apa kan?'' Zahla yang masih di dalam kamar mandi hanya menongolkan kepalanya dan itu tentu membuat David semakin kebingungan dengan sikap Zahla. Wajah Zahla memerah malu ia bingung untuk menjawab dan mengatakan apa pada David.
''Katakan, kau kenapa? jangan membuat ku semakin takut,''
''Emmm David,''
''Ya? katakan.''
''Apa aku bisa meminta bantuan mu,'' ucapnya dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1
''Ya apa? cepat katakan.'' jawab David yang sudah gemas.
''Tolong kau pergi ke minimarket, dan belikan aku roti Jepang, bisa?'' ucap Zahla dengan rasa malu yabg sudah tidak bisa lagi tertahan.
''Hah? roti Jepang? apa itu? apa kau lapar?''
''Bukan seperti itu, pokoknya kau tanyakan saja pada penjaga kasirnya, pasti dia akan mengerti.''
''Baiklah, aku akan meminta Kevin untuk membelinya.'' David pun berlalu pergi mencari keberadaan Kevin yang mungkin saja masih di tempat pesta itu berlangsung.
Dengan kaki yang melangkah dengan lebar nya, David berjalan begitu cepat, yang dia pikirkan hanya bagaimana pun dia harus menemukan Kevin dan memintanya untuk membelikan apa yang di katakan Zahla padanya.
Pria dengan berjas biru Dongker terlihat dari ujung mata David, ya dia adalah Kevin yang sedang berbincang dengan 2 orang pria lainnya yang tidak asing lagi di matanya, siapa lagi kalau bukan Kean dan Rey, dua sahabat lainnya.
''Vin!'' panggil David dan bukan hanya Kevin yang menoleh karena panggilannya melainkan Kean dan Rey pun ikut menoleh.
''Hey kawan. Apa sudah selesai dengan ronde pertama nya, kenapa kau meninggalkan istri mu sendirian, ada apa?'' ledek Kean.
''Diamlah. Vin kemarilah.'' Tanpa permisi David menarik lengan Kevin dan membawanya menjauh dari dua temannya.
''Jadi maksud mu, aku yang harus membelikan nya.''
''Ya, kasihan dia, sepertinya istri ku itu sudah sangat kelaparan.''
''Baiklah, kau tunggu di kamar mu saja.'' Tanpa berpikir lagi, Kevin pun berlalu pergi untuk membelikan apa yang di minta adiknya itu dan David kembali ke kamar nya untuk melihat keadaan Zahla.
Saat David masuk ke kamar dan mencari keberadaan Zahla yang ternyata masih berada di kamar mandi tentu membuat David semakin di landa keheranan.''Dia lapar, tapi kenapa masih berada di sana,'' gumamnya.
Lima belas menit berlalu sampai setengah jam Kevin baru sampai di sana, tanpa mengucapkan kata terima kasih David merampas kantung yang di bawa Kevin dan langsung memberikannya pada Zahla yang masih berada di kamar mandi. ''Sayang, ini pesanan mu!'' Zahla pun membuka pintunya namun hanya sedikit, dan itupun hanya tangannya yang terulur untuk mengambil kantung pesanannya.
''Kenapa dia makan di kamar mandi?''
''Davidd...!!'' teriak Zahla lagi.
__ADS_1
''Ada apa?!''
''Kenapa kau membelikan aku roti ini?'' tanya Zahla dengan raut wajah yang kesal bercampur malu karena saat ini ia hanya menggunakan baju handuknya.
''Lalu kau mau roti macam apa? aku tidak mengerti.''
''Maksud ku pembalut, David.'' Dengan wajah yang benar-benar menanggung rasa malu, Zahla pun terpaksa mengatakan nya dengan lantang dan tentu membuat David terbelalak dengan mulut yang terbuka.
''Pe-pembalut? maksud mu pengganjal untuk itu?'' Zahla pun mengangguk lemah.
''Astaga honey.'' Tubuh David sudah lemas mendengar nya, harapannya yang akan melewati malam manis ternyata gagal karena tamu sialan yang datang tanpa di undang itu.
''Sebentar aku akan menghubungi Mommy,'' ujar David dengan suara yang sangat lesu. Zahla yang tahu kalau David akan kecewa hanya bisa menggigit jari-jari menampilkan wajah bersalah nya.
Di aula pernikahan, Devita yang masih berada di sana berbincang dengan keluarganya merasa heran karena ponselnya berdering dan menampilkan nama David di sana. ''Siapa Mom?'' tanya Daniel.
''Anak mu, ada apa dia menghubungi ku ya?''
''Jawablah, siapa tahu dia membutuhkan sesuatu?'' Devita pun mengangguk dan segera menjawab telpon dari David.
Di saat terhubung Devita pun menjawab nya dan mendengarkan apa yang di katakan David dengan wajah menahan tawa dan itu tentu membuat Daniel merasa bingung. '' ada apa?''
''Sepertinya anak mu akan gagal dengan jatah malam pertamanya.'' Bisik Devita dengan tawa gelinya.
Meninggalkan kisah malam pertama yang gagal, di sebuah paviliun seorang wanita baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai model pemotretan sebuah majalah dari sebuah agensi perusahaan yang cukup besar.
Dengan wajah cantiknya yang berias tebal menyimpan rasa lelah karena seharian penuh harus melakukan pemotretan yang memang sudah menjadi profesi nya- sebagai modelnya.
Dengan mata lentiknya, ia menatap ke arah luar dari balik jendela yang di buka, ia tahu kalau hari ini adalah hari pernikahan seseorang yang masih tersimpan spesial di hatinya. ''David,'' lirihnya.
Ya dia adalah Tiara wanita yang masih menyimpan rasa cinta yang teramat dalam untuk pria yang sudah menjadi suami dari wanita lain. Tidak di pungkiri juga rasa ingin memiliki pria itu lagi masih begitu besar.
Namun ia sadar bahwa keinginannya itu tidak akan bisa terpenuhi karena bagaimanapun dia memaksakan kehendaknya tetap cintanya tidak akan terbalaskan.
__ADS_1
''Semoga kalian bahagia.'' Gumam Tiara dengan hati yang ikhlas.