Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Jangan ganggu mereka!


__ADS_3

Di sebuah ruangan kamar hotel yang mewah, seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Marissa baru saja keluar dari kamar mandi, dengan balutan handuk yang melilit tubuhnya ia berjalan ke arah dimana ponselnya berada, sebuah pesan masuk di jam yang sudah memasuki waktu dini hari itu membuat ia merasa heran.


''Nomor siapa ini?'' gumamnya.


Tangan kirinya yang sedang mengeringkan rambut basahnya dan tangan kanannya yang masih memegang ponselnya.''Emily?'' garis wajahnya terbentuk membentuk senyuman, senyuman bahagia. Namun seketika senyum itu sirna secara perlahan.


''Aku kira dia sudah ingat tentang aku, tapi tidak apa,'' lanjutnya. Jari jemarinya bergerak dengan cepat mengetik sesuatu untuk membalas pesan yang Emily kirim.


Surya telah muncul, dua wanita cantik terbangun dari tidurnya karena ketukan pintu yang keras, ''siapa sih, bising sekali.'' Keluh gadis berpiyama kuning warna favoritnya yang di pinjam dari kakak iparnya.


''Entahlah, kau lanjutkan tidur saja, biar kakak yang memeriksa nya,'' ujar Zahla dengan lembut. Emily pun mengangguk dengan bibir tersenyum ia merasa nyaman berada di dekat Zahla yang memang memiliki jiwa keibuan yang melekat nyata pada diri gadis yang seusia nya itu.


Zahla turun dari tempat tidur setelah mengusap lembut kepala Emily, membiarkan nya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh suara bising yang sudah di yakini itu berasal dari seseorang yang tidur di kamar tamu semalaman.


Mata Zahla yang masih setengah terbuka tiba-tiba terbelalak menatap David dengan penampilan kacaunya, kantung mata yang kendur juga menghitam, piyama yang berantakan begitu juga rambut yang membentuk benang yang di landa ayam, sungguh dimana wajah tampan nya?.


''Dimana dia?'' tanya David tiba-tiba.


''Siapa, Emily? dia masih tidur, memangnya ada apa?''


''Gara-gara dia, aku tidak bisa tidur semalaman.'' Takut suara David menganggu tidur Emily, Zahla pun mendorong David dan menarik tangan nya dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Zahla membawa David ke ruang tamu dan menyuruhnya untuk duduk lalu Zahla membuatkan minuman yang entah minuman apa karena warna dan aromanya dari minuman itu sedikit aneh.''Minumlah,''


''Apa itu?''


''Jamu,''


''Jamu? untuk apa?''


''Wajah mu pucat, kamu harus minum, agar tidak sakit,'' ucap polos Zahla.


''Astaga honey, aku pucat karena tidak tidur semalaman,''

__ADS_1


''Kok bisa?''


''Aku mana bisa tidur kalau tidak di samping mu, honey.'' Rengek David yang bergelayut manja di lengan Zahla.


Jam menunjukan pukul sepuluh pagi, setelah membersihkan diri dan merayu David agar tidak menggangu Emily, Zahla pun segera memasak untuk makan mereka bertiga, dan David yang tertidur di sofa ruang tamu karena rasa kantuk nya.


Selesai memasak, Zahla berniat untuk membangunkan suami dan adik iparnya, namun belum juga ia melangkah dari area dapur, Emily sudah muncul dengan wajah bantalnya.


''Pagi kak, Kaka masak apa? Emily lapar sekali.'' Rengek Emily.


''Pagi Em, Makanlah, kebetulan Kaka sudah selesai masak.'' Karena merasa lapar, Emily pun segera mengambil piring dan menyendok nasi serta lauk yang sudah tersaji di atas meja lalu memakannya dengan lahap.


''Kak David sudah pergi ke kantor ya kak?'' tanya Emily dengan mulut yang penuh dengan makanan.


''Tidak, kakak mu sedang tidur di sofa.''


''Oh ya kak, siang nanti aku pamit ya, ada urusan juga dengan teman kuliah ku.''


''Ya hati-hati ya, lalu apa nanti kamu pulang ke kesini?''


