
Hari yang cerah dengan suara burung-burung yang turut bersahutan membuat suasana hati Zahla sedikit lebih tenang dan sejenak dapat melupakan kedilemaan hatinya masalah sakit yang di deritanya, dengan langkah yang lambat Zahla memijakkan menyusuri pelataran rumah besar yang saat ini ia tinggali bersama kakak sepupunya yaitu Kevin.
Jarak di antara pintu masuk rumah ke gerbang harus melewati taman yang luas, dengan mengatur nafasnya, menghirup udara pagi yang segar ada sebuah harapan kecil di hatinya, yaitu dapat melihat wajah kekasihnya yang memang beberapa hari ini dia sama sekali tidak melihat nya.
Baru saja memikirkan David, sebuah kaki jenjang berdiri di hadapannya dan membuat nya menghentikan langkahnya sejenak, dengan mata yang berbinar-binar Zahla merasa siapa yang berdiri di hadapannya hanyalah sebuah imajinasi belaka, sehingga iapun tidak menghiraukan nya dan sengaja melewati pemilik kaki jenjang itu.
''Ini pasti karena aku terlalu merindukan nya,'' gumam Zahla yang sudah melewati sosok pria yang beberapa hari ini ia rindukan.
Namun langkahnya terhenti karena sosok itu menyahuti ucapan nya. ''Benarkah? kau merindukanku?'' sahut pria itu yang tidak lain adalah David Guetta Carroll.
Dengan tingkah konyolnya, Zahla memundurkan langkahnya tanpa berbalik dan meneliktik wajah serta seluruh tubuh David dengan mata yang memicing.
''Kau nyata?'' tanyanya dengan konyol.
''Astaga, calon istri ku menganggap ku arwah,'' gerutu David dengan gemas.
''Kau benar David, David ku?'' tanya nya lagi.
''Iya honey bunny sweety, ini aku David.'' Jawab David yang sudah gemas dengan tingkah Zahla.
''Kiaaaa!! David,'' dengan wajah yang menyiratkan kebahagiaan Zahla memeluk David begitu eratnya, dan David pun tidak mau tinggal diam, iapun segera membalas pelukan rindu dari gadis yang juga ia rindukan itu.
''Apa kau merindukanku sayang?'' goda David dan Zahla hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawabnya.
__ADS_1
''Benarkah?'' tanya David lagi dengan nada menggoda, Zahla yang mendengarnya menjauhkan kepalanya dari dada bidang David dan menatap tajam wajah pria nya itu.
''Kenapa kau bertanya begitu? apa kau tidak merasakan sama dengan apa yang aku rasakan, hah?'' tanyanya dengan nada ketus.
''Hahaha, bukan begitu sayang, aku hanya menggoda mu, bahkan rindu yang aku rasakan melebihi rindu yang dimiliki siapapun.''
''Emmm, David maafkan aku,'' ucap Zahla yang tiba-tiba melow.
''Hei kenapa, hmm?''
''Di saat masa terpuruk mu, aku bahkan tidak ada di samping mu,'' lirih Zahla. David hanya memberikan senyum lembut nya lalu mengusap lembut kepala Zahla.
''Sayang, kau tidak perlu merasa bersalah begitu, yang terpenting kau harus selalu sehat demi aku, hmm?'' sahut David dengan lembut nya yang berniatan untuk Zahla agar tidak merasa bersalah, namun ia tidak mengetahui kalau apa yang di katakan nya itu membuat Zahla mengingat sesuatu yang belakangan ini mengganggu nya.
''Kenapa?''
''Sudah siang, aku akan terlambat masuk kelas,'' sahut Zahla dengan alasannya.
''Baiklah, kalau begitu ayo.'' David pun membawa Zahla ke mobilnya dan akan mengantarkan nya seperti biasa sampai ke kelas tempat Zahla belajar.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Zahla hanya terdiam, merenungkan karena memikirkan tentang sakitnya, ia merasa dilema akan memberi tahu David atau tidak, namun mengingat David masih berada di fase kehilangan orang terkasihnya ia tidak yakin untuk mengatakan itu. Apa dia akan menerima ku? apa keluarga nya juga bisa menerima ku tanpa mengharapkan seorang pewaris? apa aku pantas bersanding dengan nya? ya itulah yang saat ini Zahla pikirkan, ternyata ucapan Tiara tempo hari itu terus mengganggu nya, membuat pertimbangan pada pikiran nya.
''Zahla? apa yang kau pikirkan?'' tanya David yang merasa heran karena sejak di perjalanan sampai di parkiran kampus, Zahla hanya diam dengan terus menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
''Hah? tidak,''
''Tidak? tapi sejak tadi kau hanya diam dan menatap ku,''
''Tidak David, aku hanya merindukan mu saja,''
''Emmm kalau begitu, hari ini kau bolos masuk kelas saja, kita pergi ke apartemen ku, bagaimana?''
''Hei!! kenapa begitu?''
''Ya agar kita bisa meluapkan rasa rindu kita,''
''Jangan berpikiran sempit, David.'' David yang mendengar jawaban Zahla hanya bisa tertawa karena gemas melihat wajah Zahla yang kesal karena ucapannya.
''Ya sudah, kalau begitu apa kau tidak takut terlambat masuk kelas?'' tanya David yang membuat Zahla seketika tersadar kalau mereka sudah sampai di gedung universitas tempat ia belajar, dan seperti biasa David pun berniat akan mengantarkan Zahla sampai ke kelasnya namun Zahla mencegahnya.
''Tidak perlu David, lebih baik kau segera pergi ke kantor, aku tidak mau wajah mu menjadi konsumsi pagi untuk para wanita yang berkumpul di sana.'' Ucap Zahla dengan cepat mencegah David agar tidak keluar dari mobil.
''Astaga kau benar-benar mencintai ku ya, ya sudah aku tidak akan keluar dari mobil,'' Zahla pun berpamitan dan berlalu setelah David dengan mobilnya meninggalkan pelataran parkir kampus.
Namun baru saja mobil David berlalu, sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan nya dan turunlah seorang wanita yang tidak asing lagi di mata Zahla.
''Tiara?''
__ADS_1