
Daniel dan Devita keluar dari ruangan dokter dengan raut wajah yang murung, David yang melihat kedua orang tuanya keluar segera menanyakan bagaimana dan apa yang di katakan dokter, tapi keduanya hanya diam mengunci mulutnya.
'' Mom, Dad? kenapa kalian diam, ada apa?''
Daniel menatap langsung netra David yang menyimpan perasaan penuh kecemasan.
'' Masuklah, dokter ingin berbicara padamu.'' Tanpa menunggu lama, David menerobos masuk melewati kedua orang tuanya.
Daniel menarik nafas panjang, entah kenapa setelah mendengar pilihan yang di berikan oleh dokter, hatinya merasa sedih, juga kecewa.
Ya benaknya mengatakan, kenapa harus ada pilihan dan mengharuskan memilih di antara mereka, baginya keduanya penting, terlebih lagi calon cucunya yang memang ia sangat harapkan kehadirannya.
Daniel duduk di kursi ruang tunggu, kepalanya ia tundukan dalam-dalam, hatinya merasa gelisah dan itu dapat di lihat langsung oleh Devita. Wanita yang sudah menemani hidupnya selama 31 tahun itu menghampiri suaminya. Tangannya terulur mengelus pundak rentah pria paruh baya itu, memberikan senyuman tipis berharap suaminya bisa sedikit lebih tenang.
'' Kita tunggu keputusan David,'' ujar Devita.
'' Kenapa harus ada pilihan seperti itu!'' celetuk Daniel. Devita yang mendengarnya terdiam seketika.
'' Aku tidak ingin kehilangan calon cucu ku, tapi aku juga tidak mau mengorbankan ibunya.'' Lanjutnya. Devita tersentak, ia baru mengerti kemana maksud arah Daniel bicara.
'' Tapi kita tidak boleh egois, sayang. Entah bagaimana nantinya anak kita, jika separuh hidupnya pergi meninggalkannya.'' Daniel menoleh, ia membenarkan apa yang di ucapkan istrinya, tapi hatinya benar-benar egois kali ini, yang sangat ia inginkan itu adalah cucunya.
Klik
Suara pintu terbuka David keluar dengan wajah memerah, keputusasaan yang nyata ada di raut wajahnya, Devita melihat anaknya ikut merasakan kesedihan.
__ADS_1
Mata Devita turun melihat tangan David yang mengeluarkan darah segar pada buku-buku tangan nya, dengan cepat Devita berdiri dan menghampiri anaknya.
'' David, ada apa dengan tangan mu?'' tanya Devita dengan panik. Merasa khawatir Devita berniat untuk memeriksa tangan David namun di tepis nya dengan kasar.
Buggh Buughhh Buggh👊 👊👊
David kembali melayangkan pukulan ke tembok rumah sakit, dan kali ini tangannya benar- terluka parah, ia marah dengan dirinya, ia marah dengan keadaan, kenapa harus ada yang di korbankan di antara orang-orang terkasihnya. Istri atau anak? pilihan macam apa itu! ia sangat berharap keduanya bisa hadir di pelukannya, bahkan jika harus memilih ia lebih memilih dirinya lah yang celaka demi anak dan istrinya.
David!! David!!
Devita berteriak, menghalangi David untuk menyakiti dirinya sendiri, David terus memberontak, mengamuk, kursi-kursi melayang, pot bunga pun menjadi sasaran nya. Dengan susah payah Devita menghalangi nya tapi emosi David belum juga bisa terkontrol tapi setelah Daniel yang menghampirinya dan langsung memeluknya, seketika ia terdiam dan menangis sejadi-jadinya.
'' Kendalikan dirimu, nak!'' ucap Daniel yang saat ini masih mendekap erat tubuh anaknya, Devita yang melihat anaknya sedang hancur, dia pun ikut menangis. Daniel memeluk keduanya dengan erat, jika tidak memikirkan kalau dirinya harus lebih kuat dari yang lain, mungkin saja Daniel pun sudah melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan David.
