Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Empat Karakter yang berbeda


__ADS_3

Delapan jam lamanya Zahla di ruangan Oprasi, begitu juga lamanya David menunggu dengan kecemasannya, keadaan nya sangat kacau terlebih sahabat yang di percayai nya adalah seorang penghianat.


Tapi itu tidak David terlalu pikirkan, yang saat ini membuat nya cemas hanya keadaan Zahla di dalam sana. Yang entah sudah beberapa ratus kali ia melirik ke lampu yang terletak di atas pintu, berharap lampu yang menyala terang itu padam.


Terdengar suara hentakan dari sepatu berhak menuju ke arah David. '' David!'' panggil seseorang yang baru saja tiba itu.


'' Mom?'' ya dia adalah Devita ibunda David.


'' Maaf nak Mommy baru tahu kabar ini, lalu bagaimana keadaan calon menantu mommy itu?'' tanya Devita yang ikut khawatir juga.


'' Entahlah mom, sudah delapan jam aku menunggu tapi belum ada tanda-tanda Oprasi telah selesai,'' lirih David menjawabnya.


'' Jangan cemas ya nak, kita sama-sama berdoa agar Zahla baik-baik saja,''


***


Di sebuah bungalow yang sangat megah, Kevin yang penuh luka di bagian wajah juga perut dan dadanya sedang duduk menghadap sebuah kaca besar di kamarnya.


Dia marah, ya sangat marah. Dia marah karena ulahnya, seseorang yang tidak tahu menahu menjadi korban dari keegoisannya.


Egois? ya dia memang lah egois, karena kerinduan nya dengan adik sepupunya yang telah lama hilang, membuat Kevin gelap mata dan menuruti kemauan keserakahan sang Paman dan mengharuskan dia berhianat pada sahabat sejak kecilnya itu.


Dengan embel-embel akan di pertemukan oleh adiknya, Kevin terpaksa melakukan itu, tapi sekarang apa yang sudah terjadi membuat dia menyesal.


Deri seorang Pengusaha yang sukses namun karena keserakahan nya apapun yang dia miliki tidak membuat nya cukup, sampai iapun sangat menginginkan sebuah kepimilikkan dari hotel yang sedang di bangun itu dengan cara yang licik dan picik pula, mencuri, ya itulah sebutan yang pantas apa yang Deri lakukan.


Dengan memperalat keponakan nya dan karena Kevin juga sangat ingin tahu dimana adiknya, disitu lah Deri mengambil keuntungan dari ketidak perdayaan seorang Kevin.


Brakkkkk

__ADS_1


Kevin meninju kaca besar dengan tangannya, darahnya keluar dengan deras dari punggung tangan nya, kaca berserakan dimana-mana dan mengundang seseorang datang ke kamarnya.


'' Apa yang kau lakukan Kevin!!'' bentak pria parubaya yang baru saja masuk itu.


'' Aku sudah menuruti perintah Paman, sekarang katakan dimana adik ku itu,'' ucap Kevin dengan tatapan yang tajam.


'' Ck, rupanya kau sangat ingin bertemu dengannya ya,'' ada raut wajah yang tidak suka atas apa yang di ucapkan oleh pamannya, namun Kevin tetap menahannya.


'' Kau tunggu saja, tidak lama lagi kamu akan bertemu dengan adik mu itu,'' Deri pun berlalu pergi dari sana dengan angkuhnya.


Kevin berdecak kesal, karena dia harus menunggu lagi walaupun sudah sekian lama ia sudah menunggunya, kesabaran Kevin sudah semakin menipis, di lubuk hati nya menahan itu.


'' Jika tua bangka itu hanya berniat bermain-main saja, aku tidak akan membuat nya tenang. Sudah banyak yang aku korbankan terutama kepercayaan sahabat ku sendiri dan Zahla.'' Gumam nya yang menyimpan dendam di setiap perkataannya, dan suara yang sangat melemah di akhir kalimatnya ketika menyebut satu nama yaitu Zahla.


