Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Sensitif nya ibu hamil


__ADS_3

''Daviiiiid.....!!!!!'' teriakan kencang berasal dari dalam kamar yang tak lain adalah Zahla sendiri.


David yang berada di ruang tamu pun berlari tunggang langgang menghampiri Zahla yang berteriak memanggil namanya. Braakkkkk..


David membuka pintu dengan sangat kerasnya, wajahnya yang panik terlihat jelas dari urat-urat leher juga suara nafas yang memburu.


''Ada apa sayang? perutnya sakit? atau kepala mu? atau ada apa, cepat katakan!?'' tanya David dengan sangat paniknya.


Dengan wajah ala-ala tak merasa bersalah, Zahla hanya tersenyum dengan pipi yang di gelembung kan dan menggeleng pelan. ''Mau itu...'' Ucap Zahla dengan tangan yang menunjuk pada layar kaca yang sedang menampilkan drama Korea yang kebetulan adegan tersebut sedang memakan sebuah mie yang menggugah selera siapapun yang melihatnya.


Ya, belakangan ini Zahla sering bersikap manja layaknya seorang wanita hamil yang kerap menunjukkan hal-hal aneh dan menginginkan sesuatu yang harus di turuti.


David menoleh ke arah telunjuk Zahla menunjuk, matanya mengecil dan kemudian ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.


''Itu?'' tanya David dengan suara yang tertahan dan Zahla mengangguk pelan.


''Tapi sayang, itu makanan tidak sehat,'' ucap David memberi pengertian secara perlahan pada ibu hamil yang sensitif itu.


Mendengar jawaban dari suaminya yang sepertinya keberatan dengan permintaan nya, entah kenapa air matanya menggenang indah di pelupuk mata bulatnya dan itu dapat di lihat jelas oleh David.


''Hei honey, sayang. Jangan menangis, tunggu sebentar, sebentar saja,,'' ucap David yang melangkah menjauh dari Zahla dan merogoh ponselnya lalu menghubungi seseorang dari balik gawainya.


Telpon pun tersambung dengan David yang menunggunya beberapa saat.


''Halo, Davin, apa Zahla boleh memakan sebuah mie?'' tanya David tanpa adanya permisi maupun kata maaf karena telah menelpon di waktu yang memang tidak tepat.


''Hei..!!! brengsek. Kau menelpon di tengah malam hanya untuk menanyakan ini? kurang ajar kau David,'' maki Davin, kakak sepupu David yang berprofesi sebagai dokter umum.

__ADS_1


''Sudahlah, kau ini seorang dokter. Cepat jawab, boleh atau tidak?'' ujar David tanpa mempedulikan David yang kesal karena di ganggunya.


''Aku bukan dokter kandungan!!'' maki Davin lagi.


''Ck, Cepatlah Davin,'' paksa David.


''Ya boleh, tapi tidak berlebihan, bicarakan baik-baik pada istri mu, ingatkan dia kalau saat ini ada seorang anak yang tumbuh di dalam rahimnya.'' Ujar Davin dan David pun mendengarkan nya dengan seksama lalu seperti biasanya, tanpa kata terima kasih ataupun permisi, David memutuskan sambungan secara sepihak dan membuat siapapun akan geram karena sikap seenaknya.


Di tempat tidur, Davin terus memakai ponselnya yang karena baru saja menerima telpon dari orang yang arogan, sepupunya sendiri.


''Dasar brengsek! tidak punya akhlak.. anak kurang ajar!!'' Maki Davin pada layar ponselnya.


Mata melirik ke arah jam yang ada di gawainya, dan rasa kesal itu bertambah semakin besar karena memang David menghubungi nya pada jam istirahat nya yang baru saja pulang dari tugasnya, 02:30 dini hari. Mata lelahnya sangat kentara dari kantung yang kendur di area matanya dan dengan helaan nafasnya yang perlahan, Davin pun melanjutkan tidurnya kembali.


Kembali pada pasangan suami istri yang baru saja mendapatkan kabar bahagia atas kehamilan istrinya, David dan Zahla.


David mendekat ke arah dimana Zahla duduk dengan sangat hati-hati. Sungguh, sebenarnya David sudah sangat mengantuk terlebih lagi ia benar-benar lelah karena memang baru saja pulang dari perjalanan bisnis nya dan harus menuruti permintaan ibu hamil itu, tapi ketahuilah tidak ada penolakan apapun dari David, ia bersikap sangat sabar pada istri kecilnya itu.


