
Suara deru jantung di rasakan oleh Zahla, ya di ruangan bercat putih tulang, di sanalah Zahla berada saat ini.
Merasa belakangan hari ini tubuhnya terus melemah, dan sering sekali merasa sakit di kepalanya di tambah mual-mual yang terkadang sulit terkontrol. Tangan satu nya terus meremas tangan yang lainnya, takut akan penyakit lain yang di deritanya.
Menunggu seorang dokter keluar dari sebuah ruangan khusus untuk melihat hasil pemeriksaannya, sungguh membuat nya sesak. ''Semoga aku baik-baik saja,'' gumam nya dalam hati.
Seorang dokter akhirnya keluar dari ruangan yang di tutup hanya dengan sebuah gorden berwarna coklat, wajah dokter yang datar membuat Zahla semakin cemas. ''Bagaimana dok?'' sambar Zahla tidak sabar menunggu hasil nya.
''Dimana suami anda, nyonya?'' tanya dokter dengan tatapan menyelidik, tidak merasa heran dengan pertanyaan dokter itu, karena kali ini Zahla pergi ke sebuah klinik bukan rumah sakit tempat biasa ia kontrol yang di sana semua sudah mengenal nya dan tahu betul siapa suaminya.
''Suami saya sedang pergi bekerja, Dok.'' Jawab Zahla.
Tidak ada jawaban lagi dari dokter tersebut, ia hanya diam menatap dan memperhatikan Zahla dengan seksama, dan kali ini tentu membuat Zahla risih karena tatapan mengintimidasi dari dokter itu.
''Ada apa dok? apa ada yang salah dari diri saya?'' tanya Zahla yang ikut memperhatikan seluruh tubuhnya.
''Maaf, anda bukan wanita yang tidak bersuami kan?'' mata bulat Zahla terbuka lebar karena tidak menyangka kalau dokter yang memeriksanya menyangka kalau dia tengah berbohong.
''Astaga, dok. Saya punya suami kok, Lalu bagaimana hasilnya,'' sahut Zahla dengan kesal.
Melihat wajah Zahla yang sudah tidak lagi menunjukkan keramahan, sang dokter pun menyadari kalau pasiennya saat ini tengah marah juga tersinggung atas pertanyaannya.
''Maaf nyonya, karena baru saja saya mendapatkan pasien yang datang kesini dengan keadaan mengandung tapi tidak memiliki suami dan berniat untuk menggugurkan kandungannya.''
''Maksud anda?''
''Ya melihat usia anda yang terbilang muda, saya mengira kalau anda belum menikah, sekali lagi saya minta maaf.'' Sesal dokter itu.
__ADS_1
''Tidak, tidak. Soal itu tidak masalah, maksud anda hasil pemeriksaan saya itu?''
''Ya, selamat, anda saat ini sedang mengandung,'' ucapan dokter rupanya membuat Zahla terkejut tidak menyangka, karena sebelumnya ia di vonis akan sulit memiliki seorang anak karena penyakit yang di deritanya.
Air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi, akhirnya ia bisa merasakan kehadiran malaikat kecil nya yang sudah di dambakan oleh David dan keluarga besarnya terutama mertua nya yang sudah tidak sabar akan hadirnya seorang cucu, pewaris selanjutnya dari Keluarga Carroll.
Jantung nya berdetak kencang, seperti baru saja merasakan jatuh cinta, itulah yang saat ini Zahla rasakan, ia tidak sabar melihat reaksi David kalau istrinya saat ini tengah mengandung darah dagingnya.
''Terima kasih Dok,'' lirih Zahla karena terharu.
''Tapi-''...
***
Sepulangnya Zahla dari klinik itu tingkahnya terkadang aneh, sedikit melamun lalu menangis tanpa alasan dan itu sebenarnya sudah di sadari oleh David yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hari ini, Zahla tidak pergi kemanapun, ia hanya ingin duduk di kamar apartemennya, tidak bekerja ataupun pergi ke kampus nya, dan itu tidak sama sekali David permasalahkan.
