
Emily menangis di perjalanan pulang setelah pergi dari rumah Kevin, entah kenapa hatinya sudah benar-benar hancur. Apa aku benar-benar melakukan kesalahan karena rasa cinta? tapi aku juga tidak berdaya, karena ku pikir dia sudah mulai membuka hatinya untuk ku. Jerit Emily dalam hatinya.
Tangan nya menyetir kemudi dengan sangat lihai, membelok-belokan setir sesuai jalan tujuan nya, yaitu rumahnya sendiri, setelah sampai di depan pintu rumah nya, Emily keluar dari dalam mobil tanpa memarkirkan mobilnya ke dalam garasi seperti biasanya, ia berlarian menuju lift yang menuju kamarnya.
Kemal, Ayah dari Emily yang sedang duduk bersama seorang tamu melihat Emily yang berlarian ke dalam lift.''Ada apa dengan anak itu?'' gumam Kemal melanjutkan obrolannya.
Menangis sejadi-jadinya, setelah menekan tombol yang berfungsi untuk membuat ruangan menjadi kedap suara, agar tangisannya tidak terdengar oleh siapapun dari luar sana. Merasa dunianya hancur, tapi kenapa saat ia memutuskan untuk merelakan mahkotanya, harga diri nya. Dia tidak sama sekali keberatan? Sungguh ironis.
~
Keesokkan nya, setelah merasa lebih baik, Emily keluar kamar dan menghampiri ibunya yang sedang menyirami tanaman di taman belakang rumah nya, Puspa yang melihat putrinya masih berada di rumah pada jam yang seharusnya ia berada di kampus merasa heran terlebih lagi sebuah koper yang ada di tangan Emily.
'' Sayang.. Kau mau kemana?'' tanya Puspa setelah menaruh selang ke bawah tanah.
'' Mah, aku sudah memutuskan untuk mengambil studi ku di luar negeri sesuai apa yang di inginkan Ayah.'' Ucap Emily.
'' Kenapa tiba-tiba begini, bukannya kau bilang sendiri, ingin terus berada di sini bersama Mama,''
'' Iya mah, tapi Emily sudah berpikir bahwa di sana lebih baik, Emily juga bisa lebih mandiri, bukan?''
'' Ya kau benar, itu baru anak Ayah, ayah juga sudah memesankan kamar juga mencarikan dimana kampus yang bagus untuk mu di sana.'' Timpal Kemal yang baru bergabung bersama anak dan istrinya itu.
'' Sejak kapan kau menyiapkan nya?''
'' Sejak aku mengusulkan nya untuk melanjutkan pendidikannya di sana,'' jawab Kemal, ya Kemal adalah salasatu orang tua yang menginginkan anaknya menjunjung tinggi pendidikan agar nantinya tidak semata-mata mengandalkan kekayaan orang tuanya.
~~
Telpon rumah berbunyi, Puspa yang kebetulan sedang membaca majalah segera mengangkat nya, dan tersenyum setelah mendengar sang penelpon.
__ADS_1
'' Vita, ada apa? apa kau merindukanku? oh ya maafkan aku, aku belum bisa menjenguk David lagi,'' ucap Puspa.
'' Tidak apa Pu, oh ya? dimana Emily, beberapa hari ini dia tidak terlihat, biasanya dia selalu datang ke rumah sakit menemani menantu ku,'' ucap Devita di sebrang sana.
'' Oh Astaga, apa dia tidak berpamitan dengan mu.''
'' Berpamitan?''
'' Ya, kemarin sore dia pergi untuk ke Amerika, untuk melanjutkan pendidikannya.''
Obrolan kedua wanita yang tidak lagi muda itu berakhir setelah berbincang sebentar.
Di Mansion Carroll, Zahla yang sedang membantu menguleni adonan kue menunggu Devita selesai dengan telpon nya. Beberapa saat kemudian, Devita pun kembali ke dapur. '' Sayang, ternyata Emily pergi keluar negeri.'' Ucap Devita tiba-tiba.
'' Hah? luar negeri, tapi kenapa?''
Zahla terdiam, pasalnya ada sesuatu yang aneh, karena Emily yang tidak pernah membicarakan apapun tentang pendidikan nya di luar negeri dan terakhir ia bertemu Emily juga tidak berbicara apapun. Zahla merasa ada yang tidak beres.