''Honey,,, apa kau benar-benar sangat menginginkan nya?'' tanya David dengan lembut dan Zahla pun mengangguk.


Zahla menatap wajah David yang tanpa David katakan pun Zahla dapat mengetahui kalau saat ini suaminya sudah mengantuk dan juga lelah.


''Kau sudah mengantuk ya?'' tanya balik Zahla.


''Hah? tidak, sayang,,'' jawab David dengan cepat karena tidak mau istrinya merasa khawatir.


''Maafkan aku ya David, pasti kau kewalahan dengan keinginan ku. Kalau begitu aku akan menunggu nya besok saja, kita tidur saja ya.'' Ujar Zahla yang sebenarnya merasa bersalah pada suaminya.

__ADS_1


''Tidak sayang, kalau kau memang sangat menginginkan nya, aku akan pergi mencari mie yang kau mau.'' Zahla menggelengkan kepalanya dengan cepat meyakinkan suaminya bahwa dirinya tidak mengapa jika harus menunda keinginan nya.


''Besok saja, lagipula aku sudah sangat mengantuk.'' Kilahnya, ya sebenarnya mata Zahla masih mengering, kehamilannya membuat ia sulit tidur pada malam hari dan sebaliknya, di siang hari ia sering merasa mengantuk.


Sungguh, di dalam benak David, ia benar-benar menghela nafasnya dengan lega karena tidak harus pergi di gelapnya malam hanya untuk mencari makanan yang sebenarnya tidak baik untuk ibu hamil itu.


Merekapun tidur dengan posisi yang saling memeluk satu sama lain. Tangan David terus mengelus tubuh bagian belakang Zahla agar ibu hamil itu segera tertidur namun sebaliknya, David lah yang justru tertidur lebih dulu karena memang sudah sangat mengantuk.


Zahla yang menyadari suaminya telah pulas karena hembusan nafasnya yang teratur, Zahla pun berusaha untuk tidur juga namun memang sangat sulit. Zahla mendongakkan kepalanya untuk menjangkau wajah David, matanya menatap wajah damai suaminya yang terlelap dalam tidurnya.


Tangan kecil Zahla bergerak dengan sendirinya dan mengelus rahang tegas David yang di tumbuhi rambut-rambut halus di sana.


''Maaf ya, jika aku dan anak mu merepotkan mu, tapi sungguh sebenarnya aku tidak mau itu.'' gumam Zahla dalam hati nya.


Ya tidak dapat di pungkiri, seorang wanita hamil memang kerap sangat sensitif terhadap apapun itu, hormon yang terkadang naik turun Zahla rasakan juga semenjak ia hamil. Menangis tanpa alasan, menginginkan sesuatu secara tiba-tiba dan terkadang pula rasa malas pun menghampiri Zahla dan itu dapat di rasakan nya dengan jelas.


Perlahan mata Zahla pun merasa berat, rasa kantuk pun datang dan akhirnya nya Zahla tertidur dengan nyenyak nya di pelukan hangat dari suaminya.


***


Kabar kehamilan Zahla belum sampai ke telinga Kevin kakak Zahla atau bisa di bilang kakak sepupu Zahla.


Ya sebenarnya David sangat ingin memberitahu kabar baik itu namun karena permintaan dari istri kecilnya yang tidak ingin memberitahu Kevin perihal kehamilannya karena untuk sebuah kejutan jika Kevin kembali ke tanah air nanti.


Matahari pagi di langit Amsterdam sangatlah indah, seorang pria duduk dengan sebuah cangkir kopi di tangannya, Kevin Heinze.


Ya, tugas Kevin sebenarnya sudah selesai sejak lama di kota itu, dan mengharuskan Kevin segera kembali ke tanah air, namun karena ada sesuatu yang menahan nya untuk menunda kepulangannya akhirnya Kevin beberapa hari menetap di sana dan hari ini adalah jadwal kepulangan dia, ke kota dimana ia lahir.

__ADS_1


Ada suatu hal yang mengganjal dari dalam diri Kevin untuk meninggalkan kota tersebut, namun tekatnya pun harus di bulatkan.


''Aku rasa sudah cukup menjaganya selama ini, kini waktunya aku kembali.'' Gumam Kevin dengan menikmati sejuknya udara pagi hari.


__ADS_2