Di ruangan yang berbeda namun masih di tempat yang sama, Deri tertawa puas setelah mendatangi kamar Kevin keponakannya. '' Hahahha, anak bodoh. Dia sangat menggebu-gebu ingin bertemu adiknya, karena sebuah wasiat dari bibinya untuk menjaga anak sial itu, Kevin yang bodoh malah bertaruh nyawa untuk mewujudkannya.'' Tawanya menggelegar memenuhi ruangan berbuku.


Di sisi lain, Daniel sedang bersrategi untuk memecahkan sebuah misteri yang sebenarnya, ya dia meyakinkan hal yang membuat nya dengan sang mertua merasa kalau keterlibatan Kevin yang menjadi seorang penghianat bukanlah kesengajaan.


'' Daniel apa yang akan kau lakukan?'' tanya Mahendra.


Hubungan Mahendra dengan Daniel bukan seperti antara mertua dan menantu, sejak dulu mereka memang bersikap seperti kawan, terlebih setelah ayah dari Daniel berpulang ke pangkuan Tuhan, Daniel sudah menganggap Mahendra bukan sekedar mertua tapi ayahnya sendiri walaupun terkadang keduanya sering berbeda pendapat.


'' Ayah, apa ini semua berhubungan langsung dengan Deri?'' ucap Daniel.


'' Deri? maksud mu suami dari mendiang Nadia?'' Daniel pun mengangguk.


'' Ya itu bisa saja terjadi, tapi yang ku herankan dengan cerita Kevin yang mengatakan kalau dia ingin menemukan adiknya? yang aku tau Kevin tidak memiliki adik bukan?'' sambar Zen yang ikut masuk ke dalam pembicaraan Daniel dengan Mahendra.


'' Mungkin adik sepupu?'' sahut Kemal yang juga berada di sana.

__ADS_1


Semua mengangguk menyetujui apa yang Kemal katakan. Keempat pria berbeda karakter itu terus saja berbincang mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


'' Tapi Kak, bukannya David tidak mau kita ikut campur ke dalam urusannya dan masalahnya,'' cetus Kemal dan langsung mendapatkan lemparan buku tebal ke arahnya sari Daniel.


'' Bodoh! ya mana aku tega membiarkan dia berjuang sendiri,'' sembur Daniel.


'' Lalu Niel? bagaimana dengan gadis malang itu?'' tanya Zen.


'' Bagaimana pun gadis itu sudah berniat untuk membantu David, dan sepertinya David sangat menyukai gadis itu,'' sela Mahendra.


'' Bukan sepertinya, memang sudah sangat menyukainya!'' ketus Daniel menjawab ucapan Mahendra ayah mertuanya.


'' Baguslah, aku sudah tidak sabar menggendong cicit dari David,''


'' Hissshh tua bangka ini ada-ada saja. Menikah saja belum sudah membicarakan anak,'' gumam Daniel.


***


Di rumah sakit, David dan Devita masih menunggu pintu ruangan Oprasi itu terbuka, sudah sepuluh jam David menunggu akhirnya pintu itupun terbuka secara perlahan dan seorang dokter kepercayaan keluarga Carroll keluar dari sana.


'' Bagaimana?'' tanya David dengan tidak sabar nya.


'' Oprasi berjalan dengan lancar, sekarang kami harus memindahkan pasien ke ruangan pemulihan dan menunggunya sadar dari tidur nya.'' Jawaban dokter membuat David bernafas lega dan Devita yang melihat anaknya bisa lebih tenang ikut lega mendengarnya.


'' Apa bisa aku menemuinya?''


'' Bisa setelah pasien sudah kami pindahkan ke ruangan pemulihan,''


'' Baiklah,''

__ADS_1


Dokter itupun berlalu pergi setelah berpamitan pada David dan istri dari pemilik rumah sakit itu, dengan lembut Devita mengusap lengan anaknya.


'' Sabar nak, kau akan bisa bertemu dengan Zahla sebentar lagi.'' David pun hanya mengangguk lemah menanggapi ucapan sang Mommy.


__ADS_2