Suara deru langkah dan suara pintu terbuka tidak membuat Zahla berpaling dari layar televisi besar dan datar itu, ya itu adalah David yang baru saja datang karena memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor nya.
David membuka pintu kamar yang keadaan nya gelap dan hanya ada penerangan dari layar televisi yang menyala, alis matanya mengernyit merasa heran, sejak kapan istrinya menyukai ruangan yang gelap dan drama yang di tonton pun tidak masuk ke dalam kategori Zahla yang menyukai drama komedian tapi kali ini Zahla tengah menikmati drama Korea yang terkenal dengan keromantisannya.
Kakinya melangkah masuk ke dalam, tapi seketika ia merasa ada sesuatu yang di injak nya dan melangkah lagi, dan lagi-lagi ada sesuatu yang menghalangi langkahnya, tangannya reflek menekan saklar lampu dan ternyata yang di injak nya adalah bungkus-bungkus snak yang berceceran di bawah lantai dan juga di atas kasur, matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Belum selesai terkejut karena melihat keadaan kamar yang berantakan, ia terjingkat kaget karena Zahla berteriak keras.
''Daviiidddd!!!'' teriak Zahla dan membuat David panik karena terkejut.
__ADS_1
''Kenapa? ada apa?'' tanya David dengan panik.
''Kenapa di hidupkan lampunya, aku sedang menonton drama,'' rengek Zahla.
''Astaga, sayang.. aku kira ada apa,'' David pun mematikan kembali lampu kamarnya.
David melangkah menghampiri Zahla yang duduk di tengah-tengah kasur, dengan tangan yang terus menyingkirkan semua makanan yang bercecer dengan jijik.
''Kenapa kau belum bersiap-siap, hmm?'' tanya David dengan lembut.
''Memangnya kau mau mengajak ku kemana?''
''Kenapa kau cepat sekali lupa belakangan ini, hari ini kan, wedding anniversary Mommy dan Daddy,'' ujar David yang gemas dengan istrinya.
''Oh ya? maaf aku lupa, kalau begitu aku siap-siap dulu ya,'' Zahla pun turun dari tempat tidur dan berlari kecil ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang memang belum mandi sedari pagi tadi.
David hanya menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya kalau istrinya sedang dalam mode malas, kamar yang berantakan dan masih menggunakan piyama tidur yang semalam di kenakan, ''tidak biasanya dua sejorok ini,'' gumam David yang akhirnya harus dirinya lah yang turun tangan untuk membersihkan sisa-sisa makanan Zahla yang tercecer.
Setelah kamar bersih dan rapih seperti semula, Zahla yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar mandi tapi hanya bagian kepalanya saja. ''Daviiidd..'' panggil Zahla.
''Heemm, ya?''
''Tolong ambilkan aku handuk ya,''
''Baiklah,''
Satu menit, dua menit sampai sepuluh menit berlalu, Zahla yang menunggu David mengambilkan handuk tidak kunjung datang untuk memberikannya, panggilan nya pun tidak di sahut olehnya. ''David kemana sih,'' gerutu Zahla dengan kesal dan pada akhirnya ia kembali memakai piyama tidur yang sudah di taruh di keranjang tempat baju kotor.
__ADS_1
Melangkah dengan hati-hati karena kakinya yang basah, Zahla keluar dari kamar mandi dan matanya melihat David yang berdiri mematung di depan pintu lemari yang masih terbuka lebar. Berulang kali Zahla memanggilnya namun tetap tidak ada jawaban dari David, tangan nya terulur memegang bahu David dan akhirnya David menoleh ke arahnya.
Mata yang merah dengan genangan air mata, David tengah memegang sebuah secarik kertas dan sudah Zahla tebak kenapa David terpaku di tempatnya.