Di tempat lain, di sebuah kediaman Heinze, Kevin yang sedang memeriksa rekaman video merasa frustasi karena apa yang di lihatnya dan di duganya bertolak belakang. Apa yang di katakan Neni pembantu rumahnya yang mengatakan kalau ia pulang bersama seorang gadis yang dia kira adalah wanita malam ternyata adalah Emily, gadis yang sejak dulu ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Sebuah alasan ia tiba-tiba bersikap dingin pada gadis itu adalah, ia menemukan kebenaran kalau Emily ternyata menyukainya melebihi seorang kakak, ya di sempat tidak percaya dengan apa yang di dengarnya namun saat dia mendengar dengan jelas ucapan Emily yang sempat tertidur di mobilnya saat pemakaman Tiara, Kevin pun memutuskan untuk menjaga jarak dengan nya.
'' Brengsek, ya aku sangat bodoh. Bagaimana bisa aku melakukan nya pada gadis itu..'' Kevin terus memaki dirinya sendiri, merutuki perbuatannya pada Emily.
Tangan nya bergerak mencari sesuatu di sakunya, ya gawainya. Mencari nama Emily untuk ia hubungi tapi sayang, nomornya tidak bisa tersambung dan Kevin pun segera mencari nomor Zahla untuk bertanya keberadaan Emily. Tapi jawaban Zahla yang mengatakan kalau Emily pergi ke luar negeri pun menambahkan rasa bersalahnya.
'' Astaga.. Emily...'' Kevin berteriak di balik telapak tangannya, ia merasa sudah menjadi monster karena sudah melakukan hal yang tidak pantas pada seorang gadis yang usia nya terpaut jauh di bawanya.
'' Aku bagai seorang pedofil, bagaimana aku menjelaskan nya pada Bibi Puspa dan paman Kemal..'' Ujarnya kemudian. '' Tapi bagaimanapun aku harus mengatakan nya pada mereka.''
__ADS_1
Kevin pun berlalu pergi dari rumahnya, mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman keluarga Lee Carroll. Ya tempat tinggal Kemal Lee Carroll dan Puspa Dewi, orang tua dari Emily.
Pikiran nya buyar, membayangkan bagaimana ia menodai kesucian gadis 19 tahun itu, melihat noda darah yang banyak pun tidak bisa ia bayangkan rasa sakit pada gadis itu.
Sesampainya ia di pelataran rumah Kemal, ia segera masuk dan bertemu seorang pekerja di sana. '' Apa bibi Puspa ada?'' tanya Kevin yang langsung di mana Puspa saat ini berada.
'' Kevin? kaukah itu, sudah lama Bibi tidak melihat mu.'' Ucap Puspa saat melihat Kevin datang ke kediamannya.
'' Apa kabar Bi?''
'' Aku baik, nak. Bagaimana kabar mu, kau sudah baik-baik saja kan?'' tanya Puspa yang mengetahui kondisi Kevin setelah di tinggal pergi dengan kekasihnya.
'' Seperti yang bibi lihat,'' Kevin terdiam sejenak ''Sepertinya bibi belum tahu apa yang sebenarnya sudah aku lakukan pada anak gadisnya'' ucap nya dalam hati.
'' Emmm oh ya Bi, kemana paman?''
'' Oh paman mu, sedang pergi melihat restoran barunya.''
'' Emmm, kalau Emily?''tanya Kevin walaupun dia tahu jawabannya.
'' Oh adik mu, sudah pergi kemarin sore ke Amerika.
'' Apa aku bisa meminta nomor barunya Bi,'' Puspa terdiam, ia merasa heran karena tiba-tiba Kevin datang kerumahnya dan menanyakan nomor telepon anaknya, tapi Puspa membuang pikiran itu jauh-jauh.
'' Oh baik sebentar,''
Setelah mendapatkan nomor baru Emily dan berbincang-bincang sebentar, Kevin pun berpamitan untuk pulang, dan pergi dari sana.
Mendapatkan perlakuan baik dari Puspa, Kevin semakin di buat merasa bersalah, bagaimana jika mereka tahu apa yang sudah di perbuat pada anak gadisnya, mungkinkah Kemal akan membunuhnya, dan Puspa mengutuk dirinya. Tapi itu dapat Kevin maklumi karena bagaimanapun anaknya sudah ternodai oleh pria yang bukan suaminya.
__ADS_1