Cinta Si Pria Arrogant

Cinta Si Pria Arrogant
SUARA SENAPAN??


__ADS_3

Langkah Zahla semakin dekat dengan pria yang saat ini sedang berbincang dengan seseorang itu, ia mendengar semua perbincangan nya sampai akhirnya Zahla pun merasa geram dan langsung menarik lengan orang itu dengan kasar.


'' Hei!!'' mata pria itu terbelalak setelah melihat siapa yang telah menarik lengannya.


'' Za-zahla?'' lirih pria itu dengan rasa takut dan terkejutnya, dalam benaknya bagaimana mungkin Zahla bisa berada di sana sedangkan tempat ini sangatlah jauh dari kantor maupun apartemen nya.


'' Kenapa? kaget? saya mendengar semua apa yang kalian bicarakan, saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar, tuan bos harus tau ini.'' Ucapnya dengan wajah serius.


Zahla berbalik dan berniat untuk pergi dari sana namun suara senapan terdengar jelas dan tiba-tiba Zahla ambruk dari berdiri nya dan terjatuh ke tanah yang sedikit basah.


'' Zahla!'' teriak pria itu yang langsung menghampiri Zahla yang sudah terkapar di bawah dengan kondisi tidak sadarkan diri.


'' Ck, sudahlah, jangan kau pedulikan dia, dia akan menjadi bumerang bagi kita,'' ucap pria tua yang tadi berbincang dengan nya.


'' Tapi paman, tidak seharusnya paman menembaknya kan,'' ucapnya dengan panik dan langsung membawa tubuh Zahla ke dalam mobilnya yang terparkir di depan gerbang berbahan seng itu.


'' Berlebihan sekali anak bodoh itu untuk menolong gadis rendahan seperti dia,'' gerutu pria tua itu.


Vanya yang mendengar suara tembakan dari dalam kawasan infrastruktur pembangunan gedung merasa kaget.


'' Suara senapan?'' gumam Vanya.


Keterkejutan Vanya bertambah ketika melihat tubuh Zahla yang saat ini tengah di bawa oleh seorang pria merasa bingung, karena Zahla sendiri yang menyuruh nya untuk menunggunya namun kenapa sekarang Zahla sudah tidak sadarkan diri dengan secepat itu.


'' Maaf, ini teman saya, dia kenapa? Astaga! darah!'' ucapnya dengan syok, Vanya menghadang pria itu dan melihat keadaan Zahla.


'' Kamu temannya? silahkan ikut saya tapi jika tidak, pergilah.'' Ketus pria itu.


Vanya hanya mengangguk dan membuntut dari belakang dan ikut masuk ke dalam mobil membantunya untuk menaruh Zahla di kursi belakang.


Keduanya merasa panik terlebih pria yang saat ini sedang mengemudi, sesekali ia menengok ke belakang untuk mengecek keadaan Zahla karena rasa khawatirnya pada sosok Zahla.


'' Tuan maaf, bagaimana Zahla bisa sampai seperti ini? ini darah apa? kenapa dia bisa berdarah?'' Vanya terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuat pria itu merasa bersalah dan panik.

__ADS_1


'' Diamlah dulu, yang terpenting kita bawa Zahla dulu ke rumah sakit,'' sahut pria itu yang sudah tidak bisa lagi menanggapi pertanyaan Vanya yang beruntun.


'' Astaga, La.. bangun La,'' Vanya terus menepuk-nepuk pipi Zahla berusaha untuk membuat Zahla terjaga namun usaha nya hanyalah sia-sia.


Beberapa saat kemudian, merekapun telah sampai di rumah sakit terbesar di kota itu, dengan sigapnya pria yang membawa Zahla membawanya ke gendongannya untuk menuju ke bagian UGD.


Di sudut pintu masuk rumah sakit terdapat seseorang yang memperhatikan awal kedatangan tiga orang itu, dengan mata elangnya ia terus menelitik karena merasa tidak asing dengan wajah gadis yang saat ini sedang berada di gendongan seorang pria itu.


Matanya melebar karena teringat sesuatu dan langsung menghubungi seseorang dari ponselnya.