Jam sudah menunjukkan pada angka ya 12, Emily yang sudah bersiap akan pergi dan sudah berpamitan juga dengan Zahla, di hentikan langkah nya karena panggilan dari David yang baru saja selesai membersihkan dirinya dan akan pergi makan.


''Tunggu, biar kakak antar, kakak makan dulu.''


''Tidak, tidak perlu, aku bisa sendiri kok, lagipula aku kan bawa mobil sendiri.''


''Oh ya sudah kalau begitu.''


''Tapi jika kakak ingin memberikan aku bekal untuk bahan bakar mobil ku, aku tidak menolak.'' Ucap Emily dengan memamerkan gigi putih nya.


''Ya sudah isi saja bahan bakar mu lalu sebut nama ku,'' gurau David yang di sambut dengan wajah kesal dari Emily.


''David..'' tegur Zahla.

__ADS_1


''Ya, ya, ya. Kemarilah.'' David merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa uang kertas dari dompetnya yang di sambut ruang oleh Emily.


''Terima kasih kakak ku,'' karena merasa senang di berikan uang saku dengan jumlah yang cukup banyak Emily pun berniat akan memeluk David tapi tangan David segera mencegahnya yang ia ulurkan menahan pada dahi Emily agar berjarak dari dirinya.


''Stop, tidak ada acara peluk memeluk, ok.''


''Baiklah,, kalau begitu aku pamit, bye kakak, bye kakak ipar.'' Emily berlari dengan riang meninggalkan unit apartemen milik kakaknya.


Mobil sedan berwarna merah muda, Emily kendarai dengan lihainya, namun saat roda mobil nya terhenti di sebuah cafe dan matanya melihat seorang wanita yang duduk di sudut cafe raut wajahnya pun berubah.


''Aku tidak akan membiarkan kakak ipar ku merasa sedih karena hadirnya orang yang ada di masa lalu kakak.'' Gumam Emily.


Berbeda sikap dengan di hadapan Zahla dan David, saat ini Emily bersikap lebih elegan ketimbang saat dihadapan kakak dan kakak iparnya, kaki jenjangnya meliuk-liuk menuju ke meja yang di sana ada seorang wanita berpakaian rapi dan elegan. ''Selamat siang ka Marissa.'' Sapa Emily setelah sampai di meja tujuan nya.


''Emily? silahkan duduk.''


Sejenak meraka saling diam, dan akhirnya Emily pun memulai nya dengan deheman. ''Langsung saja ya kak, aku tidak bisa berbasa-basi.'' Ujar Emily dengan wajah serius dan bernada ketus yang membuat Marissa terheran-heran.


''Maksud kamu?''


''Kak Risa, katakan apa tujuan kakak kembali ke sini?'' pertanyaan Emily membuat Marissa tersentak, sungguh perkiraan nya meleset jauh dari dugaannya.


''Jadi kamu tahu aku ini siapa,''


''Ya tentu saja, kak,, Kaka David sudah bahagia dengan rumah tangga nya, jadi aku mohon jangan ganggu mereka.'' Bagai terhunus benda tajam pada area jantungnya, dadanya berdebar begitu kencang mendengar ucapan Emily terhadapnya.


''Aku tahu di antara kalian belum ada kata berpisah, tapi itu semua hanyalah masalalu kak,''


''Ly, kamu tidak mengerti.'' Lirih Marissa dengan memanggil panggilan biasa untuk Emily dulu yaitu Lyli.


''Aku mengerti kak, Emily bukan anak kecil lagi, Emily mengerti semuanya, tapi apa kakak tega menganggu kebahagiaan dari gadis sebaik kak Zahla.'' Ucapan Emily lagi-lagi membuat Marissa tersentak.


''Tapi bagaimana dengan kebahagiaan ku, Ly?'' kali ini Marissa yang berbicara dan Emily pun terdiam sejenak.

__ADS_1


''Kakak sudah menemukan kebahagiaan kakak sendiri sejak lama.'' Ujar Emily setelah ia menarik nafasnya menyiapkan ucapan yang akan ia lontarkan selanjutnya.


__ADS_2