Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
Malam yang hangat


__ADS_3

Di sebuah rumah, seorang pria duduk dengan raut wajah menyimpan dendam, ya dia adalah Olaf si pria yang berwatak keras dan memang sering bersikap kurang ajar tapi tentu tidak semua orang mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya, karena memang pria itu menyembunyikan kebejatan nya dengan wajah kedermawanan palsu yang dia tunjukkan pada orang yang tidak mengetahui siapa dia sebenarnya.


Tangannya terkepal kuat, matanya terus melotot ke arah satu titik, merasa terhina dengan apa yang baru saja ia terima, yaitu hajaran dari seorang Kevin si pengusaha baru yang dia kenal.


''Kau lihat saja Kevin Heinze, apa yang akan aku lakukan nanti padamu.'' Gumam Olaf.


Baru saja ia bergumam pintu yang tertutup rapat itu tiba-tiba terdobrak dan hancur karena seorang menendang dengan kerasnya dari luar. ''Nanti? kau bisa melakukannya sekarang Olaf.'' Ucap orang yang telah merusak pintu itu yang tak lain adalah Kevin, seseorang yang baru saja ia sebut namanya.


Tanpa menunggu lama dan tanpa menunggu Olaf menjawab ucapan nya Kevin sudah lebih dulu menghajarnya dengan membabi buta, entah kenapa saat itu Kevin yang berkepribadian tenang tidak terlihat lagi, yang ada hanya Kevin yang sangat lapar akan darah dari seseorang yaitu Olaf si pria brengsek.


Kevin tidak memberikan kesempatan untuk Olaf membalas pukulan nya, dia pula tidak memberikan kesempatan bagi Olaf untuk bernafas sejenak karena hajarannya.


Keadaan Olaf sudah benar-benar babak belur, kalau saja ponselnya tidak berbunyi mungkin Olaf sudah tidak bernafas karena dirinya.


''Ya Paman? ada apa'' ujar Kevin menjawab panggilan itu dengan masih menindih tubuh besar Olaf.

__ADS_1


''Baiklah, nanti akan aku urus, saat ini aku sedang mengurus seekor binatang buas berwajah lugu.'' Ucapnya lagi pada seseorang di sebrang sana dan menutup sambungan telepon lalu beranjak dari tubuh Olaf yang sudah tidak bisa lagi menerima pukulannya.


''Ingat ini baik-baik, sekali lagi aku tahu kau suka berbuat kurang ajar pada wanita, bukan hanya wajah mu yang ku rusak, kau mengerti.'' Ancam Kevin yang kemudian berlalu meninggalkan Olaf yang sudah setengah sadar.


Kevin pergi meninggalkan rumah besar milik Olaf dengan wajah yang kembali seperti biasa, yaitu datar tanpa expresi. Seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak pernah terjadi apapun.


Dengan sebuah sapu tangan yang di ambilnya dari saku celananya, ia membersihkan sisah-sisah darah dari kepalan serta lengannya dan melemparnya ke kursi belakang mobil sewaannya.


Bak' pembunuh berdarah dingin Kevin melenggang penuh karisma keluar dari dalam mobil dan masuk ke hotel tempat ia meninggalkan Tiara yang mungkin saja masih tertidur lelap di kasur miliknya.


Ya benar saja, saat dia masuk tanpa membuat suara lalu melirik ke arah ranjang, yang ia lihat adalah wajah damai Tiara yang masih tertidur pulas, perlahan ia mendekati nya dan berjongkok sehingga wajahnya dapat melihat jelas wajah Tiara yang terlelap dalam tidurnya.


***


Di tempat lain, seorang wanita yang saat ini sedang menatap langit-langit malam yang berhiaskan bintang tidak bisa lagi menutupi kegugupannya, ya malam ini pria yang sudah menjadi suaminya kembali meminta hak yang seharusnya sudah di berikan namun dengan alasan suatu yang tidak dapat di hindarkan, hak itupun belum bisa terhajatkan.

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan membuat wanita itu semakin mengepalkan tangannya, ya tentu dia adalah Zahla. Sebuah tangan kekar melingkar indah di pinggang rampingnya yang sudah di tebak dia adalah David suaminya.


''Sedang memikirkan apa, hm?'' tanya David dengan menaruh dagunya tepat di dekat telinga Zahla sehingga membuat Zahla bergidik serta memejamkan matanya karena nafas yang menyembur hangat ke lubang telinga nya.


''Apakah kau sedang gugup?'' tanyanya lagi sembari membalikkan tubuh mungil istrinya.


Zahla menggeleng ragu, ya mungkin Zahla bisa menyembunyikan wajah gugupnya namun David bisa melihat itu dengan jelas. David menarik perlahan tubuh Zahla dan membawanya ke dalam pelukannya, ia tidak mau memaksakan kehendaknya dan membuat Zahla tidak nyaman, dan mungkin itu jalan satu-satunya ia bisa membuat Zahla nyaman dan melupakan rasa gugupnya.


Di rasa sudah tidak ada lagi rasa gugup pada diri Zahla, David melonggarkan pelukannya dan mengangkat dagu Zahla lalu menatap nya penuh cinta. Perlahan ia dekatkan wajahnya ke Zahla dan Zahla pun perlahan memejamkan matanya.


Pagutan hangat itupun berlanjut di atas ranjang dan membuat Zahla benar-benar hanyut melupakan rasa gugupnya karena permainan yang penuh dengan kelembutan dari David, belum puas ia mendapatkan pagutan dari bibir lembut Zahla, David pun meminta lebih dari itu. Perlahan ia melepaskan kancing baju tidur Zahla dari mula atas sampai kancing terbawah, selepas ia berhasil membuka kancing tersebut matanya pun menatap lapar pada dua gundukan daging yang masih terbungkus sebuah kain berbusa yang semakin membentuk indah pada gundukan indah itu.


Menyadari bahwa salasatu miliknya yang selama ini di jaganya sedang di tatap lapar David, Zahla pun berusaha menutupi nya dengan kedua tangannya, David tersenyum tipis karena menyadari istrinya sedang merasakan malu, ia kembali menatap lembut mata Zahla dan perlahan menyingkirkan tangan Zahla dari pemandangan indah itu.


''Kau tidak perlu malu padaku, apa kau percaya aku?'' Zahla hanya mengangguk lemah.

__ADS_1


Ya malam itulah terjadi sesuatu di antara mereka yang mungkin saja tidak dapat mereka lupakan sampai seumur hidupnya, Zahla yang sudah bisa memberikan hak penuh untuk David dan David yang bisa merasakan kenikmatan indah dari istrinya yang bisa menjaga mahkota yang memang seharusnya bisa di jaga pada setiap wanita.


David tersenyum puas dengan keringat yang sudah bercampur dengan keringat Zahla, Zahla yang sudah tertidur lelap di dalam pelukan David dengan di bawah selimut yang sama membungkus keduanya. ''Terima kasih, terimakasih sudah membuat ku sempurna menjadi suami mu, aku mencintaimu.'' Sebuah kecupan mesra David berikan ke dahi Zahla lalu ikut terlelap ke dalam mimpi indahnya.


__ADS_2