Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Berdebat Lagi?


__ADS_3

Di ruangan yang tanpa sinar lampu, Zahla merebahkan dirinya di atas ranjang besar, matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan mata yang kosong.


Entah apa yang membuatnya terus melamun itu, tapi mengingat ekspresi dari semua keluarga mendengar kabar kehamilan nya, tentu membuatnya bahagia.


Seorang diri di ruangan gelap tidak membuat nya takut, semua orang masih berbincang di ruang keluarga dan Zahla yang saat ini sedang mengandung tentu harus pergi beristirahat, dan David sendirilah yang membawa Zahla ke kamar namun melihat Zahla yang sudah memejamkan matanya David pun keluar dari sana dan kembali ikut berkumpul dengan keluarga besar nya.


Ya Zahla ingin sendiri, maka dari itu ia berpura-pura memejamkan matanya agar David mengira nya Zahla sudah tertidur dan meninggalkan nya seorang diri, dan tentu berhasil.


''Aku akan merasa bahagia jika memang mereka bahagia dengan kehamilan ku ini,'' gumamnya di kegelapan malam.


***


''Aku akan membawa Zahla ke rumah sakit besok untuk memastikan kesehatan Zahla selama kehamilannya,'' ucap Devita.


''Ya tentu Bi, aku akan meminta teman ku untuk menanganinya,'' sambar Devan.


''Aaahh iya benar, aku juga mau melihat anak ku yang masih asik di perut Mama nya,'' seru David yang ikut bicara.


''Mungkin bentuknya masih sekecil ini,'' ucap Emily dengan tangannya yang membuat bentuk dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.


''Memangnya kau kira anak ku, anak cicak.'' Sembur David tidak terima dengan apa yang di ucapkan Emily.

__ADS_1


''Lho memang nya, kakak kira mau sebesar apa?'' jawab Emily yang tidak mau kalah dengan semburan kakak sepupu nya.


''Sudah.. sudah.. David apa yang di katakan Emily benar, dengan usia kehamilan Zahla yang masih terbilang muda, tentu janinnya masih sebesar biji kelereng,'' ucap Devita menengahi perdebatan antara David dengan Emily.


''Maksud mommy, aku tidak bisa melihat wajah anak ku sekarang?''


''Tentu tidak bodoh,'' potong Devan dengan kesal karena pertanyaan David yang tidak masuk akal menurut nya.


''Tapi Vid, ada satu hal, besok akan ada kejutan untuk mu, yang akan membuat mu speechless dan tidak bisa berpikir jernih lagi,'' ucap Dinar dengan ekspresi yang membuat David heran.


Mata Dinar melirik ke arah Devita dan Devita tentu tahu betul apa yang di maksud kejutan oleh kakak iparnya itu.


''Ya.. ya.. ya.. aku bahkan tidak sabar mendengar nya,'' sahut malas David yang sudah beranjak dari duduknya dan berlalu untuk pergi ke kamar menyusul Zahla, istrinya.


''Jangan ganggu istri mu yang sedang istirahat, karena tidak baik untuk kesehatan calon anak mu!!!'' teriak Devita menggoda David, anaknya sendiri.


Tawa pecah pun terdengar terkecuali Emily yang tidak mengerti apa yang di maksud dengan ucapan orang dewasa itu. ''Ah sudahlah, aku juga akan pergi tidur, aku tidak mau masuk ke dalam obrolan orang dewasa terlalu dalam.'' Ucap Emily yang juga pergi ke kamar nya.


***


Matahari sudah mulai terlihat, suara bising terdengar dari sebuah ruang masak, yang tak lain adalah berasal dari Devita, yang sedang memasak untuk keluarganya, karena sudah menjadi kebiasaan bagi Devita yang tidak mau diam duduk manis menunggu para koki memasakkan makanan untuk mereka akhirnya Devita sendiri yang turun tangan untuk menghandle beberapa yang kurang.

__ADS_1


''Kalian hanya perlu mencicipi dan membantu ku menghindangkan nya ke atas meja sana, aku yang akan memasak semuanya, mengerti!'' tegas Devita pada para koki dan petugas dapur lainnya yang tentu sudah terbiasa dengan kehadiran nyonya besar nya itu di dapur sepagi ini.


Nyonya besar yang baik impian para pekerja lainnya tentunya, ya itulah Devita, yang tidak pernah membedakan status masing-masing, karena menurutnya semua sama derajatnya di mata sang pencipta.


Tepat pukul tujuh, semua masakan pun sudah terhidang di atas meja dengan tertata rapi. Sebagian orang pun sudah menduduki kursi makan nya masing-masing. Namun tidak dengan Zahla dan David yang masih berada di dalam kamar nya.


''Biar aku panggil mereka,'' ucap Emily yang sudah akan bangun dari duduknya namun terhenti karena mendengar seseorang berbicara.


''Tidak perlu, kau bukan untuk memanggil kami, melainkan mengganggu kami,'' ucap David yang baru saja datang bersama Zahla.


Mata Emily berputar malas, pipinya ia kembungkan dengan bibir yang mengumpul.''Menyebalkan,'' ujar Emily.


''Sudah..sudah.. ini masih terlalu pagi untuk berdebat,'' potong Devita. ''Ayo sayang, kemarilah. Mommy memasakkan masakan sehat untuk anak perempuan mommy ini,'' lanjutnya.


''Anaknya pun seperti anak tiri,'' sindir David.


''Hahahah.. kau memang pantas menjadi anak tiri kak,'' sambar Emily yang merasa lucu dengan apa yang di ucapkan David.


''Awas kau ya!'' ancam David pada Emily.


''Bahkan kau akan tersingkirkan pelan-pelan saat anak mu lahir nanti,'' lanjut Emily yang tidak pernah puas menggoda kakak sepupu nya itu yang seharusnya ia takut untuk menggodanya ataupun bicara dengan nya, namun Emily tetaplah Emily yang sejak kecil tidak pernah merasa segan dengan David dan kerap mengajaknya berdebat dengan persoalan yang bahkan sepele.

__ADS_1


__ADS_2