
Tawa menggelegar seseorang terdengar memenuhi ruangan gelap dan hanya ada satu lampu yang menyoroti sebuah kursi yang di duduki seseorang lengkap dengan tangan yang terikat.
Seorang pria yang tidak lagi muda dan bisa di bilang pria paru baya, duduk dengan tangan yang terikat dan mulut yang di lakban pula.
''Buka!'' tegas seseorang menyuruh suruhannya untuk membuka lakban yang menutupi mulut pria tua itu.
Lepas dia buka ia terus merintih meminta ampun pada seseorang yang berdiri tidak jauh darinya.
''Maafkan saya, saya memang bodoh bermain-main dengan anda,'' ucapnya dengan suara yang sangat lirih.
''Aku masih memiliki belas kasih karena kau seusia ayah ku, tapi sepertinya wajah mu tidak mendukung itu.'' Ucapnya dengan menyeringai.
''Tidak, tidak nak' kau juga seusia anak ku, alangkah baiknya jika kau benar-benar menaruh belas kasih pada pria tua bodoh seperti ku.'' Ucapnya lagi dengan memohon.
''Emmm.. Sepertinya aku harus memikirkan itu.'' Dengan mata yang tajam ia menatap salasatu orang kepercayaan nya dan memberikan kode lalu berlalu pergi dari gedung yang terlihat kumuh itu.
Daniel Carroll, ya dia adalah Daniel pria yang kejam nan Arrogan yang terkenal di dunia bawah juga dunia perbisnisan, bahkan ia tidak akan membiarkan musuhnya lolos begitu saja sebelum orang itu yang mencari masalah dengan nya maupun keluarga nya berteriak karena siksaan nya.
Daniel yang sampai saat ini belum juga mau duduk diam walaupun ada orang-orang yang tidak kalah kejamnya dari dirinya, contohnya Zen juga Kemal, ia sering merasa jengah jika tidak menindak lanjuti para tikus-tikus kotor yang bermain-main dengan nya.
''Niel!'' panggil seseorang yang baru saja turun dari mobil dan langsung menghampiri Daniel yang hampir saja akan naik ke mobil mahalnya.
''Kau urus dia, aku akan mengerjakan hal lain,'' ucap Daniel dengan tegas.
''Mengerjakan apa?'' tanya seseorang itu yang ternyata adalah Zen Batla, sahabat sekaligus orang kepercayaannya juga sekarang sudah menjadi saudara iparnya.
''Kau mengenal ku sudah berapa lama? masih saja bertanya,'' ketus Daniel yang langsung masuk ke mobilnya dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Zen yang masih terpaku di tempatnya.
Zen mengangkat lengannya dan melihat jarum jam di arloji mahalnya. ''Masih sore, dia mau apa?'' gumam nya dengan terus memikirkan apa yang akan di lakukan Daniel di jam-jam sekarang.
''Hissshhh astaga, bisa-bisanya dia membuat ku berpikir, ternyata hanya ingin berolahraga bersama Devita.'' Ucapnya setelah mengingat kebiasaan Daniel di jam saat ini.
Dengan langkah lebarnya ia menuju pintu masuk yang di jaga dua orang pria bertubuh besar yang juga sudah mengenalnya.
***
Di tempat lain, David yang baru saja sampai di sebuah bangunan kayu yang terlihat sangat asri dan nyaman, ia melangkah dengan perlahan dan melewati sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat sungai kecil yang di huni ikan-ikan cantik di dalamnya.
Langkahnya berhenti ketika matanya melihat seseorang yang sedang duduk membelakangi nya, terlihat orang itu sedang melukis sebuah wajah anak kecil yang tidak asing menurutnya.
''Kau disini David?'' tanya nya tanpa menoleh ke belakang.
''Hemm.. Kau melukis wajah siapa?'' tanya David.
''Dia adik kecil ku, cantik bukan? Haaahhh,, tapi entahlah sekarang seperti apa rupanya,'' jawabnya dengan sendu.
''Aku seperti pernah melihatnya,''
__ADS_1
''Tentu saja pernah, dulu kan pernah aku kasih lihat waktu aku membongkar isi album keluarga ku,''
David terdiam, seperti memikirkan sesuatu, tapi tidak lama ia membuang pikiran itu dan langsung mengalihkan perhatian dengan memulai topik pembicaraan pada sahabat nya itu.
''Aku sudah menerima flashdisk itu,''
''Baguslah,''
''Aku sudah melupakan yang sudah terjadi, tapi kau harus menebusnya dengan satu hal,''
''Apa?''