David melirik ke dalam ruangan dokter, keadaan ruangan dokter yang semula tertata rapih saat ini bagaikan habis di lempari granat oleh pasukan perang dan itu dapat di pastikan ulah dari anaknya.
Mata Daniel kini beralih pada dokter yang berdiri tak jauh darinya, dan melihat di sudut bibirnya ada darah segar yang keluar dan itu juga dapat di pastikan kalau anaknya telah melampiaskan amarahnya pada sang dokter.
Satu persatu keluarga Carroll berdatangan setelah mendengar kalau Menantu dari keluarga Carroll berada di rumah sakit, Daniel meminta semuanya ikut mendoakan keadaan menantu dan calon cucunya agar bisa selamat dan berada di tengah-tengah mereka.
Ya karena menurut dokter, dari 100 persen ada kemungkinan 25 persen, Zahla dan anaknya bisa di selamatkan.
David duduk seorang diri di sudut lorong rumah sakit, suara langkah sepatu menghampiri nya terdengar, namun David tidak ada niatan sedikit pun ingin tahu siapa gerangan yang saat ini duduk di dekatnya.
Tangan seorang wanita memberikan sebuah kertas yang di lipat dan menunggu David mengambil kertas tersebut tapi David hanya mengacuhkannya. Rasanya sudah tidak ada tenaga lagi untuk berbicara juga melakukan apapun, yang ia mau saat ini adalah istri dan anaknya.
__ADS_1
'' Ambilah,'' suara lembut itu berucap.
'' Maaf kalau saya lancang, ini adalah surat yang di buat oleh tangan istri anda sendiri beberapa bulan yang lalu.'' David melirik tajam pada wanita itu yang ternyata adalah dokter kandungan Zahla, Renata.
David mengambilnya dan membuka nya dengan perlahan, membaca isi dari surat itu di dalam hatinya, urat-urat tangannya menegang, ia meremas kertas itu, kenapa istrinya tega menuliskan itu untuk nya!
Suami ku, David. Izinkan istri mu mengatakan keinginan nya melalui surat ini.
Mungkin ketika kau membaca ini, aku sedang tertidur pulas entah di atas ranjang rumah sakit atau di dalam peti yang indah, tapi aku harap kau tidak pernah menyesali apa yang aku minta.
Suamiku David, maafkan aku jika aku menyembunyikan kebenaran yang seharusnya kau tau, tapi aku senang karena kau dan semuanya bahagia dengan adanya anak yang hadir dalam rahim ku, meski nantinya aku tidak bisa melihat wajah mungil nya, hehe.
Kau tau, aku kesal sekali dengan penyakit yang mampir di rumah pertama anak mu ini, yaitu rahim ku. Dia sudah lama ada di sana, dan entah kebaikan apa yang aku buat di kehidupan ku sebelumnya, tuhan pun mengabulkan permintaan kita semua untuk kehadiran David junior yang awalnya itu bahkan sebuah mustahil terjadi.
David suamiku.. Aku minta satu permintaan terakhir ku, untuk merawat anak kita dengan sebaik-baiknya, jangan biarkan dia merasakan kesedihan ataupun kesusahan yang pernah aku alami dahulu saat aku kecil, dia harus mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, Oma nya juga Opa nya, dan juga yang lainnya, eetttss tidak ada penolakan, oke.
Berikan dia rasa nyaman, sampaikan maaf ku karena nantinya aku tidak bisa menemaninya ke sekolah, bertemu dengan teman-teman barunya, tidak bisa membantunya ketika guru nya memberikan pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan, dan itu aku serahkan semuanya padamu. Salamkan salam ku untuk Mommy dan Daddy, terimakasih sudah menjadi orangtuaku dan membiarkan aku merasakan kasih sayang orang tua yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Jaga diri mu ya, Sayang.
^^^Aku Mencintai mu^^^
^^^Zahla Putri, istri mu yang cerewet.^^^
David menangis dalam diam, dadanya terasa sesak, hatinya begitu sakit, istrinya yang sangat ia cintai rela mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan nya dan keluarga nya.
__ADS_1