
Di mobil Zahla masih saja termenung memikirkan saldo rekening nya yang habis di buat David, pikirnya.
Tangannya terus membolak-balikkan kardus ponsel yang belum juga di buka sedari tadi olehnya, David yang sedang menyetir hanya terkekeh dalam diam melihat raut wajah Zahla yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
Sudah sekian kalinya juga terdengar Zahla membuang nafas nya ke udara yang membuat David semakin terkekeh di buatnya.
'Pasti dia sedang memikirkan saldo rekeningnya,' gumam David yang sepertinya sangat puas melihat raut wajah Zahla.
'' Kenapa? kau tidak percaya pilihan ponsel yang ku beli.'' Ujar David dengan memasang wajah datarnya di hadapan Zahla.
'' Bukan begitu Bos,'' sahut Zahla dengan pelan.
'' Mestinya kamu berterima kasih pada ku yang mau repot-repot memilihkan ponsel yang bagus untuk mu,''
Mata Zahla memutar jengah mendengar ucapan David yang terkesan sangat membanggakan dirinya sendiri padahal untuk membeli ponsel menggunakan uang Zahla sendiri, menurutnya.
'' Hemm, terima kasih tuan bos yang terhormat.'' Seru Zahla yang memasang expresi wajah di buat-buat seakan sedang bersenang hati. dan David pun mengangguk sombong menyahuti ucapan terima kasih dari Zahla.
Mereka kembali terdiam dengan waktu sedikit lama, dan David lah yang kembali memulai pembicaraan nya.
'' Kamu ingin mengambil jurusan fakultas apa jika ada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan mu?'' tanya David tanpa menoleh ke arah Zahla.
'' Bisnis, tapi itu hanya angan-angan saja,'' sahut Zahla dengan cepat.
'' Why?'' tanya David dengan cepat saat mendengar jawaban Zahla.
'Cih .. dia tanya kenapa! jelas-jelas karena dia itu semua menjadi angan-angan' batin Zahla menggerutu.
'' Tidak apa-apa,'' sahut Zahla dengan malas.
__ADS_1
Karena sibuk menggerutu sampai-sampai Zahla pun tidak menyadari kalau arah jalan yang di tempuh oleh David bukanlah jalan untuk kembali ke apartemennya.
Zahla mengangkat kepalanya setelah merasa mesin mobil berhenti dan alis matanya mengernyit heran melihat di sekitarnya.
'' Ayo turun!'' tegur David yang membuyarkan lamunan Zahla yang terlihat heran.
'' Mau apa kita kesini Bos?''
'' Kamu harus mengambil formulir pendaftaran mahasiswa,'' jawaban David tentunya membuat Zahla ternganga di buatnya belum lagi gedung universitas yang di datangi nya adalah sala satu universitas ternama di negaranya.
Di kamar apartemen, Zahla masih termenung tidak percaya apa yang hari ini ia dapat, dengan memegang sebuah berkas formulir di tangannya Zahla masih menganggap itu hanyalah sebuah mimpi semata.
Untuk menginjakkan kakinya ke pelataran gedung universitas itupun rasanya hanyalah angan-angan saja tetapi sekarang, dia malah sudah memegang kunci untuk mendaftar di sana.
Dengan sebuah alasan bantuan dari perusahaan David memberikan itu semua, yang Zahla masih juga belum percaya dengan apa yang terjadi padanya.
'' Anggap saja ini hadiah dari perusahaan yang pantas kamu dapatkan, karena kamu, data-data yang berbau sensitif itu bisa terselamatkan.'' Itulah ucapan David yang saat ini mampu membuat nya terharu sekaligus merasa syukur oleh karunia yang maha kuasa.
Namun seketika terlintas oleh ucapan David yang lainnya yang kembali membuat nya jengkel.
'' Ini aku kembalikan kartu mu, jika kau berpikiran untuk membuangnya silahkan saja, tapi saran ku mending kau museum kan,'' ejek David dengan tawa meledeknya.
'' Karakter di bos ini, sebenarnya seperti apa sih! kadang dia baik kadang menjengkelkan, ck.'' Zahla kembali menggerutu di saat mengingat kelakuan David.
Sebelum ah deringan ponsel terdengar sangat kencang dari arah lemari tempat ia menggantung tas sangkilnya, dengan cepat Zahla pun mengambilnya dan melihat ponsel nya yang tadi baru di beli namun sudah ada yang menghubungi nya.
'' Kandidaat ruggengraat ??'' Gumam Zahla yang merasa aneh dengan nama kontak yang menelponnya itu yang memakai bahasa Belanda dengan arti Calon tulang punggung !! oh my God!! sungguh membanggongkan.
Mulut Zahla menganga mengeja kata demi kata itu.
__ADS_1
Apa maksudnya? kenapa namanya seperti itu? pikir Zahla.
Deringan pertama telah berakhir dan tidak lama kemudian ponselnya berdering kembali dan dengan ragu Zahla akhirnya menggeser icon hijau pada layar ponselnya.
'' Ya?'' jawab Zahla dengan ragu, karena dia tidak mengerti kenapa nama si penelpon tertulis seperti itu.
'' Kemana saja kamu? kenapa lama sekali menjawabnya,'' omel seseorang dari sebrang sambungan telepon itu.
Dengan cepat Zahla menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk mengecek kembali nama di penelpon yang ternyata memang sama dengan penelpon pertama tadi, dan di dengar suaranya pun tidak asing baginya.
'' Tuan Bos?'' gumam Zahla menebak di penelpon.
'' Ini tuan Bos?'' tanya Zahla untuk memastikan dugaannya.
'' Ya siapa lagi, memangnya yang tau kau memiliki ponsel siapa lagi selain saya!'' omelnya lagi dengan ketus.
'' Maaf bos saya kira siapa, tapi nama kontak nya kok aneh,'' celetuk Zahla yang langsung mendapatkan sahutan datar dari David.
'' Kenapa? jangan berani-berani nya kau mengganti nama kontak saya,'' Zahla semakin heran di buatnya tapi karena tidak ingin berdebat dengan bosnya akhirnya Zahla pun hanya mengiyakannya saja.
'' Kau isi formulir itu dan kumpulkan berkas-berkas yang perlu di lampirkan, jika sudah nanti berikan pada ku, besok!!'' Tanpa pamit pun David memutuskan sambungan telepon itu.
Zahla semakin di buat bingung dengan sikap si bos arogan nya itu, dengan seenaknya memberikan nama kontak juga tanpa permisi pun ia memutuskan sambungan telepon.
Zahla berteriak dengan geram, meluapkan rasa kesal nya di kamar tidurnya. '' Arrrrrggghhhhhhh'' teriak Zahla sekencang-kencangnya.
Andai David itu bukan bosnya dan tidak baik padanya mungkin akan di ajak duel di ring tinju saat itu juga, tapi mengingat setatus mereka yang sangat berbeda itu tentu membuat Zahla tidak bisa berbuat apa-apa.
'' Andai dia tukang koran, sudah ku seret ke ring tinju,'' geramnya.
__ADS_1
'' Haaahhhh, tapi dia juga sudah baik padaku, dia mau repot-repot mengantarkan aku ke universitas dan mengambilkan formulir ini.'' Ujarnya mengoreksi ucapannya barusan itu.