
Di persimpangan jalan, seorang pria terlihat kebingungan memilih jalan yang terdapat ada tiga jalanan yang bisa di lihat dengan tujuan yang berbeda pada masing-masing nya, ya jalan mana yang sebenarnya menuju pulang? dia terus bergumam.
Saat dia memilih jalan pertama, ia pun segera menyusuri jalan tersebut namun semakin lama entah kenapa jalan itu terasa jauh dan ia merasa sedari tadi hanya berjalan di tempat dan kemudian ia beralih dari jalan pertama yang dia pilih ke jalan yang kedua, tapi dia melakukan hal yang sama dan dia kembali merasa hanya berjalan di tempat saja.
Lelah? oh ya sudah pasti, kakinya terasa sakit, sebuah kursi yang entah sejak kapan ada di sana terasa memanggil-manggil nya untuk ia duduki, karena merasa lelah, pria itupun berjalan menghampiri kursi tersebut namun tiba-tiba terdengar suara wanita yang terus saja memanggil nama nya sehingga membuat dia mengurungkan niatnya untuk mengistirahatkan diri di kursi yang terlihat nyaman itu.
Suara itu menghilang, ya berbarengan dengan ia berjalan menjauhi kursi, tapi saat ia akan kembali berniat duduk di sana, suara itu muncul kembali dan terus seperti itu.
'Ada apa ini? suara siapa itu? kenapa tidak terasa asing?' pria itu lantas mencari asal suara itu tapi kenapa suara itu seperti semakin menjauh, dia berjalan semakin cepat, cepat dan cepat dan pada akhirnya dadanya terasa sesak karena merasakan kelelahan yang amat luar biasa.
.
'' Dokter!!!!'' Zahla berteriak histeris memanggil dokter yang bertugas menangani David.
Kenapa harus berteriak padahal ada tombol khusus untuk memanggil tenaga medis saat ada situasi yang darurat, ya jawabannya adalah karena Zahla yang sudah terlanjur panik dan tidak tahu harus melakukan apa selain berteriak memanggil langsung dokter.
Dokter dan beberapa suster berlarian masuk dan melihat Zahla yang sudah menangis dengan David yang terlihat kejang dan seperti sesak pada nafasnya karena terlihat dari ia bernafas dengan berat.
'' Nona, anda jangan panik ya, kami akan menangani nya dengan baik.'' Ucap salasatu suster di rumah sakit itu.
Zahla masih saja menangis dengan tersedu-sedu, ia takut, panik dan khawatir melihat suaminya yang tiba-tiba kejang dan sulit bernapas. Tubuhnya bergetar karena paniknya, Emily yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit terkejut melihat Zahla yang berdiri di depan ruangan David dengan tubuh yang gemetaran.
'' Kak ada apa?'' tanya Emily dengan panik.
'' Aku tidak tahu, tiba-tiba saja David kejang dan sulit bernafas.'' Jawab Zahla dengan bibir yang pucat dan bergetar.
Emily langsung memeluk Zahla, menenangkan ibu hamil itu dengan caranya. Cukup lama dokter dan suster berada di sana, yang Zahla dengar suara dokter dan suster yang masih terus berusaha dan menyebutkan bahasa-bahasa medis yang Zahla sendiri tidak mengerti.
'' Dok denyut jantung nya sangat cepat!''
'' Dok suhu tubuhnya menurun!''
__ADS_1
Dan ada beberapa lagi wanita berpakaian suster itu katakan yang Zahla serta Emily dengar, dan tentu saja itu membuat Zahla semakin khawatir.
'' Aku akan menghubungi Mommy dan Daddy,'' ucap Emily yang akan menghubungi bibi dan paman nya itu namun Zahla mencegahnya.
'' Jangan Em, kasian Mommy-Daddy, mereka baru saja pergi dan tidak tidur semalaman menemani ku, pastilah mereka lelah.'' Cegah Zahla.
Beberapa saat kemudian, setelah Zahla dan Emily menunggu 30 menit lamanya di depan kamar rawat David, dokter dan suster itu keluar.
Zahla mendekat menghampiri dokter tersebut lalu memberondong pertanyaan terkait keadaan David, suaminya.
'' Bagaimana keadaan nya? dia baik-baik saja kan?''
'' Nona, tuan muda David baru saja melewati masa sulit nya, kau hanya perlu berdoa untuk kesadarannya.'' Sahut dokter tampan itu.
'' Tapi kenapa tadi terlihat-'' ucapnya yang menggantung karena tidak bisa melanjutkan ucapannya.
'' Ya, itu adalah efek dari cidera otak yang membuat nya koma, tapi tuan David sudah baik-baik saja, kita hanya perlu menunggu beliau sadar dari komanya.'' Zahla dan Emily pun bisa bernafas lega.