''Kembali ke perusahaan dan melupakan semua kejadian itu,''
''Kau bicara seperti tidak punya perasaan, yang benar saja, aku tidak bisa melupakan penghianatan ku terhadap mu,'' potong Kevin, ya dia adalah Kevin pria yang terus saja merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan terhadap David dan Zahla kala itu.
''Bayar itu dengan kembali bekerja padaku, lunas bukan? lagi pula aku tau kau tidak bermaksud menyakiti ku,''
''Jangan buat aku malu, Vid,''
''Ya kau memang teman tidak tahu malu,'' sarkasnya dengan candaan.
''Sialan kau!'' seketika merekapun tertawa lepas dan berjabat tangan sebagai tanda bahwa mereka telah melepaskan masalah yang terjadi tempo hari itu.
Hari sudah mulai gelap, David sudah kembali ke apartemennya dan langsung mencari keberadaan Zahla yang entah tau dimana.
''Kemana dia, meninggalkan barang-barang nya dan membiarkannya berserakkan seperti ini, selain kulitnya yang gelap, dia juga ternyata jorok.'' Gumam David yang seperti membalikan perkataan Zahla walaupun dia tidak tahu apa yang sudah Zahla katakan terhadap nya.
Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi yang ada di kamar itu, dan David pun langsung paham apa yang Zahla tengah lakukan, mandi, ya Zahla tengah mandi sore.
Dengan lelahnya ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan kaki yang masih terjuntai di lantai.
''Andai dia sudah menjadi hak milik ku seutuhnya, lepas mandi pun tidak akan aku biarkan dia memakai sehelai benang pun,'' gumamnya sembari membayangkan hal-hal yang membuat nya tertawa cekikikan.
Namun tiba-tiba lamunannya buyar karena teriakan dari Zahla. 'Aaaaaaakkkhhhhhh!!!!!'
''Astaga, kau kenapa?'' tanya David karena terkejut.
''Sedang apa kau disini? keluar!!'' teriaknya. Seketika David tersasar kenapa Zahla bisa sampai berteriak seperti itu.
Ya saat ini Zahla masih menggunakan handuk karena baru saja selesai mandi, namun dengan cueknya ia kembali merebahkan tubuhnya tidak menghiraukan perkataan Zahla yang menyuruh nya keluar.
''Kenapa aku harus keluar?''
''Aku tidak memakai pakaian, Tuan.''
''Kalau begitu pakai,''
__ADS_1
''Bagaiman bisa, kalau kau masih ada di sini,''
Dengan sekali pergerakan, David bangun dari rebahan nya dan langsung berjalan menghampiri Zahla yang masih menutupi dadanya yang terbungkus oleh handuk.
''Apa yang ingin anda lakukan, Tuan?''
''Memakan mu,'' sahut David dengan tatapan yang tajam dan membuat Zahla ketakutan.
''Me-memakan ku? tuan, saya mohon.''
''Apa?''
''Keluar sebentar,''
''Kalau aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan,''
''Aku akan berteriak,''
''Teriak saja,'' David semakin membuat Zahla terhimpit oleh kaca pemisah antara kamar mandi dan kamar tidur.
''Kenapa kau terlihat semakin cantik jika habis mandi seperti ini,'' ucapnya dengan mata yang terus tertuju pada wajah manis Zahla.
Dengan pergerakan lembut, David mengangkat dagu Zahla dengan tangannya untuk melihat lebih jelas wajah manis Zahla yang tertutupi rambut basah nya.
Tatapan keduanya bertemu, dan 'Cuuppp, lagi-lagi David mendaratkan sebuah kecupan singkat yang sangat lembut dan mampu membuat gelora yang ada di diri Zahla panas seketika.
Namun ketika David akan mendaratkan kecupan nya lagi, Zahla tersadar dan segera menghindar, ada tatapan kecewa di mata David karena Zahla menolaknya.
''Kenapa?'' tanya David dengan pelan.
''Tuan, saya mohon, jangan lakukan itu lagi.''
''Ya kenapa?''
''Karena itu bisa membuat saya salah paham,''
''Salah paham kenapa?'' Zahla terdiam, namun David terus saja bertanya berkali-kali tapi Zahla masih saja diam.
Dan saat David kembali bertanya, Zahla langsung menjawabnya dengan suara yang meninggi.
''Karena kita tidak memiliki hubungan apapun!!'' David terperangah mendengar suara Zahla yang lantang padanya.
''Hei, Zahla. Kau bilang apa? kita tidak memiliki hubungan apapun?''
''Ya! memangnya hubungan apa yang kita jalani ini? bahkan kau tidak sama sekali mengatakan apapun tentang kita!''
Kesabaran Zahla rupanya sudah terlampau batas, dan akhirnya hari ini ia bisa meluapkan emosi nya pada sosok David si pria yang masih menggantung hubungan mereka.
__ADS_1