
Di sebuah tempat yang cukup indah dan tenang, seorang gadis sedang menikmati minuman hangatnya dengan nikmat. Dengan tatapan memandang jauh ke depan tiba-tiba air matanya menetes indah ke pipi merah nya.
Kenangan masa lalu terus menggulir di ingatannya yang entah apa kenangan itu akan terjadi lagi atau tidak. Satu nama yang terucap dari bibir ranumnya.
''David,''
Ya nama seorang pria yang ia sangat cintai, yang sangat ia sayangi namun terasa sulit ia gapai kembali karena ada seorang wanita yang saat ini bersama nya.
''Zahla, apa kau merasa sangat pantas bersanding dengan dia, apa kau tidak menaruh belas kasih terhadap ku yang juga menginginkan David.'' Gumam nya kembali.
Ya gadis itu adalah Tiara, gadis di masalalu David, gadis dimana kisah cinta dua sejoli itu di mulai, kisah cinta yang terjalin di masa kuliah dan terpisah karena adanya insiden dan mengakibatkan keduanya harus terpisah.
Jari-jari lentiknya menyapu tetesan air matanya lalu kembali menyeruput minuman hangatnya yaitu coklat panas favorit nya. Namun di saat ia menaruh gelas kecil yang di pegang nya seseorang datang mengejutkannya.
''Aku tau kau masih belum juga berubah Tiara,'' ucap seseorang yang baru saja datang itu.
Mata Tiara memicing tidak suka dengan apa yang di ucapkan seseorang itu, manik matanya memutar malas dan membuang pandangannya ke arah lain seolah enggan untuk menatap orang yang mengganggu waktu sorenya itu.
''Mungkin Kean kau bisa tipu dengan perkataan manis mu, tapi aku tidak,'' lanjutnya. Pria itu duduk begitu saja di kursi yang terdapat di hadapan Tiara yang belum sama sekali menghiraukan ucapannya itu.
__ADS_1
''Biar ku perjelas Tiara, Zahla adalah gadis yang polos, dan dia sangat gampang mempercayai dan juga cepat kasihan terhadap orang lain, tapi kau tidak berhak untuk memanfaatkan kepolosan nya, kau juga pasti tahu kan aku ini kakak dari Zahla. Sampai kau menyakiti nya aku tidak akan segan-segan menunjukkan siapa diriku sebenarnya padamu.'' Ucap pria itu yang ternyata adalah Kevin Heinze.
''Lalu aku harus apa Kevin, kau tau pasti kalau aku masih mencintainya, bukan?'' sahut Tiara yang sejenak terdiam itu.
''Ya aku tahu, tapi apa kau ingin mengalami dimana kau mencintai seseorang yang bahkan sudah tidak bisa lagi mencintai mu.'' Bagai sayatan belati, ucapan Kevin mampu menyayat hati Tiara yang terasa sangat pedih.
''Tapi andaikan tidak ada Zahla di sisi David, pastilah aku yang ada di sampingnya-''
''Apa kau yakin?'' potong Kevin dengan cepat. ''Kehidupan itu terus berputar Tiara, aku tahu, kau sebenarnya wanita yang baik, karena aku cukup mengenal mu, tapi kenapa? karena ambisi mu, kau bisa melakukan hal menjijikkan itu.'' Tiara terdiam dan tertunduk malu di hadapan Kevin yang ternyata masih menghormatinya karena memang mereka pernah menjalani sebuah hubungan persahabatan di masa kuliah dahulu.
Kevin bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan membelakangi Tiara yang masih setia duduk di kursinya.
''Jadi disini kau tidak berhak menyalahkan Zahla, karena David sendiri yang menginginkan gadis itu.'' Lanjutnya, lalu berbalik badan dan melangkah perlahan ke arah Tiara.
''Aku tahu kau wanita yang bijak dan baik.'' Ucap Kevin lagi sebagai penutup ucapannya dan berlalu setelah menepuk kepala Tiara dengan lembut, bak seorang kakak memperlakukan adiknya dengan kasih sayang.
Tiara menatap kepergian Kevin, dan entah kenapa ucapan Kevin benar-benar masuk ke dalam perasaannya sehingga membuat dia berpikir jauh kebelakang lagi juga memikirkan tentang perbuatan nya yang pernah berniat ingin mencelakai Zahla bersama pria yang bekerjasama dengan nya, tapi rasa ambisinya ingin mendapatkan David kembali mengganggu hati nuraninya lagi.
Dua sisi yang ada di diri Tiara pun saling bertentangan, dimana sisi baik dan jahatnya tidak sejalan dan membuat nya dilema karena perasaannya.
__ADS_1
Di tempat lain, dua pasangan yang saling menyimpan kerinduan itu sama-sama merasakan kecanggungan, ya tepatnya di apartemen mewah yang si pria sendiri lah pemiliknya, siapa lagi kalau bukan David Guetta Carroll.
Zahla yang sejak tadi hanya duduk diam di sofa depan televisi berlayar lebar dan datar itu tanpa menonton nya karena merasa gugup dan David yang sejak tadi yang juga hanya diam menatap wajah gadisnya itu dari sisi samping karena wajah itulah yang benar-benar ia rindukan beberapa hari ini.
''Hemmm, David?'' ucap Zahla dengan pelan.
''Hemm, iya honey,'' sahutnya.
''Kenapa kau menatap ku seperti itu,''
''Kenapa? apa ada larangan tertulis kalau aku tidak boleh menatap wanita ku sendiri, hmm?''
''Bukan begitu, tapi aku, aku-''
''Malu?'' potong David dan Zahla mengangguk pelan menyahut apa yang di ucapkan David.
''Disini tidak ada siapapun kecuali kita berdua honey, bahkan aku berbuat lebih pun tidak ada yang akan tahu kan?'' pipi Zahla pun memerah karena malu.
''Haahhhh, kau sangat menggemaskan, aku tidak sabar untuk itu,'' bisik David.
__ADS_1