Setiap hari wanita hamil itu dengan sabarnya mengurus suaminya yang masih terbaring di ranjang dengan mata yang tertutup, wajah tegas itu sudah seperti tidak lagi terlihat karena tertutup dengan wajah yang pucat dan sedikit menirus, dan rambut-rambut halus pun tumbuh di sekitar wajahnya, ya karena sudah hampir satu bulan David koma dan belum ada tanda-tanda ia akan sadar. Tapi Zahla tidak pernah putus asa untuk menuggu nya sadar dan kembali padanya.
'' Lihat David, kau tidak lagi tampan seperti pertama aku melihat mu. Kelak kau sadar nanti, aku ingin kau mengembalikan wajah mu yang tampan itu, hmm?'' Celoteh Zahla dengan tangan yang sembari mengelap wajah David dengan handuk yang di basahi dengan air hangat.
'' Dan lihat ini, kau seperti pria tua yang menumbuhkan jenggotnya dan bulu-bulu di pipinya, tapi tenang aku sudah meminta Emily untuk membelikan ku ini.'' Ucapnya lagi dengan memamerkan sebuah alat pencukur kumis di depan suaminya.
Dengan telaten dan perlahan, Zahla mencukur jenggot dan kumis tipis David dengan sangat hati-hati, karena tidak ingin melukai pangerannya itu. Belum selesai mencukur semuanya, Zahla menghentikan tangannya, matanya berkaca-kaca karena tidak sanggup lagi berpura-pura tegar walaupun di hadapan David yang masih terpejam itu.
Tubuhnya bergetar, dan Zahla pun menangis dengan memeluk lengan David.
'' David, aku merindukan mu..'' lirih Zahla dengan tangisan nya.
Meninggalkan kisah Zahla Putri dengan pangeran tidurnya itu, Emily yang selalu merasa kalau Kevin seperti menjauhinya tanpa sebab dan tiba-tiba terpikirkan untuk mampir sebentar ke kantor Kevin karena arahnya yang sejalan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Dengan sebuah paper bag di tangannya, Emily berjalan menuju resepsionis yang ada di lantai satu, bertanya dimana ruangan Kevin.
Setelah mengetahui dimana letaknya, Emily langsung menuju lantai 20 yang memang di sanalah ruangan Kevin berada. Dan lagi-lagi Emily harus berhadapan dengan wanita yang kali ini mencegahnya masuk ke ruangan Kevin, seorang presiden direktur di perusahaan Heinze internasional itu.
'' Aku adiknya, apa aku bisa bertemu dengan nya?'' jawab Emily sedikit kesal karena seorang wanita yang bertanya siapa dia dengan ketus.
'' A-adik, apa anda benar-benar adiknya?'' tanya wanita itu sedikit tidak percaya.
'' Kau bisa bertanya langsung padannya,'' Emily semakin di buat jengkel dengan pertanyaan wanita yang bertuliskan jabatan nya di dadanya, ya dia adalah sekertaris Kevin.
'' Oh kalau begitu, saya mohon maaf karena bersikap tidak sopan, tapi tuan Kevin memang tidak bisa di ganggu.''
'' Benarkah?''
'' Iya Nona.'' Melihat raut wajah sekertaris itu yang terlihat jujur dengan apa yang di ucapkan nya, Emily pun mempercayai nya dan akan segera pergi dari sana walaupun hatinya sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu dengan Kevin.
Emily berlalu pergi dengan kekecewaan, ia berjalan dengan kepala yang tertunduk menatap paper bag nya yang tidak tersampaikan dengan baik ke pemilik nya.
Tapi karena tidak melihat jalannya, tiba-tiba Emily menabrak seseorang yang berjalan di depan nya.
Dugghhh'
'' Maaf, aku tidak sengaja.'' Ucap Emily.
'' Ly? sedang apa kau disini?'' suara yang tidak asing itu menyeruak masuk ke telinga Emily, kepalanya di angkat dengan segera, bibirnya melengkung membentuk senyuman manis di wajahnya yang sudah cantik.
'' Kak, aku bawakan cake kesukaan kakak, kita makan bersama ya,'' ucap Emily penuh harap.
Kevin menatap paper bag itu dan hanya diam memasang wajah datar nya. '' Aku masih ada pekerjaan, kamu bisa membawanya lagi,'' Ucap Kevin yang tidak sesuai ekspektasi Emily.
Kevin berlalu begitu saja tanpa berpamitan maupun berkata apapun lagi, sungguh di acuhkan seperti itu sangatlah terasa amat sakit, terlebih lagi bagi Emily.
__ADS_1