'' Maaf tuan besar mengganggu waktu nya, saya melihat seorang gadis yang pernah di bawa tuan muda tapi sekarang tengah di bawa dengan seorang pria dan gadis sebayanya ke rumah sakit,''


'' Ya tuan besar, saya sangat yakin, tapi sepertinya keadaan gadis itu tidak baik-baik saja, karena terlihat ada bnyak darah yang membasahi pakaian nya.''


Pria berpakaian serba hitam itu pun melaporkan apa yang tengah ia lihat pada seseorang yang di panggil nya tuan besar, dan menutupnya setelah mendapatkan intruksi dari tuannya.


Zahla sudah berada di ruangan unit gawat darurat sedang dalam masa pemeriksaan, Vanya dan pria itu menunggu nya dengan cemas, mereka tidak bisa berpikir lagi yang ada di pikirannya hanya Zahla masih di periksa oleh seorang dokter di dalam sana.


'' Apa kalian keluarga pasien?'' pertanyaan dokter itu mampu membuat keduanya bungkam dan saling menatap.


'' Bukan dok, kami temannya. Bagaimana keadaan Zahla?''


'' Dia kehilangan banyak darah, dan harus segera melakukan transfusi segera, peluruh yang menembus bagian tubuhnya bersarang di sana dan kita juga harus melakukan operasi segera.''


'' Lakukan yang terbaik,'' sahut pria itu.


'' Tapi apa bisa kami bertemu dengan pihak keluarganya, karena darah yang di miliki pasien sedang tidak tersedia di rumah sakit ini,''


'' Apa jenis golongan darahnya?''


'' O- , atau apa ada di antara kalian yang memiliki darah yang sama dengan pasien?''


'' Kebetulan, golongan darah saya O- dok.'' sahut pria itu, dan dengan cepat dokter itupun melakukan tindakan karena Zahla juga sudah kehilangan banyak darah dan bisa mengakibatkan kematian jika tidak di tolong dengan segera.

__ADS_1


Tinggallah hanya Vanya seorang diri di depan ruangan UGD, ia terus berjalan mondar-mandir karena rasa syok dan cemasnya yang tercampur menjadi satu, tiba-tiba seseorang datang dan menghampiri nya dan membuat nya hampir terjatuh karena terkejut.


'' Maaf Nona membuat anda terkejut, apa yang kalian bawa tadi itu bernama Zahla Putri?'' tanyanya pada Vanya.


'' Iya benar, anda siapa?''


'' Ooh terima kasih infonya,'' tanpa mengatakan apapun lagi dan tanpa menjawab pertanyaan Vanya, orang itupun berlalu pergi dari sana dan pastinya membuat Vanya terheran-heran karena nya.


***


Di ruangan yang penuh dengan buku-buku yang tersimpan rapih di rak-rak berukuran besar itu, terdapat seorang pria yang tidak lagi muda namun masih terlihat gagah dan tampan.


Beliau baru saja melakukan panggilan dan menutupnya setelah mendapatkan informasi yang membuat dia tercengang.


Terlihat ia sedang berusaha menghubungi seseorang namun tidak kunjung di jawab. '' Anak kurang ajar, kemana dia,'' ujarnya dengan kesal dan membuat nya langsung menghubungi ke nomor lainnya.


'' Rebecca, sambungkan dengan David, sekarang juga!'' ucapnya dengan tegas.


'' Baik tuan besar,'' sahut wanita yang bernama Rebecca itu.


Beberapa saat kemudian terdengar suara yang malas-malasan untuk menjawab sambungan telepon dari nya. '' Ya Dad, ada apa?''


'' David, kau ini kemana saja!''


'' Kenapa Dad, katakanlah,''


'' Kau segeralah ke rumah sakit keluarga Carroll, kau akan tau kenapa Daddy menghubungi mu.'' Ucapnya yang ternyata dia adalah Daniel Carroll sang ayah dari David Guetta Carroll.


Daniel memutuskan sambungan telepon tanpa permisi dan menyisahkan rasa heran di benak David. Tetapi Sang Daddy tidak akan berkata seperti itu kalau tidak ada yang penting dan genting.


Dengan kilat David meraih baju tebalnya dan segera datang ke rumah sakit sesuai apa yang di katakan Daddy nya.


Di rumah sakit, seorang pria yang sedang melakukan transfusi darah itu merasa sangat menyesal karena dirinyalah sampai Zahla wanita yang selama ini berhasil mencuri perhatian nya terkapar tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2